Tinta Media – Berita meninggalnya Irene Sokoy, ibu hamil muda di Jayapura, bersama bayi dalam kandungannya, sungguh menyayat hati. Pada Minggu, 16 November 2025, ia dibawa dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain—empat fasilitas kesehatan sekaligus—namun tidak satu pun memberikan penanganan memadai hingga akhirnya ia dan bayinya kehilangan nyawa (Detik.com, 26/11/2025). Bagaimana mungkin di negeri sebesar ini, dengan klaim universal health coverage (setneg.go.id, 14/3/2023), seorang ibu yang sedang berjuang melahirkan tidak mendapatkan pertolongan? Lebih ironis, kasus seperti ini bukan yang pertama: pasien ditolak, dirujuk ke sana sini, tersandung administrasi, hingga akhirnya meregang nyawa.
Sebagai pendidik, saya membayangkan apa yang dipahami anak-anak ketika membaca berita demikian. Apa arti nyawa manusia? Apa fungsi negara? Apa masa depan mereka? Tragedi seperti ini bukan hanya duka keluarga korban, tetapi pukulan bagi bangsa yang sedang membesarkan generasi.
Tolak Pasien, Rumah Sakit Pelayanan Kesehatan?
Secara logika, rumah sakit adalah tempat terakhir seseorang berharap hidupnya terselamatkan. Namun faktanya, banyak rumah sakit menolak pasien dengan alasan ruang penuh, dokter tidak ada, administrasi belum lengkap, atau pembayaran belum jelas—padahal pasien berada dalam kondisi darurat. Penolakan demikian menunjukkan bobroknya sistem pelayanan kesehatan hari ini: rumit, birokratis, dan sering kali abai. Bukan sekadar persoalan oknum, tetapi masalah sistemis. Dalam sistem sekuler kapitalis, kesehatan telah berubah menjadi komoditas. Rumah sakit dituntut menghasilkan, layanan dianggap produk, dan pasien diposisikan sebagai konsumen. Tak heran jika prosedur lebih penting daripada keselamatan, dan akses layanan berkualitas hanya untuk mereka yang mampu, sementara rakyat di wilayah terluar seperti Papua berulang kali menanggung risiko kematian.
Ketika Nyawa Ibu Hamil Tidak Dianggap Mendesak
Ibu hamil seharusnya masuk kategori pasien prioritas darurat (keslan.kemkes.go.id). Penanganan harus cepat dan tanpa hambatan. Jika ibu hamil saja bisa ditolak berkali-kali, bagaimana nasib pasien miskin, bayi prematur, atau masyarakat yang tinggal jauh dari kota? Anak-anak kita tumbuh dengan ketakutan bahwa sakit itu menakutkan, berobat itu mahal, dan rumah sakit bukan tempat aman. Generasi membutuhkan rasa aman untuk tumbuh, namun sistem hari ini justru mengikis empati dan kepercayaan mereka terhadap negara.
Pandangan Islam
Islam mengajarkan bahwa kesehatan adalah hak, bukan komoditas. Negara wajib memastikan seluruh rakyat—kaya atau miskin, di kota maupun pedalaman—mendapat pelayanan kesehatan gratis, mudah, dan berkualitas. Sejarah peradaban Islam membuktikan hal ini. Pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik, rumah sakit dibangun lengkap dengan dokter, perawat, obat-obatan, bahkan layanan kunjungan ke rumah bagi warga yang tidak mampu datang ke fasilitas kesehatan. Semua layanan diberikan tanpa biaya, sebagai bagian dari penjagaan jiwa (hifzhun nafs) yang merupakan kewajiban negara. Sistem Islam juga memastikan distribusi tenaga kesehatan merata dan tidak ada pasien ditolak karena administrasi atau pembayaran. Keselamatan nyawa adalah prioritas absolut.
Generasi Kita Berhak Tumbuh dalam Sistem yang Menjamin Kehidupan
Tragedi seperti ini harus menjadi pengingat bahwa sistem kesehatan kita tidak sedang baik-baik saja. Banyak tenaga kesehatan bekerja dengan hati, tetapi mereka terbelenggu sistem yang keliru. Selama sistem masih sekuler kapitalistik yang menjadikan kesehatan sebagai bisnis, kisah pilu akan terus berulang. Generasi kita berhak tumbuh dalam negara yang menjamin hidup mereka sejak sebelum lahir. Ada sistem yang menempatkan manusia sebagai prioritas, bukan laba—itulah sistem Islam kafah.
Saatnya Kembali pada Solusi Ideologis
Kita tidak cukup hanya mengutuk atau meminta maaf setiap kali tragedi terjadi. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemis. Sistem Islam kafah menawarkan konstruksi pelayanan kesehatan yang terbukti: gratis, mudah, cepat, dan berkualitas. Negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi penanggung jawab langsung kesehatan rakyat. Inilah solusi ideologis yang diperlukan—bukan tambalan, tetapi perubahan menyeluruh. Semoga kisah Irene Sokoy menjadi yang terakhir dan menjadi pengingat bahwa nyawa manusia terlalu berharga untuk diserahkan pada sistem kesehatan yang berorientasi bisnis. Generasi hari ini dan mendatang layak mendapatkan yang jauh lebih baik. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ifah Komalasari, S.Pd.,
Pengajar Mapel Tsaqofah Islamiyah di Hagia Sophia ILS
![]()
Views: 29
















