Banjir Terus Melanda, Butuh Solusi Pasti

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Banjir melanda beberapa daerah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 4 Maret 2025. Di antara lokasi yang terdampak, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi menjadi wilayah yang paling terpengaruh oleh bencana ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan bahwa banjir di Bekasi disebabkan oleh air kiriman dari Bogor, yang terletak di daerah pegunungan selatan. Curah hujan yang deras dan berkepanjangan di Bogor mengakibatkan air mengalir ke sungai-sungai yang bermuara di utara, termasuk di wilayah Bekasi. Ada tujuh kecamatan di Kota Bekasi yang mengalami dampak dari banjir ini, yaitu Kecamatan Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Medan Satria, Jatiasih, Pondok Gede, dan Rawalumbu.

Sedikitnya 140 unit rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 3 meter. Ketinggian tersebut cukup signifikan, karena dapat menenggelamkan atap rumah pada umumnya, atau setidaknya menyisakan lantai dua. Sementara itu, terdapat 15 unit rumah yang juga terdampak banjir, dengan ketinggian air mencapai 150 cm.

Pernyataan resmi dari Persija mengungkapkan bahwa stadion Patriot Chandrabhaga di Bekasi mengalami banjir yang menggenangi fasilitas penting. Selain stadion, beberapa fasilitas lain seperti gardu listrik, ruang genset, ruang ganti pemain, dan ruang krusial lainnya juga terendam air.

Jembatan Kemang Pratama di Kota Bekasi amblas, mengakibatkan aktivitas lalu lintas antara dua wilayah terputus. Untuk keamanan warga, akses jalan ditutup oleh pihak kepolisian.

Sebanyak 147 gardu distribusi juga terpaksa menghentikan operasinya untuk menjaga keselamatan masyarakat Bekasi yang terdampak oleh bencana ini.

Begitu pula dengan Pusat perbelanjaan Mega Bekasi Hypermall, area parkiran hingga lantai dasar mall ini terendam air. Barang-barang para pedagang di kios lantai dasar juga ikut hanyut terbawa air. Mobil di parkiran terendam sepenuhnya oleh air, hanya terlihat bagian atapnya saja.

RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid atau RSUD Bekasi mengalami hal yang sama. Layanan MRI, CT Scan, Cath lab, HD, dan layanan IRM yang menggunakan sumber daya listrik di RSUD ini menjadi terganggu karena listrik padam. Sementara seluruh layanan lain berjalan normal.

Stasiun Bekasi juga mengalami pemadaman listrik yang cukup mengganggu. Namun, situasi tersebut segera ditangani dengan menggunakan generator set. Akibatnya, beberapa fasilitas stasiun harus dinonaktifkan, termasuk lift untuk penumpang disabilitas dan eskalator.

Terjadi kepadatan kendaraan mencapai 6 km di pintu keluar Tol Bekasi Barat akibat banjir yang menggenangi jalur arteri atau jalan umum. Untuk mengatasi situasi ini, pihak kepolisian telah melakukan rekayasa lalu lintas (detiknews.com, 5/3/2025).

Banjir sering kali membawa dampak yang serius, terutama ketika melanda kawasan permukiman yang berada di dataran rendah yang rentan terhadap banjir. Bencana ini bukanlah hal yang baru. Hampir setiap musim penghujan, fenomena banjir menjadi masalah yang selalu muncul.

Risiko ekonomi dan sosial yang ditimbulkan sudah sangat besar dan sulit untuk dihitung. Sementara itu, masyarakat terpaksa menerima keadaan ini dengan alasan bahwa semua itu merupakan dampak dari faktor alam. Padahal, penyebab banjir tidak hanya terbatas pada faktor alam semata.

Curah hujan yang tinggi seharusnya tidak menjadi masalah jika taman hutan tetap terjaga, tanah resapan tidak ditutupi beton, daerah aliran sungai dilindungi dari abrasi, dan sistem drainase dirancang secara terintegrasi.

Eksploitasi lahan tambang, perubahan fungsi lahan, dan penebangan hutan semakin menunjukkan tanda-tanda ketidakterkendalian yang nyata. Penurunan permukaan tanah kian parah disebabkan oleh penggunaan air tanah yang berlebihan untuk mendukung pembangunan perumahan elit dan proses industrialisasi. Hal ini juga berdampak pada kondisi sungai.

Dalam sistem kapitalisme, negara berfungsi sebagai alat untuk memuluskan kebijakan dan praktik pembangunan yang sebenarnya hanya memenuhi ambisi para pemilik modal. Bagi mereka, keuntungan materi menjadi segalanya.

Meskipun dampak dari kebijakan tersebut dapat merusak alam, lingkungan, dan kemanusiaan, negara menjadi kehilangan kemampuannya untuk berperan sebagai pengelola dan pelindung masyarakat. Situasi ini tak terelakkan karena negara dan para penguasa cenderung mewakili kepentingan para pengusaha.

Sebenarnya, dunia ini sangat memerlukan sistem Islam. Dalam sistem kapitalisme, kebijakan yang diambil oleh penguasa, yang sering kali mewakili kepentingan para pemilik modal, justru menjadi sumber kerusakan. Sebaliknya, sistem Islam dibangun atas dasar keimanan dan kepatuhan kepada Zat Pencipta dan Pemelihara seluruh alam.

Ajaran Islam benar-benar mengajarkan harmoni dan keseimbangan. Adab terhadap alam bahkan dinilai sebagai bagian dari iman. Semuanya bisa berjalan saat syariat Islam diterapkan secara keseluruhan.

Allah Taala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf: 96, yang artinya:

“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun, karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami menyiksa mereka akibat perbuatan mereka.”

Fungsi pemerintahan Islam (Khilafah) sejatinya mencerminkan esensi penghambaan. Oleh karena itu, setiap orang yang merusak keseimbangan alam akan dianggap sebagai pelaku kejahatan dan diangap melakukan kemaksiatan dan akan mendapat sanksi. Dalam pandangan Islam, seorang penguasa memiliki peran yang sangat penting sebagai pengelola dan pelindung umat.

Terdapat dua aspek yang dapat menjadi mekanisme dalam penanggulangan banjir musiman yang kerap terjadi ini.

Pertama, dari segi akidah, kita menyadari bahwa bencana alam merupakan ujian yang berasal dari Allah. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk senantiasa memohon pertolongan-Nya dan memohon agar diberikan kesabaran dalam menghadapi setiap cobaan yang datang.

Kedua, negara akan melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah rendah yang rentan terhadap genangan air dan membangun saluran baru untuk mengalihkan atau menyerap air di area tersebut secara optimal dengan membangun bendungan, kanal, melakukan reboisasi tanaman yang dapat menyerap air, dan menjaga lingkungan. Selain itu, daerah cagar alam, hutan, gunung, dan sungai yang perlu dilindungi tidak boleh dimanfaatkan tanpa izin, dan akan diterapkan sanksi berat bagi siapa saja yang merusak lingkungan hidup.

Nasib negeri ini sungguh menyedihkan. Sistem yang tidak mendukung keberkahan ini jelas takkan membawa perubahan yang positif. Sistem kufur juga menghasilkan pejabat-pejabat yang tidak dapat dipercaya dan menjalankan tugasnya dengan sambil lalu.

Sungguh, kita semua tentunya menginginkan sebuah negeri yang aman, damai, serta bebas dari bencana dan bahaya. Inilah negeri impian yang diharapkan setiap orang.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki visi ideologi Islam dalam pembangunan negeri ini. Dengan visi tersebut, potensi yang ada tidak hanya akan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi aset berharga bagi generasi mendatang. Sayangnya, sulit untuk diwujudkan visi ini dalam kerangka kapitalisme yang kerap kali sarat dengan eksploitasi.

Oleh karena itu, saatnya kita kembali kepada sistem yang ditetapkan oleh Sang Pencipta alam semesta, yaitu Islam. Dengan menerapkan sistem Islam, segala sesuatu akan berjalan dengan lebih baik.
Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

Oleh: Azizah
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 9

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA