Bullying Tak Kunjung Usai: Buah dari Sistem Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Terjadi kembali tragedi kemanusiaan pada November 2025 lalu, dan baru terungkap ke publik baru-baru ini. Kasus bullying yang menimpa tiga santri di salah satu pondok pesantren di Desa Mantang, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga sengaja dilakukan oleh senior mereka dengan cara dibakar karena korban berani melaporkan kasus bullying yang dilakukan seniornya kepada pihak pondok pesantren. Akibatnya, ketiga santri tersebut mendapatkan amarah dari seniornya hingga terjadi perundungan yang mengakibatkan dua santri mengalami luka bakar berat hingga 80% di tubuhnya dan satu santri dikabarkan meninggal pada Ramadan 2026 lalu.

Usai kejadian, pihak pondok pesantren memberikan informasi yang berbeda kepada keluarga korban. Pihak pesantren menyebutkan bahwa ketiga santri tersebut terluka akibat terkena api saat sedang bermain bakar-bakar sampah di luar area asrama. Namun, kebenaran baru terungkap beberapa hari kemudian, setelah kondisi fisik para korban kembali stabil. Mereka menceritakan hal yang sama, yaitu adanya unsur kesengajaan dan penganiayaan oleh kakak kelas mereka (Kompas.com).

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat lonjakan kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang tahun 2026. Jumlah kasus meningkat menjadi 60 kasus, naik tajam dibandingkan 36 kasus pada tahun 2024 dan 15 kasus pada tahun 2023. Dari kasus-kasus tersebut terdapat 358 korban dan 126 pelaku.

Meningkatnya kasus perundungan menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan masih menghadapi persoalan serius terkait keamanan dan perlindungan peserta didik. Apalagi di lingkungan pesantren, tantangan itu terasa lebih berat. Para santri tinggal bersama selama 24 jam sehingga interaksi antar-santri berlangsung terus-menerus dan berpotensi memunculkan perundungan jika tidak ada pengawasan yang baik dari pihak pondok pesantren.

Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari sangat memengaruhi pembentukan karakter generasi saat ini. Ketika nilai-nilai agama tidak menjadi landasan, hal itu membuat banyak generasi muda menjadi pribadi yang berperilaku kasar, memiliki kecenderungan menindas, serta melakukan kekerasan fisik maupun nonfisik. Dalam hal ini, pemisahan agama dari kehidupan sehari-hari menjadi pembuka bagi perilaku menyimpang dan bullying.

Sistem pendidikan sekuler saat ini juga hanya berorientasi pada pencapaian akademik dan materi semata. Sekolah dipandang hanya untuk mendapatkan ijazah dan bekerja, hingga melupakan bahwa pembentukan karakter harus dibangun agar tidak terjadi kerusakan generasi seperti saat ini.

Generasi muda merupakan pelopor peradaban yang harus dibentuk dengan syahsiah islamiah hingga menjadi generasi yang memiliki akidah dan akhlak yang kuat. Dengan demikian, tidak akan terjadi kekerasan dan senioritas negatif di lingkungan pendidikan.

Negara pun harus memiliki andil dalam menciptakan generasi emas dan optimal dalam menjalankan perannya sebagai pelindung generasi. Kasus bullying yang terus meningkat setiap tahun menunjukkan bahwa penanganannya belum maksimal.

Negara harus memberikan penanganan yang mengakar agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak seharusnya terjadi di lingkungan pendidikan. Negara juga harus tegas dalam memberikan sanksi kepada pelaku bullying, tidak bersembunyi di balik alasan “pelaku masih di bawah umur” sehingga tidak ada ketegasan dalam pemberian sanksi. Hal ini mengakibatkan bertambahnya kasus serupa karena tidak ada efek jera dari sanksi yang diberlakukan.

Perlu kita ketahui bahwa dalam perspektif Islam, bullying dianggap sebagai perbuatan dosa. Karena itu, penguatan keimanan dan ketakwaan yang kokoh akan menjadi benteng dalam diri setiap generasi ketika berpikir dan berperilaku. Generasi yang memahami bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah akan terhindar dari perilaku kekerasan dan perundungan.

Dalam Islam juga terdapat pelindung bagi generasi, yaitu Khilafah. Khilafah adalah negara yang menerapkan sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam.[]

Oleh: Ikfa
Muslimah Peduli Generasi

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA