Tinta Media – Kunjungan Presiden Prabowo ke Thailand pada 17-19 Mei 2025 menghasilkan kesepakatan sejumlah kerja sama, di antaranya pembukaan jalur penerbangan baru antara Bangkok – Surabaya dan Phuket-Medan. Bukan hanya dalam sektor pariwisata, tetapi PM Paetongtarn menuturkan bahwa pihaknya akan meningkatkan kerja sama sektor pendidikan dan kesehatan dengan Indonesia. (News detik,19/05/25)
Lawatan Presiden RI ke Thailand adalah dalam rangka penguatan bilateral kedua negara dengan menandatangani MoU untuk memperluas kemitraan. Dalam hal ini, kedua negara sedang meminang ‘romantisme’ agar makin kuat di berbagai sektor strategis, yang notebene merupakan sesama anggota ASEAN dan menjaga hubungan yang telah berlangsung selama lebih dari 75 tahun.
Dalam sektor pariwisata, Phuket adalah salah satu destinasi wisata populer di Thailand. Sedangkan Medan merupakan kota besar di Indonesia dengan potensi ekonomi yang signifikan.
Digadang-gadang, penerbangan langsung bisa meningkatkan pariwisata dan perdagangan kedua wilayah. Antara Phuket dan Medan, dengan akses yang lebih mudah, wisatawan dari Phuket bisa lebih banyak mengunjungi Medan dan sekitarnya, seperti Danau Toba, sementara wisatawan dari Medan juga bisa lebih mudah menikmati keindahan Phuket.
Sepintas, ini bisa meningkatkan pendapatan lokal dan membuka peluang bisnis baru di bidang pariwisata dan perdagangan. Padahal, menurut Bank Dunia, Indonesia, termasuk Medan memiliki pengeluaran kurang dari Rp113.777 per hari (kurs Rp16.060). Ini tergolong sebagai kelompok miskin di dunia yang berpendapatan rendah. Tentu masyarakat lebih memilih tidak sampai keluar negeri karena untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah susah.
Menurut Bank Dunia, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia. Secara global, Indonesia, termasuk Sumut memiliki ekonomi terbesar ke-10 di dunia karena Medan merupakan pusatnya perdagangan dan industri. Ini sejalan dengan proyek _World Bank_, yaitu fokus pada program yang meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat miskin.
*Tambal Sulam Solusi ala Kapitalisme*
Alih-alih meningkatkan pendapatan, yang ada justru masyarakat saat ini sedang berjibaku dengan lapangan pekerjaan yang minim. Biaya kebutuhan pokok makin hari makin naik, belum lagi masalah pendidikan. Semuanya memutar otak agar bisa terpenuhi. Sebagai ayah, ia tetap mencari kerja dengan pendapatan seadanya, ibu sebagai tulang rusuk, sebagiannya juga bekerja sembari menekan biaya pengeluaran di sana sini. Sedangkan anak, mereka mengenyam pendidikan berbasis sekularisme.
Ketika ayah dan ibu sibuk mencari nafkah, anak rentan kehilangan sosok orang tua. Saat di rumah, ayah dan ibu mulai kelelahan dengan rutinitas di luar. Anak terabaikan dan belajar sendiri tanpa pengawasan. Belum lagi ketakutan akan bahaya pergaulan.
Di Phuket, misalnya, mereka notabene pro terhadap LGBT dan melegalkan pernikahan sesama jenis. Dengan adanya wisatawan masuk dari sana, maka akan terbuka kran lebar terserapnya budaya yang tak normal dan tak bermoral seperti L6BT. Lantas, di mana solusi yang kita dapatkan bila harus timbul masalah baru?
Ini salah satu dampak sosial. Masuknya wisatawan dalam jumlah besar berdampak pula pada komunitas lokal, seperti perubahan gaya hidup dan potensi konflik budaya. Apalagi, kita pahami bahwa di Thailand ada 18 gender. Belum lagi dalam hal ketergantungan pada sektor pariwisata yang bisa membuat kedua wilayah, Phuket-Medan bergantung pada industri pariwisata yang rentan terhadap perubahan ekonomi global serta kondisi politik.
Paradigma sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan menimbulkan banyak ketimpangan yang merupakan problem struktural akibat sistem ekonomi kapitalisme. Ini tampak dari cara sistem tersebut menyelesaikan satu problematika, yaitu tambal sulam. Belum selesai satu masalah, timbul masalah baru.
*Islam Satu-satunya Solusi*
Sesungguhnya, pariwisata dalam asuhan Islam adalah tempat syi’ar yang efektif. Selain menyodorkan keindahan alam yang merupakan bukti kemahabesaran Allah Swt., pariwisata pun menjadi tempat untuk memperkenalkan budaya Islam yang cantik dan menawan sehingga para turis akan makin memahami Islam.
Menjadi penting untuk dipahami oleh umat bahwa menjadikan pariwisata sebagai bagian dari _ushlub_ (cara) dakwah bukan hanya berbicara sebatas konsep teknisnya saja, tetapi lebih dari itu. Kita harus membenahi landasan tata kelola negara yang sekuler menjadi Islam agar sektor pariwisata kembali memiliki fungsi utamanya, yaitu syi’ar Islam.
Juga yang tak kalah penting untuk menjadi perhatian adalah adanya generasi muda di Medan yang didominasi oleh Gen-Z. Mereka berpartisipasi aktif dan menjadi kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Maka, bukan hanya pembangunan infrastruktur di bidang pariwisata yang diutamakan, tetapi juga berbagai bidang yang lain, termasuk karakter agar generasi mendatang menjadi berkarakter dan berpola pikir Islam. Dengan demikian, mereka tidak akan rentan dimasuki pendidikan dan budaya asing, baik dari kerja sama maupun kurikulumnya. Ini sebagaimana yang pernah diterapkan oleh Khilafah. Sistem yang berasal dari Allah Ta’ala ini merupakan solusi umat manusia dalam menyelesaikan problematika kehidupan, yang terbukti sepanjang sejarah selama 1300 tahun lamanya. Wallahu a’lam Bishshawab.
Oleh: Lisa Herlina
Sahabat Tinta Media
Views: 47
















