Maraknya Kasus Bunuh Diri, Buah Sistem Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Miris, kasus bunuh diri kembali menggegerkan warga di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam sepekan terakhir, ditemukan dua anak yang diduga melakukan aksi bunuh diri. Kejadian ini menjadi alarm bagi orang tua, masyarakat, dan semua pihak agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak. (Kompas.id, 31/10/2025)

 

Di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto (Sumatra Barat), dua siswa SMP juga ditemukan tewas bunuh diri di sekolah selama bulan Oktober 2025. Hasil penyelidikan kepolisian menunjukkan adanya dugaan tindakan perundungan (bullying). Korban bernama Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS pada Senin (06/10/2025) malam, sedangkan Bagindo ditemukan di ruang kelas dalam posisi serupa.

 

Generasi muda sejatinya adalah agen perubahan. Namun kini, berita memilukan tentang bunuh diri di kalangan pelajar semakin sering berseliweran di media sosial. Masa remaja yang seharusnya menjadi waktu pembentukan karakter tangguh justru dipenuhi kisah putus asa. Peristiwa demi peristiwa tragis seolah menjadi santapan harian yang entah kapan akan berakhir.

 

Fakta ini menunjukkan bahwa kondisi mental generasi hari ini sangat rapuh. Banyak yang dengan mudah melakukan tindakan nekat, mengakhiri hidup karena tekanan dan keputusasaan. Lemahnya akidah menjadi salah satu akar persoalan yang membuat generasi mudah goyah. Sekolah tidak lagi menjadi tempat membentuk karakter kukuh, melainkan sekadar tempat mengejar prestasi akademik.

 

Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik hanya melahirkan generasi pekerja, bukan generasi berakhlak dan berkepribadian Islam. Pelajaran agama tidak diprioritaskan—sekadar dipelajari tanpa diamalkan. Wajar jika pelajar hari ini pintar secara akademik, namun miskin adab.

 

Paradigma Barat yang memandang kedewasaan berdasarkan usia juga keliru. Dalam pandangan Islam, anak yang telah balig harus dididik agar akalnya sempurna dan kepribadiannya matang. Bunuh diri merupakan gangguan mental yang muncul akibat lemahnya iman, ditambah tekanan lingkungan seperti masalah ekonomi, perceraian, pertengkaran orang tua, dan gaya hidup bebas.

 

Akar persoalan dari semua ini adalah sistem kapitalisme-sekuler yang menjadi pangkal kerusakan di berbagai lini kehidupan. Untuk mengatasinya, diperlukan perubahan mendasar: mengganti sistem rusak ini dengan sistem Islam.

 

Islam memiliki sistem pendidikan berbasis akidah yang menumbuhkan mental tangguh dan menjadikan individu selalu bergantung kepada Allah. Pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam—pola pikir dan pola sikap yang sejalan dengan syariat. Negara dalam sistem Islam (Khilafah) juga menjamin kebutuhan dasar rakyat, seperti sandang, pangan, dan papan. Dengan demikian, keluarga menjadi harmonis, ayah tidak terbebani mencari nafkah, dan ibu dapat fokus mendidik anak dengan nilai-nilai Islam.

 

Jika Islam diterapkan secara menyeluruh, penyakit mental dan kasus bunuh diri dapat dicegah. Kurikulum pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah akan melahirkan generasi tangguh dan bertakwa. Karena itu, perjuangan dakwah untuk menegakkan kembali institusi khilafah adalah keniscayaan.

 

Semoga Allah segera menolong kaum Muslimin dengan tegaknya Daulah Khilafah. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Dartem,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 52

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA