Tinta Media – Idul Fitri seharusnya menjadi hari penuh kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia. Akan tetapi, bagi warga Palestina, hari kemenangan itu kembali diwarnai dengan kesedihan dan penderitaan akibat agresi para Zionis yang tak kunjung usai.
Pada 30 Maret 2025, Tempo melaporkan bahwa serangan udara para Zionis menewaskan sembilan warga Palestina, termasuk lima anak-anak, di Gaza. Serangan ini terjadi tepat saat warga Palestina merayakan Idul Fitri, menambah panjang daftar korban dalam konflik yang terus berlanjut.
Selain korban jiwa, dampak serangan ini juga menghancurkan berbagai infrastruktur vital di Gaza. Serangan udara tersebut menyebabkan kehancuran luas pada rumah-rumah warga, fasilitas kesehatan, serta pasokan listrik dan air bersih. Kondisi ini membuat ribuan warga Palestina hidup dalam ketakutan dan kesulitan, bahkan pada hari yang seharusnya menjadi momen perayaan. (CNN Indonesia, 1/04/2025)
Di tengah situasi yang penuh ancaman, ribuan warga Palestina tetap berusaha melaksanakan salat Id di Masjid Al-Aqsa, meskipun menghadapi pembatasan ketat dari pasukan Zionis. Militer Zionis memperketat akses ke kompleks suci tersebut, menghambat pergerakan warga Palestina yang ingin beribadah. Bagi mereka, keberadaan di Masjid Al-Aqsa bukan hanya wujud ibadah, tetapi juga simbol perlawanan terhadap penindasan. (CNN Indonesia, 31/3/2025)
Bukan hanya di Palestina, penderitaan serupa juga dirasakan oleh para pengungsi di berbagai belahan dunia. Pada 1 April 2025, Metro TV News mencatat bahwa ratusan ribu pengungsi Palestina di kamp pengungsian Wihdat, Yordania, merayakan Idul Fitri dalam kondisi serba kekurangan. Mereka hidup dengan akses terbatas terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan yang memadai. Jauh dari tanah air, mereka menjalani Idul Fitri dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.
Lebih menyedihkan lagi, serangan tentara Zionis terhadap Palestina tidak hanya terjadi saat Idul Fitri. Pada 29 Maret 2025, Antara News melaporkan bahwa agresi militer Zionis di Gaza telah berlangsung sejak Ramadan dan terus berlanjut hingga Syawal. Bulan suci yang seharusnya menjadi waktu kedamaian bagi umat Islam justru dipenuhi dengan ketakutan dan kehilangan.
Potret Kegagalan Sistem Global
Tragedi yang terus berulang di Palestina menjadi bukti nyata kegagalan sistem global dalam melindungi hak asasi manusia dan menegakkan keadilan. Meskipun berbagai organisasi internasional, termasuk PBB, telah mengeluarkan resolusi dan seruan untuk menghentikan kekerasan, kenyataannya tidak ada langkah nyata yang mampu menghentikan agresi Zionis. Ini menunjukkan bahwa sistem hukum dan politik internasional yang saat ini berlaku tidak memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan sejati bagi rakyat Palestina.
Selain itu, dominasi sistem kapitalisme sekuler dalam politik global telah menciptakan ketimpangan yang besar. Negara-negara besar yang memiliki pengaruh justru sering kali mendukung Zionis, baik secara diplomasi maupun militer, sehingga konflik ini terus berlanjut tanpa penyelesaian. Dukungan finansial dan militer yang diberikan kepada Zionis oleh beberapa negara besar semakin memperburuk situasi, sementara rakyat Palestina terus menjadi korban tanpa perlindungan yang memadai.
Dari perspektif umat Islam, penderitaan yang terus dialami oleh rakyat Palestina menjadi cermin dari kelemahan dunia Islam dalam menghadapi ketidakadilan global. Ketika negara-negara muslim terpecah dan lebih mementingkan kepentingan politik serta ekonomi masing-masing, rakyat Palestina dibiarkan berjuang sendiri melawan penjajahan yang semakin brutal.
Menegakkan Khilafah sebagai Perlindungan Hakiki bagi Umat Islam
Tragedi yang terus menimpa rakyat Palestina dan umat Islam di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa umat ini tidak memiliki pelindung yang mampu menjaga kehormatan, jiwa dan harta mereka. Tidak adanya institusi politik yang benar-benar membela hak-hak umat Islam membuat mereka terus menjadi sasaran kezaliman tanpa perlindungan yang nyata. Oleh karena itu, umat harus semakin yakin bahwa fajar kemenangan Islam semakin dekat, dan satu-satunya solusi hakiki bagi umat Islam adalah kembalinya khilafah. Hanya dalam naungan sistem Islam yang diterapkan secara kaffah, umat dapat merasakan kebahagiaan yang sejati, yakni kebahagiaan yang tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga bernilai ibadah karena mendatangkan rida Allah.
Khilafah adalah institusi yang secara historis telah terbukti mampu melindungi umat Islam dan menegakkan keadilan. Ketika khilafah masih tegak, negeri-negeri muslim terlindungi dari penjajahan dan agresi seperti yang saat ini terjadi di Palestina. Tanpa adanya Khilafah, umat Islam menjadi tercerai-berai dan lemah, sehingga mudah ditindas oleh musuh-musuhnya.
Oleh karena itu, umat Islam harus menyadari bahwa perjuangan menegakkan khilafah bukan hanya kebutuhan, tetapi juga kewajiban. Khilafahlah yang akan menjadi pelindung sejati umat Islam, menjaga darah dan kehormatan mereka dari serangan musuh, serta memastikan penerapan syariat Islam secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mewujudkan hal ini, harus ada jamaah dakwah yang membangun kesadaran umat tentang pentingnya khilafah. Jamaah ini harus terus menyeru kepada umat agar memahami bahwa kehidupan Islam hanya bisa berlangsung dengan penerapan hukum Allah secara kaffah di bawah naungan khilafah. Dakwah harus dilakukan secara masif, baik melalui pendidikan, kajian keislaman, media, maupun gerakan intelektual yang membangun pemikiran Islam yang benar di tengah umat. Kesadaran ini akan menjadi pemantik bagi umat untuk tidak hanya memahami pentingnya khilafah, tetapi juga siap berjuang secara serius untuk menegakkannya.
Perjuangan menegakkan khilafah harus menjadi agenda utama umat Islam. Tidak boleh ada lagi perpecahan, ketergantungan kepada sistem sekuler yang gagal, atau ketakutan terhadap tekanan dari musuh-musuh Islam. Umat Islam harus bersatu, bahu membahu dalam perjuangan ini, karena hanya dengan khilafah, umat akan mendapatkan kembali kemuliaannya.
Sejarah telah membuktikan bahwa selama lebih dari 13 abad, khilafah menjadi pelindung dan pemimpin dunia, membawa keadilan, kesejahteraan, serta menyebarkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia. Kini, saatnya umat Islam kembali mengambil peran itu, dengan menjadikan tegaknya khilafah sebagai misi utama dalam kehidupan mereka.
Jika umat Islam bersungguh-sungguh dalam perjuangan ini, maka kemenangan Islam bukan sekadar angan-angan, tetapi sebuah kepastian yang akan segera terwujud. Idul Fitri yang penuh penderitaan bagi rakyat Palestina saat ini harus menjadi pemicu bagi umat Islam untuk bangkit, menyadari bahwa hanya dengan tegaknya khilafah, umat akan meraih kemenangan sejati dan merasakan kebahagiaan yang hakiki di bawah naungan rida Allah.
Oleh: Khadijah Ummu Hannan
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 10
















