Tinta Media – Sudan kian mencekam. Dikutip dari Republika.id (31/10/2025), dalam tiga hari terakhir tercatat 1.500 warga Sudan tewas akibat perang antara pasukan Rapid Support Force (RSF) dan Militer Sudan (SAF) yang berebut kekuasaan atas negara itu. Humanitarian Research Lab (HRL) Yale melaporkan bahwa citra satelit El-Fasher menunjukkan adanya serangan pembunuhan dan pemusnahan yang disengaja serta sistematis terhadap warga sipil yang berusaha melarikan diri dari wilayah yang dikuasai RSF pada Minggu (26/10/2025).
Kondisinya benar-benar mengerikan. Penembakan membabi buta terjadi di masjid dan Rumah Sakit Saudi, tempat pasien dan petugas kesehatan menjadi korban. Jatuhnya wilayah El-Fasher menjadikan RSF hampir menguasai seluruh wilayah Darfur Barat. Sejak 2023, RSF telah terlibat perang saudara dengan tentara Sudan yang menewaskan puluhan ribu orang akibat kelaparan, pemboman, kekerasan seksual, dan eksekusi di luar hukum. Lebih dari 12 juta orang terpaksa mengungsi. (Republika.co.id, 30/10/2025)
Dalam waktu empat hari, sejak 26 hingga 29 Oktober, International Organization for Migration (IOM) mencatat sebanyak 62.263 orang mengungsi dari El-Fasher menuju El-Obeid. Krisis ini kian mengkhawatirkan karena disertai kelangkaan pangan, air bersih, dan tempat berlindung. Perang di Sudan bukan sekadar konflik militer, tetapi telah berubah menjadi bencana kemanusiaan yang menuntut perhatian dan aksi cepat komunitas internasional. (Minanews.net, 02/11/2025)
Ironisnya, perang saudara di Sudan bukanlah hal baru. Konflik serupa telah berlangsung sejak 1983 hingga 2005, dan kini terulang kembali. Saat ini Sudan menjadi ajang perebutan kekuasaan dua jenderal: Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin militer Sudan (SAF), dan Muhammad Hamdan Dagalo alias Hemedti, pemimpin RSF. Perang yang memasuki tahun ketiga ini telah menelan puluhan ribu korban jiwa serta menyebabkan jutaan orang mengungsi.
Namun, konflik Sudan bukan semata perang internal atau etnis. Di baliknya ada keterlibatan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Inggris, bersama sekutunya—zionis dan Uni Emirat Arab (UEA)—yang memperebutkan pengaruh politik dalam proyek “Timur Tengah Baru” serta sumber daya alam (SDA) Sudan yang melimpah. Ironisnya, negara-negara imperialis kapitalis yang kerap mengeklaim diri sebagai juru damai justru berlomba menjarah kekayaan Sudan tanpa memedulikan penderitaan rakyatnya.
Sudan sebenarnya adalah salah satu negara terbesar di Afrika, dengan 597 etnis di dalamnya. Sekitar 70 persen penduduknya menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu. Negeri ini memiliki peradaban kuno, lebih banyak piramida dibanding Mesir, dan dilalui Sungai Nil yang terpanjang di dunia. Sudan juga merupakan produsen emas terbesar di kawasan Arab.
Produksi emas resmi Sudan sempat stabil di atas 80 ton per tahun sebelum perang, lalu menurun di awal konflik dan kembali naik menjadi 73,8 ton pada 2024 (World Gold Council). Meski kaya akan emas, tambang, energi, dan hasil bumi, rakyat Sudan tetap hidup dalam kemiskinan. Infrastruktur pedesaan rusak, banyak jalan tak beraspal dan terendam lumpur saat hujan. Kekayaan alam mereka menjadi rebutan negara-negara besar, sementara rakyatnya terus menderita. Inilah wajah nyata kezaliman sistem kapitalisme.
Saatnya umat Islam menyadari dan meningkatkan level berpikirnya agar mampu membaca konflik ini secara ideologis. Belum tuntas penderitaan saudara kita di Palestina, Uyghur, dan Rohingya, kini Sudan pun porak-poranda. Rakyat menjadi korban di antara peluru dan kelaparan. Anak-anak dan perempuan terlunta-lunta tanpa rumah, keluarga, maupun harapan, hidup dalam ketakutan menanti bantuan yang tak kunjung datang.
Perang peradaban antara Islam dan ideologi non-Islam adalah keniscayaan. Simpati umat tidak cukup hanya dengan memboikot produk yang berafiliasi dengan Zionis, tetapi juga harus menyadari adanya peran negara-negara seperti UEA dan sekutunya yang turut menindas negeri-negeri Muslim. Persatuan umat dalam sistem Islam—Khilafah—adalah satu-satunya solusi hakiki untuk menuntaskan krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan hingga ke akarnya.
Allah Swt. berfirman: “Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (QS al-Anfal: 73)
Di bawah naungan Khilafah, persatuan negeri-negeri Muslim menjadi keniscayaan dalam menghadapi hegemoni Barat yang terus menjajah, memecah belah, dan menindas umat Islam.
Kesadaran yang dibangun atas dasar iman akan memotivasi umat untuk berjuang menegakkan Khilafah yang menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup. Sistem batil kapitalisme harus segera disingkirkan karena menjadi sumber kezaliman dan kehancuran. Sudan kini menjadi cermin luka kemanusiaan yang dalam. Jangan tinggal diam ketika jeritan manusia tak lagi menggugah hati dan penderitaan menjadi berita yang berlalu begitu saja! Wallahualam bissawab.
Oleh: Umi Kulsum,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 37
















