Tinta Media – Menjelang pergantian tahun 2025, presiden Prabowo mengumumkan kenaikan PPN dari 11% menjadi 12%. Kenaikan ini hanya dikenakan untuk barang dan jasa mewah, bukan untuk barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari. Bisakah kita sebagai rakyat kecil lega mendengar penjelasan itu?
Meskipun pemerintah mengelak bahwa kenaikan pajak tahun ini memihak rakyat kecil, tetap saja kenaikan tersebut selalu berdampak pada kondisi ekonomi rakyat. Pengeluaran wajib yang rela atau tidak rela diberikan kepada negara, memotong penghasilan masyarakat di angka yang cukup besar, terutama bagi rakyat kecil. Bukan hanya di PPN, tetapi pajak-pajak lain ikut membebani rakyat.
Seperti tahun-tahun lalu, alasan kenaikan pajak tahun baru ini adalah untuk meningkatkan APBN demi kesejahteraan rakyat. Bahkan, Sri Mulyani mengatakan bahwa negara akan kehilangan ratusan triliun bila kenaikan PPN dibatalkan.
APBN negara bertumpu penuh kepada pajak, seperti yang dilakukan oleh negara-negara kapitalis sekuler pada umumnya. Tak heran bila kenaikan pajak adalah keniscayaan untuk keberlangsungan kehidupan bernegara.
Meskipun para pakar ekonomi mengatakan bahwa langkah pemerintah tidak tepat, di saat pertumbuhan ekonomi di bawah 5%, kebijakan ini tetap berlaku. Rakyat harus membiayai semua pelayanan yang mereka terima dengan pajak. Seberat apa pun beban itu, inilah konsekuensi hidup dalam sistem sekuler kapitalisme.
Dalam Islam, pajak yang dikenal dalam fikih sebagai muks, diharamkan. Di dalam Al-Qur’an surat an Nisa ayat 29 Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil ….”
Dalam sebuah hadis nabi, pemungut muks atau pajak dicela dengan balasan neraka. Dharibah sebagai pungutan yang ditarik negara dari warga negara, hanya dilakukan saat kondisi darurat dan kas negara kosong. Dharibah tidak dikenakan kepada semua warga negara, tetapi hanya kepada warga negara yang mampu.
Pembangunan dalam Islam tidak bertumpu di atas pajak. Pemasukan negara berasal dari berbagai sumber. Salah satunya adalah sumber daya alam yang melimpah sebagai kepemilikan umum. Kesejahteraan dalam Islam adalah jaminan dari Allah karena ketaatan hamba-Nya. Ketaatan itu diwujudkan dalam penerapan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam.
Oleh: Khamsiyatil Fajriyah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 17
















