Deflasi Berkelanjutan, Indonesia kian Memprihatinkan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Deflasi Berkelanjutan, Indonesia kian Memprihatinkan

Tinta Media – Dikutip dari bbc.com (04/10/24). Muhammad Andri Perdana
seorang ekonom dari mereka yang Bright Institute mengatakan bahwa terjadinya
deflasi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024 menunjukkan
dengan sangat jelas bahwa masyarakat dari kelas pekerja sudah tidak mampu lagi
untuk belanja sebab pendapatan  mereka
yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

Kendati demikian, Bank sentral justru malah meminta
masyarakat agar lebih banyak lagi dalam berbelanja. Hal tersebut dilakukan demi
mendorong pertumbuhan ekonomi lebih dari 5%. Namun hal itu tampaknya mustahil
terwujud. Sebab faktanya, hampir semua sektor industri melakukan Pemutusan Hak
Kerja (PHK) yang nantinya pasti akan berdampak pada anjloknya daya beli.

Dampak dari deflasi sungguh telah dirasakan oleh masyarakat,
terlebih para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Banyak dari mereka yang
mengeluh tentang sepinya pembeli belakangan ini. Hal ini tentu sangat
meresahkan. Sebab dari sanalah mereka dapat bertahan hidup dengan terpenuhinya
kebutuhan.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mencatat bahwa
Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,12% pada September 2024. Menurut
pengamatan, ini merupakan deflasi kelima secara berturut-turut di tahun 2024.
Bahkan menjadi deflasi terparah dalam lima tahun terakhir pemerintahan presiden
Joko Widodo.

Persoalan deflasi ini ramai dikritisi oleh para ekonom,
Muhammad Faisal mengatakan bahwa deflasi lima bulan berturut-turut kali ini
sangat “mengkhawatirkan”. Sebab, negara yang tingkat pertumbuhan ekonominya
diangka 5% seperti Indonesia ini semestinya tidak mengalami deflasi yang
disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat.

Para ekonom mengatakan bahwa PHK merupakan masalah struktural
serta akibat dari investasi yang tidak berpihak pada masyarakat. Terlebih
lapangan kerja yang ada saat ini sangatlah terbatas, sehingga sulit untuk
meningkatkan kembali penghasilan masyarakat. Menurut mereka, lebih sulit
mengatasi deflasi daripada menurunkan inflasi yang bersumber dari penurunan
daya beli masyarakat.

Tindakan Pemerintah terhadap deflasi

Adanya indikasi “ekonomi sulit” atau “pekerjaan formal
susah” diakui oleh penasihat ekonomi tim Prabowo-Gibran. Sesuai dengan apa yang
dikeluhkan oleh masyarakat dalam menanggapi persoalan tersebut, Dradja Wibowo
selaku penasihat ekonomi tim Prabowo Gibran mengatakan bahwa tim mereka akan
meninjau kembali kebijakan yang dapat memberatkan konsumen dari kelas menengah,
seperti penerapan PPN 12%.

Selain meninjau ulang, mereka juga berencana memperbanyak
pelatihan untuk vocational kills bagi para anak muda. Baik itu untuk pekerjaan
mekanik, industri, hingga berbagai jasa. Dan yang terakhir, sebagai salah satu
dari langkah dalam menanggapi persoalan tersebut ialah penggunaan standarisasi
untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Turunnya daya beli masyarakat juga konsumsi mereka,
mengakibatkan kinerja perekonomian Indonesia menurun dan melemah. Sebab kinerja
perekonomian Indonesia sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga.
Namun, bagaimana bisa masyarakat meningkatkan kembali daya beli dengan harga
yang terbilang lebih murah jika mereka tidak memiliki penghasilan yang cukup
mendukung daya beli tersebut?

Indikasi ketidakmampuan pemerintah?

Persoalan deflasi ini tiada lain merupakan indikasi
ketidakmampuan pemerintah dalam mengatasi penurunan daya beli masyarakat yang
pada akhirnya berdampak pada penurunan harga barang dan jasa, kemudian disusul
dengan pengurangan produksi tatkala penurunan daya beli tersebut berlangsung
dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang lebih parah ending dari persoalan
deflasi tersebut berlabuh pada PHK massal dari perusahaan terhadap para pegawainya.
Sehingga masyarakat terombang-ambing karena tidak dapat memenuhi kebutuhan
hidup mereka.

Solusi yang disuguhkan pemerintah tampaknya tak pernah
mengakar dan solutif. Solusi yang ada justru sering kali membuat kehidupan
masyarakat semakin sengsara. Bagaimana mungkin penguasa yang menjabat hanya
demi kepentingan pribadinya dengan penuh rasa tanggung jawab menggurui umat
dengan kebijakan yang benefitnya kembali sepenuhnya pada umat pula. Dan
bagaimana mungkin pula sistem yang berasaskan akal manusia serta penafian
syariat Allah dalam aspek kehidupan mampu melahirkan solusi yang bermutu serta
jitu?

Turunnya harga barang dan jasa sekilas memang terlihat indah
dan menguntungkan masyarakat, namun jika disertai dengan lemahnya daya beli
sebab pendapatan masyarakat yang kian menurun faktanya menjadi persoalan besar
yang menyangkut keberlangsungan serta kesejahteraan hidup masyarakat.

Kapitalisme kian menunjukkan makarnya. Kerusakan bertebaran
di mana-mana, solusi  yang ada jelas
menimbulkan kerusakan yang kian merajalela dan membuat binasa. Rakyat menjadi
korban utama para tikus-tikus berdasi yang rakus akan kekuasaan dan tumpukan
cuan yang didapat dengan cara yang bejat dan menyayat rakyat.

Solusi hakiki dalam mengatasi deflasi

Deflasi yang merupakan persoalan terkait penurunan harga
barang dan jasa secara terus menerus, bahkan dianalisis sebagai indikator bahwa
pendapatan masyarakat kian menurun hingga tidak memiliki daya beli tidak dapat
diselesaikan dalam penerapan sistem kufur kapitalis sekuler.

Islam sebagai agama sekaligus ideologi, memiliki aturan yang
dibuat langsung oleh pencipta semesta alam. Islam mengatur sistem ekonomi
dengan begitu cantik dan tertata, yang tentunya pula bertolak ukur pada hukum
syara yang telah ditetapkan.

Sistem ekonomi dalam Islam akan menyiapkan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat, mengatur jalannya perindustrian dan segala hal yang
berkaitan dengan aspek ekonomi, sehingga deflasi berkelanjutan tidak mungkin
terjadi. Sebab Islam akan terus mempertahankan nilai mata uang, yakni mata uang
yang ada nanti berupa dinar dan dirham.

Maka dari itu, penerapan syariat Islam secara total dalam
bingkai khilafah menjadi suatu hal yang bersifat urgen. Sebab kesejahteraan
masyarakat hanya dapat terwujudkan dengan adanya penerapan syariat Islam secara
total di segala aspek kehidupan. Wallahu a’lam bish showwab.

Oleh: Nabilah Nursaudah, Sahabat Tinta Media 

Loading

Views: 14

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA