Palestina dan Siklus Penderitaan Tanpa Akhir

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Penderitaan kaum muslim di Bumi Palestina hingga kini masih terus berlanjut. Sejak peristiwa eksodus besar yang dikenal sebagai tragedi Nakba pada tahun 1948—yang bertepatan dengan berdirinya negara Israel—Palestina hidup dalam kondisi pendudukan, pengungsian, blokade, konflik bersenjata berulang, serta pembatasan hak-hak sipil, ekonomi, dan kemanusiaan.

Fakta ini menunjukkan bahwa selama kurang lebih 78 tahun, atau hampir delapan dekade, rakyat Palestina terjebak dalam siklus penderitaan yang tak kunjung diputus oleh dunia. Karena itu, krisis Palestina bukan sekadar konflik bersenjata biasa, melainkan bentuk penindasan sistemis yang membuat penderitaan rakyat Palestina terus berulang tanpa akhir.

Jumlah warga Palestina yang terbunuh di Jalur Gaza sejak dimulainya perang genosida Israel pada Oktober 2023 mencapai 71.266 jiwa. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, sementara 171.222 lainnya mengalami luka-luka (Republika.co.id, 31/12/2025).

Israel terus melancarkan serangan militernya dan membombardir Gaza, meskipun telah ada perjanjian gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Kantor Media Pemerintah (GMO) di Gaza mencatat sedikitnya 969 pelanggaran selama 80 hari masa gencatan senjata, termasuk penembakan langsung terhadap warga sipil, serangan ke kawasan permukiman, pengeboman rumah, penghancuran skala besar, serta penangkapan ilegal (Minanews, 29/12/2025).

Dilansir Al Jazeera (08/01/2026), Israel juga menolak masuknya pasokan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, meskipun PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan telah memperingatkan kondisi warga Palestina yang semakin menderita akibat badai musim dingin yang mematikan. Sebelumnya, Israel mencabut izin 37 LSM internasional yang beroperasi di Gaza dengan dalih tidak mematuhi peraturan baru terkait transparansi staf, pendanaan, dan operasional.

Langkah tersebut diambil di tengah pernyataan keprihatinan serius dari sedikitnya 10 negara terkait memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza. “Saat musim dingin tiba, warga sipil di Gaza menghadapi kondisi yang mengerikan akibat hujan lebat dan suhu yang terus menurun,” demikian pernyataan bersama Inggris, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Jepang, Norwegia, Swedia, dan Swiss (Tempo.co, 31/12/2025).

Siklus Agresi dan Konflik

Penderitaan demi penderitaan telah menjadi realitas sehari-hari bagi warga Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar genosida, melainkan penghancuran kehidupan itu sendiri. Lebih dari dua tahun bertahan sejak agresi militer Israel pada Oktober 2023, sarana kehidupan hancur melalui perang fisik dan tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa gencatan senjata yang berulang kali disepakati tidak pernah benar-benar berlaku. Gaza tetap dikepung, dibombardir, dan dilaparkan. Sementara itu, Tepi Barat terus dilanda penangkapan, pembunuhan, dan teror oleh pemukim bersenjata. Genosida terhadap Palestina berlangsung di hadapan mata dunia, sementara respons internasional sering kali berhenti pada kecaman tanpa tindakan nyata yang mampu menghentikan agresi Zionis.

Peran organisasi internasional seperti PBB dan Uni Eropa pun kerap terbatas pada sanksi dan resolusi yang tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan Israel.

Keputusan-keputusan tersebut lebih sering bersifat simbolis dan tidak memiliki daya paksa yang nyata.

Di sisi lain, keterlibatan negara-negara besar—terutama Barat—yang memiliki hubungan politik dan ekonomi erat dengan Israel membuat mereka enggan mengambil langkah tegas. Akibatnya, organisasi internasional gagal memaksa perubahan kebijakan substantif. Negara adidaya tetap leluasa memasok senjata, memveto resolusi Dewan Keamanan PBB, serta mengatur narasi global demi melindungi Zionisme.

Reuters (29/06/2024) melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyuplai lebih dari 10 ribu bom kepada entitas Zionis Yahudi sejak peristiwa 7 Oktober 2023. Israel juga merupakan penerima bantuan militer terbesar AS dan menjadi pihak pertama yang menikmati teknologi militer terbaru, salah satunya sistem pertahanan Iron Dome.

Ironisnya, Global Firepower (GFP) mencatat sejumlah negara muslim memiliki kekuatan militer besar, seperti Uni Emirat Arab, Bangladesh, Maroko, Suriah, Malaysia, Aljazair, Arab Saudi, Pakistan, Indonesia, Iran, Mesir, dan Turki. Namun, sikap apatis dan mandulnya politik para pemimpin negeri-negeri muslim tersebut justru menjadi luka tersendiri bagi umat Islam, khususnya rakyat Palestina. Potensi besar itu akhirnya hanya tinggal cerita.

Akibatnya, Palestina terus berada dalam siklus penderitaan selama Israel masih eksis di atas tanah mereka. Kesepakatan damai dan gencatan senjata hanya bersifat sementara: penderitaan, respons sesaat, ketenangan singkat, lalu penderitaan kembali. Lingkaran kekerasan ini terus berulang dan jauh dari solusi konkret.

Jalan Perubahan Hakiki

Perlu diingat bahwa tanah Palestina adalah bagian dari Negeri Syam yang telah ditaklukkan oleh kaum muslim pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Oleh karena itu, Palestina merupakan tanah _kharajiyah_ yang wajib dijaga dan dipelihara oleh umat Islam sepanjang masa.

Masalah Palestina tidak boleh diposisikan semata sebagai isu kemanusiaan, melainkan juga sebagai persoalan keadilan, kedaulatan, dan pembelaan terhadap umat Islam yang tertindas. Rangkaian penderitaan ini tidak akan terus terjadi seandainya umat masih memiliki perisai yang ditakuti oleh para penjajah.

Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa pembebasan Palestina tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan diplomasi internasional. Jalur ini justru sering kali meredam tekanan global terhadap Israel, bukan menghentikan kezaliman yang berlangsung. Umat Islam harus membangun kesadaran politik dan bersatu di bawah kepemimpinan pemerintahan Islam global untuk membentuk kekuatan besar dalam melawan segala bentuk penjajahan.

Semoga Allah Swt. menyegerakan kebangkitan dan pertolongan kepada umat ini dengan kembalinya tegaknya sistem Islam. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS Al-Qashash: 5). Wallahualam bissawab.

Oleh: Witri Amardan
Aktivis Dakwah

Loading

Views: 36

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA