Perundungan Berulang di Lingkungan Pesantren, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pesantren selama ini dikenal sebagai kawah candradimuka yang melahirkan generasi berakhlak. Namun, di balik suasana asrama yang padat hafalan dan ngaji, ada persoalan yang jarang disorot: bullying. Perundungan nyata terjadi di pesantren dan dampaknya jauh dari kata sepele.

Berbagai kajian menunjukkan, kekerasan di sekolah berasrama, termasuk pesantren, muncul dalam banyak rupa. Mulai dari budaya senioritas yang menyimpang, sanksi fisik tanpa prosedur dari kakak kelas, isolasi santri baru, sampai hinaan verbal yang dilabeli “adat”. Efeknya bisa berat: trauma psikis berkepanjangan, santri memilih kabur dari pesantren, bahkan ada kasus yang berujung kehilangan nyawa.

FSGI mencatat 60 insiden kekerasan di lembaga pendidikan sepanjang 2025. Jumlah ini jauh naik dibandingkan 36 insiden pada 2024 dan 15 insiden pada 2023. Total tercatat 358 korban dengan 126 terduga pelaku. KPAI menilai asrama termasuk zona rawan kekerasan.

Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pengawasan orang tua dan interaksi sosial antar santri yang sangat padat. Santri baru yang pertama kali lepas dari rumah harus beradaptasi dengan ratusan orang baru sambil menanggung beban hafalan dan disiplin ketat. Itu merupakan kondisi yang mudah memicu luka. Kerumitannya bertambah karena banyak kejadian tak sampai ke laporan. Semboyan “sabar dan diam” sering keliru dimaknai sebagai ikhlas. Padahal, bungkam bukan berarti hati tidak sakit.

Al-Qur’an tegas melarang merendahkan orang lain:
“Wahai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…” (QS Al-Hujurat: 11)

Larangan ini tidak terbatas pada ejekan. Maknanya meliputi segala bentuk pelecehan, pengerdilan martabat, dan kekerasan, baik fisik maupun lisan. Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa muslim sejati adalah yang membuat muslim lain aman dari lisan dan tangannya. Karena itu, dalih “itu tradisi pesantren” gugur jika tradisinya menyakiti. Adat yang menzalimi harus dicabut, bukan dipertahankan.

*Penyelesaian Perspektif Islam*

Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, pendidikan sekuler lahir. Sistem ini mengejar capaian akademik dan keuntungan materi, bukan pembentukan syahsiah islamiah. Akibatnya, karakter generasi lemah, budaya senioritas negatif mengakar, dan kekerasan tumbuh di lingkungan belajar.

Negara pun gagal menjalankan fungsi sebagai raa’in, pelindung umat. Kasus bullying terus naik tiap tahun, tetapi responsnya hanya reaktif dan tambal sulam tanpa menyentuh akar masalah. Parahnya, hukuman bagi pelaku tidak tegas dan tidak menimbulkan efek jera. Dalih “pelaku masih anak” sering dipakai untuk melepaskan hukuman. Wajar jika kasus berulang dan eskalasinya makin buruk.

Dalam Islam, perundungan adalah dosa. Keimanan dan takwa yang kokoh menjadi pengendali internal saat berpikir dan berbuat. Negara Khilafah menerapkan sistem pendidikan berfondasi akidah Islam untuk mencetak generasi mulia akhlaknya, bukan hanya unggul nilai.

Khilafah juga memberlakukan sanksi tegas uqubat yang berfungsi zawajir dan jawabir bagi pelaku kekerasan. Tujuannya memberi efek jera dan memutus mata rantai bullying. Dalam Islam tidak ada wilayah abu-abu usia: setiap muslim yang balig sudah memikul taklif atas tindakannya. Konsep Khilafah menempatkan negara sebagai pihak utama yang membentuk masyarakat berakhlak Islam. Pendidikan tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi juga menempa kepribadian Islam.

Peran negara meliputi:

– merancang kurikulum yang berlandaskan akidah Islam;
– mengawasi pesantren dan sekolah berasrama secara ketat;
– menyediakan guru serta pembina yang kuat ilmu dan akhlaknya;
– menindak setiap bentuk kezaliman yang mengancam keselamatan santri.

Dalam sistem Khilafah, pendidikan adalah kebutuhan pokok umat. Karena itu, negara memikul tanggung jawab penuh atas mutu pembinaan generasi.[]

Oleh: Desi T. Wulandari
Sahabat Tinta Media Sidoarjo

Loading

Views: 29

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA