Tinta Media – Pendidikan adalah investasi masa depan suatu bangsa untuk mewujudkan generasi yang maju dan berkualitas. Namun, apa yang terjadi jika sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam pendidikan tidak diperhatikan? Seperti fakta yang terjadi saat ini, pemerintah tengah menghadapi tantangan besar dalam pendidikan, seperti perbaikan 980 ribu sekolah yang mengalami kerusakan sedang maupun berat, meningkatkan akses infrastruktur menuju sekolah, dan sebagainya.
Alih-alih menangani permasalahan tersebut, pemerintah justru malah sibuk mengiris-iris anggaran pendidikan demi terwujudnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), seperti anggaran perpustakaan Nasional yang diturunkan separuhnya dari Rp721 miliar pada 2025 menjadi Rp377,9 miliar pada 2026. Padahal, investasi di bidang pendidikanlah yang memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas pembelajaran.
Lalu, bagaimana Islam memandang pendidikan? Islam memandang pendidikan adalah pondasi utama pembangunan manusia dalam peradaban. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam adalah terkait perintah membaca. Karena itu, Islam sangat menghargai ilmu dan orang orang yang berilmu. Bahkan, Allah mewajibkan setiap muslim untuk mencari ilmu.
Sepanjang masa kekhalifahan Islam, para khalifah membangun mesjid, madrasah/lembaga pendidikan, perpustakaan, rumah sakit pendidikan, serta pusat-pusat penerjemahan dan penelitian yang menjadi rujukan dunia.
Peradaban Islam menjadi peradaban garda depan yang ditopang oleh buku.
Tercatat dalam sejarah, pada abad ke-10, di Andalusia terdapat 20 perpustakaan umum. Yang terkenal saat itu adalah perpustakaan umum Cordova yang memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Dari perpustakaan-perpustakaan inilah penerjemahan buku-buku dimulai, yang dilanjutkan dengan pengkajian dan pengembangan atas isi buku buku tersebut. Dari sini pula, kelahiran para ilmuwan muslim dimulai yang kemudian melahirkan karya karya yang amat mengagumkan—yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban Islam saat itu.
Perlu diingat, kemajuan peradaban Islam saat itu terwujud karena dukungan negara (Khilafah) saat itu terhadap lembaga pendidikan. Saat itu, pendidikan dipandang sebagai salah satu tanggung jawab utama negara dalam mewujudkan kemaslahatan umum.
Jika kita saat ini menginginkan peradaban yang berkualitas atau generasi emas, maka satu-satunya solusi adalah dengan melanjutkan kembali kehidupan Islam seperti dulu, sekaligus membangkitkan kembali peradaban Islam yang akan memberikan kemaslahatan bagi dunia. Wallahu a’lam.
Oleh: Ummu Aiman
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4
















