Islam Jaga Ibu: Hilangkan Tindakan Gegabah di Tengah Sistem yang Tidak Ramah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di awal tahun 2026, kita kembali dikejutkan dengan peristiwa bunuh diri di Kebumen. Seorang ibu mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Mirisnya, ia juga mengakhiri hidup anaknya yang masih berusia lima tahun dengan cara yang sama. Aksi nekat ini disebabkan oleh depresi hebat yang dialami sang ibu karena impitan ekonomi dan ditinggal suami yang menikah lagi (Metro TV, 10/01/2026).

Kasus semacam itu sudah terjadi berulang kali. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus tersebut termasuk dalam kategori filisida maternal, yaitu tindakan sengaja orang tua untuk mengakhiri hidup anaknya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sekitar 60-an kasus filisida terjadi pada tahun 2024, mayoritas pelakunya adalah ibu. Kasus bunuh diri di Indonesia pun terus bertambah. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menunjukkan terdapat 594 kasus bunuh diri yang tercatat pada kurun waktu 1 Januari hingga 28 Mei 2025.

Seorang ibu semestinya merupakan sosok yang paling besar kasih sayangnya kepada anak. Jika seorang ibu sampai tega membunuh anak, pasti ada permasalahan yang menyebabkan kondisi kejiwaannya terganggu. Saat ini, berbagai persoalan seolah datang bertubi-tubi menggempur pertahanan mental seorang perempuan yang menjalankan peran sebagai ibu dan istri.

Dari sisi pengasuhan, perempuan dianggap tidak pandai mengurus anak hanya karena mendapati anak kurus dan sering tantrum. Dari sisi ekonomi, banyak perempuan harus bekerja untuk menambah pendapatan keluarga. Dari sisi keamanan, banyak kasus KDRT yang dialami perempuan. Dari sisi dukungan sosial (support system), perempuan sering merasa sendiri karena orang-orang terdekat, seperti suami, abai dan enggan terlibat dalam urusan yang dianggap sudah menjadi kewajiban perempuan, misalnya pengasuhan anak.

Dengan demikian, filisida tidak bisa dilihat hanya dari aspek individu ibu yang dianggap kehilangan naluri keibuannya. Tidak pula semata-mata persoalan keluarga. Ada faktor kompleks yang melatarbelakangi, yaitu persoalan sistem kehidupan yang berjalan saat ini. Ketika sistem kehidupan tersebut rusak, dapat dipastikan akan rusak pula siapa pun yang hidup di dalamnya.

Sistem kehidupan saat ini sangat tidak ramah. Sistem yang berjalan tercemar oleh sekularisme, sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika ujian hidup datang, seseorang tidak kembali kepada Allah, Pemilik semesta, untuk mendapatkan solusi. Sekularisme membuat seseorang hanya mengandalkan akal dalam menghadapi permasalahan hidup. Padahal, akal sejatinya memiliki banyak keterbatasan. Akal hanya dapat bekerja pada ranah material dan tidak mampu menjangkau perkara-perkara gaib seperti ketetapan dan takdir Allah. Oleh karena itu, ketika persoalan hidup terasa begitu berat, mengakhiri hidup dianggap sebagai satu-satunya solusi.

Berulangnya kasus seperti filisida sejatinya dapat dihindari apabila sistem sekularisme yang rusak ini digantikan oleh sistem Islam. Dalam sistem Islam, setiap orang akan diberi pemahaman dan memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah hamba Allah Sang Pencipta. Kesadaran semacam itu akan membuat segala persoalan dapat disikapi dan dihadapi dengan tenang serta bijaksana. Pelaksanaan syariat Islam secara kafah juga mampu menghadirkan ketenteraman dan kesejahteraan lahir batin bagi umat manusia karena beberapa hal berikut.

Pertama, sistem Islam membangun masyarakat yang kukuh akidahnya. Ketika seorang mukmin memiliki akidah Islamiah yang kuat, akan terpancar keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah. Ia akan memahami bahwa bekerja bukan satu-satunya penentu jumlah rezeki yang diperoleh, melainkan salah satu cara menjemput rezeki. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, ia tidak mudah menyerah dan tetap berusaha. Artinya, ada banyak rezeki yang bisa saja datang dari arah yang tidak diduga. Selama Allah masih memberikan waktu untuk hidup di dunia, selama itu pula Allah menjamin rezeki setiap hamba-Nya.

Kedua, sistem Islam memiliki rujukan akhlak mulia dan suri teladan yang baik, yaitu Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_. Beliau mengajari umatnya untuk senantiasa bersabar dalam menghadapi kesulitan hidup. Saat beliau diboikot oleh para pemuka Quraisy, Rasulullah kerap mengganjal lambungnya dengan batu untuk menahan lapar. Artinya, ketika seseorang yang telah dijamin surga saja masih harus bersabar dalam menghadapi ujian hidup, maka sebagai umat, kita harus meneladani kesabarannya dan tidak cepat berputus asa.

Ketiga, sistem Islam mendidik dan membentuk kaum laki-laki untuk bertanggung jawab terhadap keluarganya. Secara khusus, Islam mengajarkan para suami untuk memuliakan istri. Dengan dimuliakannya seorang istri, tekanan dan beban dalam hidupnya akan berkurang. Mengutip buku Pahit Manis Rumah Tangga Rasul karya A.R. Shohibul Ulum dan Agar Rumah Tangga Bahagia karya Syekh Sulaiman ar-Ruhaili, berikut ayat Al-Qur’an dan hadis tentang memuliakan istri.

1. Menjadi orang terbaik.
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).” (HR Tirmidzi No. 3895)

2. Memiliki iman yang sempurna.
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Ahmad; Tirmidzi No. 1172)

3. Membantu pekerjaan rumah.
Aisyah, istri Rasulullah saw., menceritakan, “Ketika di rumah, beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Jika waktu salat tiba, beliau keluar untuk menjalankan salat.” (HR Bukhari)

4. Perintah menggauli istri dengan cara yang baik.
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian, jika kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)

Keempat, sistem Islam bahkan mengatur kehidupan bertetangga. Rasulullah saw. memberikan tuntunan untuk menjadi tetangga yang baik dengan cara saling memperhatikan dan saling memberi.

Mekanisme-mekanisme tersebut akan menjamin seorang perempuan bahagia dalam menjalankan perannya sebagai ibu dan istri. Perempuan diberi kedudukan yang mulia dalam kapasitasnya sebagai ibu karena mereka adalah arsitek peradaban sekaligus sekolah pertama bagi anak-anaknya. Sistem Islam beserta syariatnya yang diterapkan secara kafah dapat membuat naluri keibuan seorang perempuan berkembang dan dijalankan secara sempurna. Sistem Islam sangat ramah terhadap kesehatan mental seorang ibu sehingga tidak ada lagi tindakan-tindakan gegabah yang diambil sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup. Wallahualam bissawab.

Oleh: Bunda Awa
Pendidik dan Owner Yumna Shop

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA