Tinta Media: Banjir Sumatera, Bukti Rakusnya Sistem Kapitalisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Narator Tinta Media menilai bencana banjir di Sumatera bukan semata peristiwa alam, melainkan sebagai bukti rakusnya sistem kapitalisme.

“Banjir yang melanda Sumatera bukan sekadar air bah. Ini adalah bukti paling jelas bahwa kerakusan kapitalisme sudah berubah menjadi bencana yang dilegalkan negara,” ujarnya dalam video bertajuk “Banjir Sumatera, Kejahatan Kapitalisme yang Dilegalkan Negara” yang tayang di kanal YouTube Tinta Media Studios, Selasa (9/12/2025).

Narator membeberkan, kondisi lapangan yang menunjukkan tingkat kerusakan hutan dan lingkungan yang parah.

“Lihat faktanya! Di banyak titik banjir, hutan jadi bolong seperti kain percah, bukit-bukit gundul, sungai dangkal penuh lumpur, dan yang paling menyakitkan, gelondongan kayu hanyut deras di tengah banjir,” terangnya.

Ia menyebut gelondongan kayu yang hanyut itu merupakan bukti kejahatan lingkungan yang telah berlangsung lama.

“Itu bukan kayu biasa. Itu bukti kriminal lingkungan yang sudah berlangsung lama. Bukti bahwa ini bukan bencana alam, ini bencana buatan manusia, buatan sistem,” ungkapnya.

“Apa sistemnya? Kapitalisme. Sistem yang memerintahkan ambil sebanyak-banyaknya, keluar modal sesedikit mungkin. Dan kalau terjadi bencana, biarkan rakyat yang menanggung akibatnya,” jelas Narator.

Ia menambahkan, hutan dibabat untuk sawit, tambang keduk sana sini. Izin konsesi dibagi seperti permen. Para elite dapat keuntungan triliunan, sedangkan rakyat dapat lumpur, banjir, dan kuburan.

“Dan mengapa semua ini terjadi? Karena negara makin tunduk pada oligarki, undang-undang dilonggarkan, pengawasan dipreteli, korporasi diberi karpet merah,” bebernya.

Lebih jauh, ia juga menyebut bahwa gelondongan kayu yang hanyut dalam banjir itu sebagai simbol keberpihakan negara pada pemilik modal.

“Ketika gelondongan kayu hanyut, itu bukan hanya batang pohon. Itu simbol bahwa negara sudah berpihak pada modal, bukan pada rakyat,” sesalnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan sumber daya alam berada di tangan swasta dan hanya menguntungkan segelintir orang.

“Kenyataannya pahit. Sumber daya alam dikuasai swasta. Keuntungannya untuk segelintir orang. Risikonya ditanggung jutaan rakyat,” pungkasnya.[] Muhar

Loading

Views: 50

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA