Sikap Islam terhadap Fenomena Perundungan pada Generasi Muda

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Siswa SMP di Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung dikabarkan mengalami perundungan oleh teman-temannya. Peristiwa ini menjadi viral setelah tersebar video perundungan tersebut di media sosial.

Perundungan terjadi karena korban menolak untuk meminum minuman keras. Pelaku sendiri terdiri dari 3 orang, 1 orang dewasa dan 2 anak di bawah umur. Akhirnya, kasus ini pun berakhir dengan damai.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian menyatakan bahwa sekolah perlu membentuk tim pencegahan kekerasan yang melibatkan perwakilan guru, siswa, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman dan responsif. Ia menegaskan bahwa kasus kekerasan di sekolah dapat ditindak secara tegas melalui penegakan aturan, pembinaan pelaku, dan pendampingan korban.

Namun, kasus perundungan pada siswa SMP yang terjadi di Ciparay bukanlah kasus pertama yang terjadi dan bukan satu-satunya kasus perundungan yang terekspos media. Sayangnya, sekian banyak kasus yang terungkap tidak dijadikan pembelajaran untuk masyarakat, terutama anak-anak.

Ini membuktikan bahwa regulasi pendidikan kita dan juga hukum atau sanksi bagi pelaku perundungan sangatlah lemah. Sebagaimana kita ketahui bahwa hukum atau sanksi bagi para pelaku perundungan tidaklah jelas. Meskipun sudah menyangkut dengan kekerasan fisik, banyak keluarga korban yang memilih jalur damai dengan alasan bahwa anak masih di bawah umur dan juga rumitnya proses hukum di negara kita.

Penyebabnya adalah Sistem Kapitalisme dan Sekularisme

Fenomena ini terjadi akibat diterapkan sistem kapitalisme dan sekularisme di Indonesia. Sekularisme telah merasuk ke dalam tiga ruang hidup generasi muda, yaitu rumah, sekolah, dan negara.

Pertama, pola asuh keluarga yang menganut sistem sekularisme menjadikan duniawi dan materi sebagai tujuan hidup. Sedangkan penanaman akidah kepada anak-anak hanya diserahkan kepada para penggiat agama saja. Padahal, yang terpenting adalah orang tua sebagai contoh yang nyata bagi anak-anak dalam beragama dan juga berperilaku.

Kedua, lingkungan sekolah dan masyarakat sangat memengaruhi perkembangan karakter. Kehidupan sosial dalam masyarakat sekuler cenderung bersikap individualis, egois, dan apatis, menjadikan anak-anak memiliki karakter yang kurang berempati dan tidak peka terhadap sesamanya.

Ketiga, lemahnya fungsi negara dalam  mencegah terjadinya perundungan atau kekerasan fisik maupun verbal terhadap anak-anak. Ini buah dari sistem kapitalis yang memiliki kurikulum yang  fokus terhadap perkembangan duniawi saja, tetapi menjauhkan kurikulum pembentukan karakter.

Negara telah abai dan gagal dalam membatasi setiap tontonan yang masuk. Padahal, negara memiliki kuasa penuh dalam membatasi konten-konten dan juga aplikasi-aplikasi yang masuk ke dalam sebuah negara. Sebagai perbandingan, Cina misalnya, meskipun merupakan pencipta aplikasi TikTok, tetapi mereka membatasi konten-konten untuk anak-anak dan hanya berisi tentang edukasi dan juga perkembangan diri.

Dengan fakta yang terjadi di lapangan, segala persoalan perundungan tidak bisa hanya mengandalkan sanksi yang berat. Namun, dibutuhkan perubahan yang mendasar dan juga menyeluruh. Hal utama yang harus dilakukan adalah bahwa kita sebagai masyarakat harus mengubah paradigma kehidupan, dari paradigma kapitalis menjadi paradigma sahih, yaitu sistem kehidupan yang berlandaskan syariat Islam.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjalin hubungan dengan penuh kasih sayang, saling menghargai dan menghormati sesama manusia. Allah Swt. melarang umatnya saling mengolok-olok dan mencela. Ungkapan ini sesuai dengan firman Allah Swt.:

Artinya, “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (TQS: Al-ahzab ayat 58)

Ayat ini menjadi pengingat untuk kita tentang pentingnya saling menjaga kehormatan sesama muslim. Selain itu, mengingatkan kepada kita bahwa tindakan menyakiti seseorang adalah perbuatan tercela.

Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa Islam memerintahkan setiap keluarga, khususnya orang tua, untuk menanamkan akidah dan kecintaannya terhadap agama kepada anak-anak sejak dini, bahkan sebelum lahir ke dunia.

Orang tua pun sekaligus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dalam ketaatan menjalankan syariat Islam yang kaffah. Ini diawali dengan peran ibu sebagai ‘madrasatul ula_ (sekolah pertama) yang tidak disibukkan dengan perihal duniawi, seperti yang terjadi dalam negara yang menerapkan kapitalisme.

Syariat Islam

Dalam bidang pendidikan, sistem Islam memiliki kurikulum tersendiri, yaitu kurikulum berbasis akidah Islam. Kurikulum ini bertujuan untuk membentuk muslim/ah yang berkepribadian Islam, memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Inilah yang dapat mencegah mereka dalam melakukan tindakan tercela seperti perundungan. Peran keluarga dan juga pendidikan berbasis akidah Islam ini akan berfungsi maksimal ketika didukung oleh sistem negara yang juga berasal dari Sang Pencipta, yaitu Sistem Islam.

Sistem pemerintahan Islam, yakni daulah Khilafah yang  menerapkan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan, mempunyai peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan atau tindakan perundungan. Salah satunya, negara akan membatasi setiap konten, video dan media yang menjauhkan masyarakat dari ketaatan kepada Allah dan juga penyimpangan-penyimpangan syariat, seperti pornografi, gaya hidup hedonisme, dan lain-lain. Negara tidak akan memberikan ruang terhadap berbagai pengetahuan yang menyesatkan.

Jika pun ada warga negara yang melakukan tindakan perundungan, negara  mempunyai kewajiban untuk memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku, terutama jika dia sudah baligh dan sudah mendapatkan taklif (dibebankan) syariat Islam, maka sanksi akan dijalankan.

Melalui penanaman akidah, penerapan syariat dan pemberlakuan sanksi yang tegas bagi pelaku kriminal menjadi pelindung berlapis bagi generasi sehingga perundungan ataupun kekerasan yang lain bisa dihentikan. Wallahualam.

Oleh: Ira Mariana
Sahabat Tinta Media

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA