Keluarga Hancur, Generasi Terancam: Wajah Kelam Penyimpangan Dunia Digital

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Publik kembali dibuat geram dengan viralnya grup bernama “Fantasi Sedarah”. Grup ini beranggotakan orang-orang yang secara terang-terangan menuliskan atau mengungkapkan hasra seksual terhadap anak, saudara kandung, dan anggota keluarga lain. Setelah keberadaan grup ini terungkap ke publik, gelombang kemarahan, kepanikan, dan kekhawatiran langsung menyebar. Banyak yang tak menyangka bahwa konten dengan penyimpangan ekstrem seperti ini bisa berkembang secara terbuka di ruang digital tanpa pengawasan.

Desakan demi desakan pun mengalir ke pihak berwenang, menuntut agar grup tersebut segera dibongkar dan pelakunya ditindak. Tekanan publik yang massif akhirnya memaksa aparat bergerak. Penyelidikan pun mulai dilakukan dengan pelacakan digital. Beberapa akun yang terlibat sudah dilaporkan serta diblokir dari berbagai platform. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) meminta polisi mengusut grup Facebook dengan nama “fantasi sedarah” tersebut. (REPUBLIKA.CO.ID, 17/05/2025)

Di balik dinding yang semestinya menjadi pelindung, ternyata terjadi kekacauan moral yang tak bisa diterima akal sehat. Ketika sosok yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi pelaku, luka yang tertinggal bukan hanya fisik, tetapi menghancurkan kepercayaan paling dasar tentang arti keluarga, kasih sayang, dan rasa aman. Hal ini menjadi tamparan keras bagi kita akan fenomena di tengah masyarakat yang menyajikan kenyataan pahit dan menggugah kesadaran akan aspek-aspek kelam yang selama ini terabaikan.

Apalagi, grup seperti ini ternyata terdiri dari beberapa anggota aktif. Artinya, bukan hanya satu atau dua kasus yang tersembunyi, tetapi potensi korban dan pelaku yang sangat banyak. Bayangkan, betapa luas dan dalamnya jaringan penyimpangan ini, sementara para pelaku masih bebas berkeliaran, terus melanjutkan aksi tanpa rasa takut akan konsekuensi.

Kondisi tersebut bukan hanya mencerminkan kegagalan sistem pengawasan digital, tetapi juga kegagalan kita sebagai masyarakat dalam melindungi mereka yang paling rentan. Apalagi, hukum yang berlaku selama ini kurang tajam terhadap pelaku, sehingga tidak mampu memberikan efek jera yang diperlukan untuk menghentikan praktik-praktik keji ini.

Semua manusia yang masih memiliki moral, hati nurani, dan akal sehat pasti akan merasa sangat marah, muak, dan terguncang ketika mengetahui kenyataan tersebut. Ini bukan sekadar persoalan pribadi atau penyimpangan individu. Ini adalah bentuk nyata dari kerusakan nilai yang menyerang akar kehidupan sosial dan kemanusiaan. Wajar jika banyak orang merasa gelisah, karena tindakan ini menabrak semua batas kemanusiaan yang paling
mendasar.

Kejadian tersebut bukan hanya membuat marah, tetapi juga melahirkan rasa takut, jijik, dan krisis kepercayaan terhadap ruang yang seharusnya paling suci dan aman, yaitu rumah dan keluarga. Kemarahan ini bukan sekadar emosi sesaat. Ini adalah bentuk alarm kolektif bahwa kita sedang menghadapi masalah serius dan diam bukan pilihan. Ketika sesuatu yang menyimpang dianggap biasa, maka peradaban sedang menuju kehancuran.

Dalam Islam, kehormatan dan kesucian merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Setiap individu, laki-laki maupun perempuan, diajarkan untuk menjaga pandangan, menjaga perilaku, serta menempatkan hubungan antaranggota keluarga dalam kerangka yang mulia dan terhormat. Segala bentuk penyimpangan seksual dilarang keras dalam ajaran Islam, apalagi yang terjadi dalam lingkup keluarga sendiri.

Hubungan sedarah bukan hanya dianggap aib, tetapi juga dosa besar yang mengundang murka Allah. Dalam Al-Qur’an dan hadis, pelanggaran terhadap norma ini tidak hanya dicela, tetapi diancam dengan hukuman berat, baik secara hukum syariat maupun sanksi sosial. Zina saja sudah termasuk dosa besar, apalagi inses yang merusak tatanan fitrah manusia, merusak nasab, dan mengoyak kehormatan keluarga serta masyarakat secara luas.

Ketika pelanggaran seperti ini dilakukan secara terbuka tanpa sedikit pun rasa malu atau penyesalan, bahkan kerap dipamerkan dan dibanggakan di dunia maya, maka hal itu bukan sekadar dosa pribadi, tetapi ancaman nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.

Tak heran jika Islam memandang perlunya penegakan hukum yang tegas dan tidak berhenti hanya pada pemberian sanksi. Ajaran Islam juga memberikan panduan pencegahan yang menyeluruh dan mendalam guna melindungi masyarakat dari penyimpangan yang berpotensi merusak generasi. Dengan sistem yang menyeluruh, mulai dari preventif hingga kuratif, Islam hadir bukan hanya sebagai agama spiritual, tetapi sebagai panduan hidup yang menjaga martabat manusia secara utuh.

 

Oleh: Shira Tara,

Sahabat Tinta Media

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA