Fenomena Fatherless: Buah Pahit Kapitalisme Sekuler dan Hilangnya Sosok Qawwam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dengan penuh keprihatinan, saya sebagai warga negeri Indonesia merasa sangat miris sekaligus khawatir membaca berita tentang meningkatnya fenomena fatherless, yaitu anak-anak yang tumbuh tanpa kasih dan bimbingan ayah.

Menurut analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, sebanyak 15,9 juta anak di Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah (fatherless). Angka ini setara dengan 20,1% dari total 79,4 juta anak berusia di bawah 18 tahun, berdasarkan olahan data Mikro Susenas BPS Maret 2024.

Hal ini juga selaras dengan pernyataan Kepala BKKBN Wihaji, yang mengutip data UNICEF (2021): sebanyak 20,9% anak Indonesia tergolong fatherless.

Sebagai gambaran, data BPS tahun 2024 mencatat 28.855 laki-laki di NTB menjadi pencari kerja, namun hanya 1.208 orang yang terserap. Artinya, puluhan ribu ayah potensial kehilangan kesempatan kerja yang layak dan memaksa sebagian untuk merantau jauh dari keluarga. Contohnya, Aulia (22), warga Blora, Jawa Tengah. Sejak kecil ayahnya bekerja di Palembang, sementara ia tinggal bersama ibunya di Blora. Ia hanya bertemu ayahnya tiga kali dalam setahun. Akibatnya, Aulia kesulitan meneladani karakter ayah secara langsung.

Ada pula Danardono (44) yang kehilangan ayah sejak usia lima tahun karena perceraian. Ia mencari figur panutan melalui buku dan komik. Jargon lawas dari komik yang dibacanya—“Cerdik seperti Wisnu, berani seperti Wisanggeni”—menjadi pegangan hidupnya.

Anak-anak seperti mereka akhirnya mencari figur ayah di luar rumah lewat teman sebaya, media sosial, atau tokoh publik yang belum tentu memberi teladan positif.

Beberapa faktor penyebab fatherless, antara lain:

1. Budaya patriarki menanamkan pandangan bahwa ayah sejati adalah yang mampu menafkahi. Padahal, pengasuhan emosional dan kehadiran ayah jauh lebih berharga dari sekadar uang.

2. Tekanan ekonomi dalam sistem kapitalisme memaksa ayah bekerja lembur atau merantau. Akibatnya, waktu bersama keluarga tersita dan hubungan emosional pun renggang.

Dua faktor ini menunjukkan bahwa sistem sosial dan ekonomi hari ini tidak berpihak pada keseimbangan peran ayah dalam keluarga.

Tantangan Baru di Era Digital

Kini anak-anak lebih dekat dengan gawai daripada dengan orang tuanya. Mereka mendapat pengasuhan digital dari YouTube dan TikTok, bukan dari orang tua.

Ironisnya, banyak ayah juga terjebak dalam dunia digital yang sama—sibuk dengan ponsel, berita, atau hiburan daring—hingga kehilangan waktu berharga untuk berinteraksi dengan anak. Padahal, interaksi sederhana seperti mendengarkan cerita sebelum tidur atau berdiskusi ringan dapat menjadi fondasi kuat bagi kepercayaan diri dan karakter anak.

Dampak fatherless (hasil survei 12 psikolog klinis):

1. Tidak percaya diri
2. Emosi dan mental tidak stabil
3. Kenakalan remaja
4. Pergaulan bebas
5. Sulit berinteraksi sosial
6. Gangguan perilaku seksual
7. Motivasi akademik rendah
8. Kesepian
9. Relasi sosial tidak sehat
10. Gangguan adiksi
11. Korban kekerasan
12. Krisis identitas

Buah dari Kapitalisme-Sekuler

Fenomena fatherless yang kian populer ini adalah buah dari sistem kapitalisme-sekuler. Sistem yang membuat ayah tersita waktunya hanya untuk mencari nafkah. Kini banyak ayah kehilangan fungsinya sebagai qawwam—pemimpin, pelindung, dan pendidik dalam keluarga.

Allah Swt. berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS an-Nisa: 34)

Teladan dari Kisah Luqman

Dalam Surat Luqman ayat 12–19, Allah mengisahkan Luqman—seorang hamba yang penuh hikmah. Ia menasihati anaknya dengan tujuh nilai utama:

1. Bersyukur kepada Allah.
2. Menjauhi syirik.
3. Berbakti kepada orang tua.
4. Jujur dan takut berbuat dosa.
5. Menegakkan salat dan amar makruf nahi mungkar.
6. Sabar menghadapi ujian.
7. Rendah hati dan sopan santun.

Masyaallah, betapa bijaknya Luqman mendidik anak—bukan dengan harta, melainkan hikmah dan keteladanan.

Peran Negara dalam Islam

Agar fenomena fatherless tidak terus berlanjut, negara harus berperan aktif dalam mendukung peran ayah dengan membuka lapangan kerja yang layak, memberikan jaminan kehidupan, dan memastikan ayah punya waktu cukup bersama anak-anaknya. Dalam sistem Islam, ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi qawwam (pemimpin, pelindung, dan pendidik keluarga).

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Negara dalam sistem Islam wajib memastikan keadilan ekonomi agar setiap ayah mampu menunaikan amanahnya tanpa kehilangan waktu berharga bersama keluarganya. Sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Penutup

Fenomena fatherless bukan sekadar masalah keluarga, tetapi cermin dari rusaknya sistem sosial dan ekonomi hari ini. Sudah saatnya para ayah kembali hadir, memimpin dengan cinta dan iman sebagaimana Luqman menuntun anaknya dengan hikmah dan keteladanan. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Muthiah Nabilah,

Sahabat Tinta Media

Views: 30

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA