Tinta Media – Di tahun ajaran baru, pembelajaran coding direncanakan pemerintah sebagai pelajaran pilihan karena dinilai penting untuk menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berdaya saing global dan unggul. Sedikitnya, ada sekitar 10 persen sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Bandung yang sudah melaksanakan pembelajaran coding.
Menurut Dr. Nur Sobariah, pengawas pembina tingkat SMP di Kabupaten Bandung, sebagian besar merupakan sekolah swasta yang sarana dan prasarananya sudah siap. Hal tersebut diungkapkan oleh Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah saat meninjau pembelajaran coding di SMP Prima Cendekia Islami Banjaran, Rabu (20/11/2024). Jumlah SMP di Kabupaten Bandung sendiri sekitar 380-an. (PIKIRAN RAKYAT, 20/11/2024)
Pendidikan adalah hak semua rakyat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Munculnya rencana tentang pembelajaran coding tak lepas dari pro dan kontra di tengah masyarakat. Pro kontra selalu terjadi pada setiap kebijakan. Salah satunya adalah pro kontra tentang pembelajaran coding di sekolah tingkat dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dunia pendidikan saat ini memang sedang tidak baik-baik saja, terutama dalam masalah sarana dan prasarana ataupun kurikulum yang selalu berubah-ubah. Wacana pembelajaran coding sudah pasti akan menjadi beban guru, sekolah, dan juga siswa tentunya.
Apalagi, Mendikbud juga menjelaskan bahwa persiapan untuk pembelajaran coding tersebut akan diserahkan pada sekolah masing-masing. Dalam realitasnya, keterlibatan pemerintah sangatlah minim.
Itulah sebabnya, wacana pembelajaran coding di sekolah perlu peninjauan ulang, jangan asal memberlakukan kebijakan tanpa memikirkan segala sesuatunya dengan matang.
Melihat dunia pendidikan hari ini, faktanya sangat terpuruk. Tawuran di mana-mana, gaji/upah guru yang masih sangat rendah, apalagi guru honorer, sarana prasarana yang belum merata, masalah kurikulum, jaminan kesehatan guru, dan berbagai catatan buram sistem pendidikan saat ini. Masalah tersebut di atas juga jangan dianggap remeh.
Begitu juga dalam masalah rencana pembelajaran coding, harus ditinjau kembali secara mendalam, apakah pembelajaran coding ini betul-betul dibutuhkan atau tidak.
Karena itu, harus dilihat dari segi usia, target pembelajaran, kemampuan secara finansial, dan juga masalah sarana dan prasarana. Mengingat, tidak semua sekolah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai untuk pelaksanaan pembelajaran coding tersebut.
Kemungkinan besar hanya sekolah-sekolah swasta saja yang mampu melakukan pembelajaran coding ini. Dengan biaya pendidikan yang mahal, tentunya hanya orang-orang kaya saja yang bisa menikmatinya.
Jadi, memang harus jelas visi dan misi pendidikannya. Jika kita melihat sistem pendidikan saat ini, faktanya hanya bertujuan mengejar prestasi untuk mendapatkan pekerjaan/ materi. Jika demikian, maka wacana pembelajaran coding itu akan sia-sia, tanpa dilandasi dengan landasan akidah dan visi sistem pendidikan yang sahih.
Faktanya, memang sistem pendidikan saat ini adalah sekuler kapitalis yang hanya fokus membentuk generasi yang siap bekerja dan dikendalikan oleh para kapitalis demi meraup keuntungan materi. Begitu pun dengan kemajuan sains dan teknologi yang justru akan merusak karakter anak.
Sistem pendidikan sekuler tidak akan pernah menghasilkan generasi yang tangguh dan berakhlak mulia. Justru sebaliknya, generasi makin hancur dan tidak beradab, banyak tawuran, bullying, dan kekerasan antarpelajar. Oleh karena itu, pembelajaran coding tidak akan berjalan maksimal dan membentuk generasi yang tangguh jika masih dalam kendali sistem pendidikan sekuler.
Berbeda jika program pendidikan dibangun di atas asas akidah Islam yang mempunyai visi membentuk kepribadian Islam. Dengan adanya visi pendidikan berbasis Islam, semua program pembelajaran didukung dan ditanggung oleh negara, bukan dikelola oleh masing-masing sekolah seperti halnya dalam sistem pendidikan kapitalis sekuler. Ini karena pendidikan adalah hak semua rakyat yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.
Semua warga negara, miskin maupun kaya akan mendapatkan fasilitas yang yang sama. Begitu juga dengan program pembelajaran coding, pasti akan sangat didukung agar terlahir generasi cerdas dan unggul dalam hal sains dan teknologi. Generasi yang cerdas dan berkarakter harus punya ilmu, karena ilmu adalah perkara yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup secara individu maupun bernegara.
Dalam Islam, negara akan membangun sekolah dan semua sarana dan prasarana pendidikan yang merata dan berkualitas agar semua anak bisa mendapatkan hak yang sama. Islam tidak membebankan biaya pendidikan kepada rakyat, justru biaya pendidikan dalam sistem Islam itu sangat murah, bahkan gratis. Semua itu bukan omong kosong belaka, tetapi telah terjadi pada masa kegemilangan peradaban Islam.
Peradaban Islam ini menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan, yaitu khilafah Islamiyyah.
Walhasil, generasi penerus yang tangguh dan berakhlak mulia hanya akan lahir jika negara menerapkan sistem pendidikan Islam, bukan yang lain. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 15
















