Gizi Anak Terbengkalai, Bukti Nyata Negara Lalai

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – “Aku khawatir akan tiba hari dimana orang-orang yang tidak beriman merasa bangga dengan kedustaannya, sementara orang-orang yang beriman merasa malu dengan keimanannya.” (Umar Bin Khattab)

Sungguh ironi, perkataan dari Amirul Mukminin Umar Bin Khattab benar-benar terjadi pada zaman ini. Dunia ini seakan dipenuhi dengan wajah-wajah para pendusta yang bangga akan dosa-dosa yang mereka perbuat. Para pemimpin pun kini hanyalah bagaikan sebuah “regulator” bagi para pengusaha. Mau dibawa ke mana arah bangsa ini?

Keracunan pada Siswa Kian Merebak

Keracunan siswa lagi-lagi terjadi di delapan sekolah di Bogor. Tercatat hingga tanggal 9 mei, jumlah korban telah mencapai 210 orang. Kini program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dioperasikan menjadi sorotan sebagai salah satu penyebab terjadinya keracunan tersebut.

Dinas kesehatan masih melakukan berbagai investigasi menyeluruh, guna mengetahui akar dari permasalahan ini. Namun, pihak Dinas Kesehatan belum juga memberikan klarifikasi apa pun terkait hasil dari investigasi tersebut.
(www.cnnindonesia, 11/05/2025)

Di sisi lain, pihak dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) malah mengklaim bahwa program makan bergizi gratis ini rencananya akan mendapatkan jaminan asuransi. Ogi Prastomiyono, selaku ketua eksekutif dari salah satu program perasuransian buka suara. Beliau menyatakan terkait adanya pihak-pihak yang sedang menyusun proposal untuk pengajuan adanya asuransi bagi program MBG.

Fakta lain menyebutkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) telah melampirkan gagasan-gagasan guna menambah perluasan skema asuransi yang tidak hanya diberikan kepada siswa terkait. Akan tetapi, dengan anggaran Rp15.000 ini diharapkan akan dapat meng-cover beberapa aspek. Di antaranya, perlindungan nonmedis, untuk orang tua terdampak.
(www.finansial.bisnis.com, 11/05/2025)

Jika kita pelajari lebih dalam, keracunan makan bergizi gratis bisa terjadi akibat industri kapitalis yang lebih mengutamakan keuntungan daripada keselamatan dan kesehatan masyarakat. Sebagai informasi tambahan, tercatat per mei 2025 sudah terdapat 1.315 korban yang mengalami keracunan setelah menerima paket makan bergizi gratis. Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit.

Mengapa semua itu dapat terjadi? Bagaimana tidak, mengingat anggaran makan bergizi gratis yang mencapai Rp1 triliun hingga Rp2 triliun perbulan membuat para korporasi memutar kepala agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Mereka dengan giat memangkas anggaran untuk keperluan-keperluan yang tidak penting. Hal tersebut menandakan bahwa program ini perlu mendapatkan evaluasi dan tindakan tegas dari seluruh pihak terkait. Pada akhirnya, rakyatlah yang lagi-lagi harus menanggung risiko dan dampak dari orang-orang yg tidak bertanggung jawab.

Alih-alih memberi solusi, negara malah berlepas tangan, bahkan mengusulkan asuransi MBG yang makin menunjukkan komersialisasi risiko. Padahal, adanya gagasan tersebut diperkirakan hanya akan menambah permasalahan lain di kemudian hari. Ini bukanlah suatu solusi preventif bagi rakyat.

Negara yang menjadikan kapitalisme sebagai landasan telah gagal menjamin kualitas gizi generasi. Pasar bebas dengan leluasa menerima produk-produk berbahaya beredar luas tanpa kontrol ketat. Alhasil, hari ini banyak sekali generasi muda kita yang sakit karena sudah terpapar racun akibat dari kelalaian dan kerakusan pemerintah.

Selain itu, kapitalisme juga telah gagal dalam menyejahterakan rakyat. Terbukti dengan lapangan kerja yang minim. Tindak kejahatan dan kriminalitas semakin meningkat, karena tingkat kemiskinan dan depresi yang tinggi pada masyarakat.

Islam sebagai Solusi

Allah Swt. telah menurunkan Islam sebagai satu-satunya agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Khilafah Islamiyah pada akhirnya dibutuhkan sebagai solusi komprehensif. Khilafah akan mengatur ekonomi dan kehidupan rakyat berdasarkan syariat Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dalam Islam, pemerintah bertanggung jawab penuh atas keamanan pangan dan gizi masyarakat, bukan malah diserahkan kepada mekanisme pasar atau korporasi. Khalifah yang merupakan pemimpin akan senantiasa berjuang demi terwujudnya masyarakat yang sehat. Pemimpin akan menyortir bahkan menolak produk-produk asing yang masuk jika akan membahayakan kondisi kesehatan rakyat.

Islam senantiasa memperhatikan kesejahteraan rakyat. Sebelum membuat suatu kebijakan, seorang pemimpin haruslah melihat akar permasalahan yang terjadi dalam suatu negara. Dalam kasus ini, akar permasalahannya ada pada kepala keluarga yang tidak memiliki penghasilan tetap, atau bahkan tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Maka, sebagai langkah awal, Daulah Khilafah nantinya akan menjamin terbukanya lapangan kerja yang luas melalui pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan sektor produktif. Setelah itu, semua kepala keluarga diwajibkan untuk bekerja sesuai dengan potensi yang mereka miliki agar para kepala keluarga bisa menafkahi dan mencukupi kebutuhan keluarganya, terutama kebutuhan gizi yang cukup untuk anggota keluarganya.

Khilafah akan bekerja keras untuk sesegera mungkin mengembalikan kondisi negara yang “bermasalah” menjadi negara yang penuh “berkah”. Pemimpin dalam Islam akan menata dan memperbaiki kembali tatanan masyarakat yang sudah rusak menjadi masyarakat yang beriman dan bertakwa, menerapkan seluruh syari’at Allah di setiap penjuru bumi. Wallahu’alam.

 

Oleh: Novitasari

Sahabat Tinta Media

Views: 28

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA