Tinta Media – Baru-baru ini viral sebuah kasus pencabulan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Setidaknya, telah ada dua kasus yang sama di tempat yang berbeda terjadi dalam sepekan terakhir. Desakan kebutuhan
ekonomilah yang mendorong para ibu tersebut melakukan tindak asusila terhadap
anak mereka. (CNN 08/06/2024)
Mereka nekat melakukan hal tersebut karena mendapat
iming-iming dari salah satu teman di akun sosial media, Facebook. Berdasarkan
hasil penyidikan, pelaku menawarkan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang
besar kepada target, kemudian target diminta foto dengan memegang KTP.
Selanjutnya, pelaku kejahatan meminta korban untuk berfoto tanpa busana dengan
imbalan uang dengan nominal besar.
Ketika perintah tersebut dituruti, pelaku kejahatan akan
meminta lebih, yaitu melakukan hubungan intim sembari direkam dalam video.
Apabila target menolak, maka pelaku kejahatan akan mengancam dengan menyebarkan
foto tanpa busana sebelumnya. (Liputan6, 09/06/2024)
Adanya peristiwa ini seakan mencerminkan gagalnya sistem
pendidikan hari ini dalam mencetak individu yang beriman dan berkepribadian
Islam. Mereka rela menabrak segala garis halal/haram hanya untuk mengedepankan
duniawi. Tidak heran, segala bentuk pelanggaran syariat merajalela dan sangat
mudah ditemukan.
Ini merupakan tamparan keras bagi kita semua, terutama para
wanita yang kelak mengemban amanah menjadi ibu. Tentunya, peran menjadi ibu
memerlukan bekal ilmu yang sangat banyak, mulai dari agama sampai dari sisi
life skill. Kejahilan seorang ibu akan membawa pengaruh buruk bagi generasi
selanjutnya.
Fakta-fakta yang terjadi seperti ini sungguh menyayat hati,
seolah fitrah ibu yang penuh kasih sayang, lemah lembut nan sabar hilang
tergerus oleh sistem sekuler yang begitu jahat. Dalam sistem sekuler (pemisahan
agama dari kehidupan) ini, hukum-hukum Allah tidak lagi menjadi prioritas
perbuatan, sehingga para perempuan terjebak dalam perilaku kebebasan tanpa
batas, tidak ada rasa malu ataupun takut. Aktivitas perzinaan di anggap hal
biasa, membunuh dianggap perbuatan sepele, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan lemahnya negara
dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Sering kali ‘sejumlah uang’ menjadi faktor utama tindak
kriminal, termasuk dalam kasus ini.
Kondisi hari ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat
kita jauh dari kata sejahtera. Harga bahan pokok yang melangit ditambah
tingginya biaya pendidikan dan kesehatan membuat masyarakat mau tidak mau harus
berupaya mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang demi melangsungkan kehidupan.
Beban ekonomi yang berat inilah yang menyebabkan fitrah ibu terberangus dalam
arus kerusakan liberalisme sekularisme.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam memiliki sistem
pendidikan yang sistematis dan sempurna. Kurikulum pendidikan dibangun dengan
asas akidah Islam. Strategi pendidikan adalah untuk membentuk aqliyah dan
nafsiyah Islam. Tujuan dalam pendidikan yaitu membentuk kepribadian Islam.
Pendidikan merupakan suatu wadah yang digunakan untuk
memperkenalkan, menanamkan, dan mengembangkan karakter pada anak untuk dapat
lebih mengenal fitrahnya. Sebab, pembentukan perilaku seseorang sesuai dengan
apa yang telah ia dapatkan. Maka, di sini peran pendidikan sangat dibutuhkan
dalam menyiapkan manusia-manusia yang siap berperan sesuai fitrahnya
masing-masing.
Sebuah keluarga merupakan sekolah pertama dalam hal agama
dan moral. Keluarga memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mencetak
generasi, terutama ibu, sosok yang paling dekat dengan anak. Ibulah pemegang
kendali penuh dalam pola asuh dan pendidikan anak. Sehingga, sangat dibutuhkan
para ibu yang bertakwa dan teredukasi Islam di setiap rumah anak muslim.
Sistem ekonomi dalam Islam juga jauh berbeda dengan sistem
ekonomi kapitalisme. Kesejahteraan seluruh elemen masyarakat adalah satu hal
yang selalu dan terus diupayakan. Allah telah memerintahkan para pemimpin kaum
muslim untuk mengelola harta umat dengan amanah dan penuh tanggung jawab.
Syariat Islam juga telah mencegah harta beredar di kalangan orang kaya saja
sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial di kalangan masyarakat.
Begitulah gambaran sederhana saat Islam diterapkan dalam
lini kehidupan. Individu bertakwa lahir dari keluarga bertakwa. Disertai
kontrol masyarakat yang tercipta kehidupan amar ma’ruf nahi mungkar, membuat
kemaksiatan akan selalu mendapat teguran. Dengan pengelolaan harta umat yang
bijaksana, maka seluruh keluarga dalam darul Islam akan sejahtera. Tidak akan
ada kasus kriminal yang terpaksa harus dilakukan karena alasan terimpit
ekonomi. Wallahu a’lam bishawaab.
Oleh: Nabilah Rohadatul ‘Aisy, Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 8
















