Orang Bodoh Tidak Mau Mendengar dan Berpikir

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Orang pintar bukanlah mereka yang pandai berbicara, tetapi mereka yang mau mendengar lawan bicara dan memikirkan apa yang disampaikannya. Diam bukan berarti bodoh, tetapi sedang belajar dari apa yang didengar dan memikirkannya secara mendalam sebelum berbicara. Orang pintar tidak asal berbicara, tetapi menyampaikan sesuatu melalui proses berpikir.

Mereka yang bodoh tidak mengatakan apa yang dipahaminya sebagai kebenaran, tetapi mencari pembenaran atas apa yang dibelanya mati-matian. Mereka tidak memiliki idealisme dalam berpikir, melainkan pragmatisme demi mendapatkan keuntungan diri sendiri. Kata-katanya bisa berubah tergantung pada siapa dan apa yang dibela. Sungguh hina menjadi penjilat yang tidak mempunyai prinsip dalam hidupnya, dan sungguh bodoh karena tidak mau menggunakan akal, anugerah terindah dalam hidup, untuk berpikir dan menemukan kebenaran.

Kita bisa mengenali orang bodoh saat berdiskusi dengan mereka. Ciri pertama, mereka suka menyela dan memotong pembicaraan sebelum lawan bicara selesai memaparkan buah pikirannya. Mereka merespons atau menjawab tanpa mau mendengarkan apa yang disampaikan lawan bicara secara utuh. Mereka ingin terlihat hebat dengan mendominasi jalannya diskusi. Otaknya kosong dan asal berbicara tanpa data yang benar. Public speaking tidak hanya tentang kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan mendengar dan memahami apa yang sedang dibicarakan.

Mereka suka membantah sebelum memahami apa yang disampaikan lawan bicara. Bagaimana bisa memahamkan dan memengaruhi publik jika tidak mau mendengar apa yang disampaikan orang lain? Hasilnya adalah omong kosong yang tidak membuat publik simpati, melainkan muak terhadap apa yang dibicarakan karena tidak nyambung dengan topik permasalahan yang sedang dibahas. Orang bodoh suka menghakimi dan menyalahkan sebelum memahami dan menguasai permasalahannya. Mereka mengedepankan emosi saat berbicara sehingga apa yang disampaikan tidak dapat diterima oleh akal sehat.

Saat ini banyak ditemukan pemimpin bodoh yang dikelilingi orang-orang bodoh yang suka menjilat demi mendapatkan jabatan. Mereka tidak memiliki kemampuan, tetapi merasa hebat sehingga antikritik, tidak mau mendengar, dan tidak mau memikirkan suara rakyat. Mereka hanya berpikir bagaimana mempertahankan kekuasaan, bukan memikirkan urusan rakyat. Ingatlah, kekuasaan adalah amanah dan akan dimintai pertanggungjawabannya di pengadilan akhirat nanti.

Dunia ini hanya sementara, begitu pula kekuasaan yang bisa diambil kapan saja oleh Yang Maha Kuasa. Sungguh bodoh menukar kehidupan kekal di akhirat yang penuh kebahagiaan dengan kesenangan dunia yang semu dan menipu. Semua itu terjadi karena mereka tidak mau mendengar dan berpikir saat peringatan datang dalam hidupnya untuk menyelamatkan mereka dari api neraka yang menyala-nyala. Seperti yang terjadi pada Fir’aun yang tidak mau mendengar dan memikirkan peringatan yang dibawa Nabi Musa dari Tuhannya untuk memberi petunjuk ke jalan yang benar. Kekuasaan membuat seseorang jatuh dalam kesombongan dan kebodohan karena menolak kebenaran.

Semoga kita dijauhkan dari kebodohan karena lebih mengedepankan ego dan kesombongan sehingga tidak mau mendengar dan menggunakan potensi akal untuk berpikir saat peringatan menghampiri hidup kita, yang membawa kebenaran dan petunjuk dari Tuhan manusia. Jangan sampai kita menyesal seperti penyesalan penghuni neraka yang sia-sia. Mereka berkata, “Sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS Al-Mulk: 10). Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo

Loading

Views: 29

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA