Tinta Media – Beberapa hari terakhir nama HTI rame lagi di timeline. Ada yang ngetik:
“Wah, HTI muncul lagi nih! Apa balik ke Indonesia?”
Tenang, yang viral kali ini bukan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tapi Hutan Tanaman Industri (HTI), dan ironi banget karena dua HTI ini beda nasib:
HTI pertama di cabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP) – nya, karena dianggap berbahaya (walaupun cuma menyampaikan ide dan gagasan Islam).
HTI kedua dibiarkan, padahal merusak alam, memicu banjir, dan bikin masyarakat sengsara.
Absurd? Iya. Tapi ini real.
Kenapa HTI (Hutan Tanaman Industri) Disorot?
Karena banyak wilayah yang dulunya hutan, sekarang berubah jadi ladang pohon monokultur seperti akasia atau eukaliptus. Keliatannya hijau, tapi fungsinya beda jauh dari hutan asli.
Para peneliti, pengamat, bahkan pakar lingkungan sudah teriak lama: “HTI bikin ekosistem makin rapuh”.
Kenapa? Karena coba bandingkan hutan asli dengan HTI. Hutan asli itu seperti spons air, dia menyerap air hujan, menahan aliran air, menyimpan kelembaban, dan mengatur air secara alami.
Beda banget dengan HTI kayak karpet plastik, terlihat hijau seperti hutan,
tapi fungsinya tidak seperti hutan asli. Tanah di HTI biasanya padat, tipis, minim penutup organik, dan sistem akarnya tidak serumit hutan asli. Jadi ketika hujan turun:
-) Air tidak terserap dengan baik
-) Air langsung mengalir permukaan
-) Debit air cepat membanjiri sungai dan pemukiman
Makanya dianalogikan seperti karpet plastik, terlihat rapi tetapi tidak menyerap air sama sekali.
Bedanya besar banget.
Beberapa efek paling serius dari HTI adalah:
1. Deforestasi Hutan yang tadinya nyimpen air dan cegah longsor diganti tanaman cepat panen. Hasilnya: air hujan nggak tertahan, ujungnya adalah banjir.
2. Drainase Gambut, banyak konsesi HTI dibangun di gambut, dan untuk itu dibuat kanal pembelah lahan. Air yang seharusnya meresap malah mengalir deras ke sungai.
3. Tanah Turun (Subsiden), gambut yang dikeringkan akan turun level tanahnya. Lama-lama daerah itu makin rendah dan makin mudah terendam.
4. Kehilangan Fungsi Hulu, ketika hutan pegunungan atau Daerah Aliran Sungai (DAS) dibabat, air hujan langsung turun tanpa filter. Ini salah satu penyebab banjir bandang yang makin sering.
Dan semuanya bukan terjadi begitu saja, ada izinnya, ada kepentingannya, ada oligarkinya.
Lalu Di Mana HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dalam Isu Ini?
Menariknya, Hizbut Tahrir Indonesia justru punya pandangan tegas soal lingkungan dan aset publik, secara syar’i.
Dalam Islam, hutan itu adalah kepemilikan umum (milkiyyah ‘ammah), tidak boleh jadi milik swasta maupun asing. Negara wajib kelola dan jaga untuk kepentingan rakyat
Kalau aturan ini diterapkan, drama izin tambang, perkebunan, HTI, sawit, dan eksploitasi besar-besaran hari ini nggak bakalan terjadi.
Karena Islam memandang, yang boleh ambil manfaat dari hutan adalah masyarakat, bukan korporasi.
Kalau korporasi pasti tidak jauh dari sungai meluap, rumah rusak, sawah tenggelam, warga mengungsi, dan pemerintah datang dadakan sambil bagi sembako lalu ngomong:
“Ini musibah. Faktor alam. Karena hujan ekstrem”.
Padahal kita tahu, penyebabnya bukan hujan, tapi izin yang salah, sistem yang rusak, dan orientasi kebijakan yang berpihak pada oligarki, bukan rakyat.
Pertanyaannya…
Kalau yang benar dikucilkan, dan yang merusak diberi karpet merah, sampai kapan kerusakan ini akan terus berulang?
Mungkin sekarang saatnya kita sadar, lingkungan bukan cuma soal cuaca, teknologi (yang katanya mau ngatur cuaca), ataupun alam. Ini soal cara pandang dan siapa yang membuat aturan atau kebijakan.
Dan selama aturan dibuat demi bisnis, cuan, dan duit, bukan amanah, yang terjadi adalah b𝘢𝘯𝘫𝘪𝘳 yang datangnya 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯, itu adalah konsekuensi. []
Oleh: Setiyawan Dwi
Jurnalis
![]()
Views: 69
















