Tinta Media – Pemerintah Indonesia menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas sektoral yang melibatkan 9 kementerian dan lembaga untuk menangani darurat kesehatan mental anak.
Penandatanganan berlangsung di kantor Kemenko PMK Jakarta pada Kamis (5/3/2026). Kebijakan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya kasus yang memprihatinkan, seperti bunuh diri pada anak serta kekerasan anak terhadap orang tua.
Menko PMK Pratikno menyatakan bahwa gangguan kesehatan jiwa pada anak menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai persoalan ini memiliki banyak faktor risiko sehingga tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja.
Karena itu, pemerintah melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, antara lain Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, serta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dengan dukungan aparat kepolisian.
Menurut pemerintah, gangguan kesehatan mental pada anak berkaitan dengan berbagai faktor, seperti masalah keluarga, kekerasan di lingkungan sekolah, hingga paparan konten media sosial. Karena itu, penanganan diarahkan pada langkah promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif secara terpadu.
Sekilas langkah ini menunjukkan keseriusan negara dalam merespons persoalan kesehatan mental anak. Namun jika dicermati lebih dalam, kebijakan ini baru menyentuh gejala, belum menyentuh akar persoalan. Negara lebih menekankan pendekatan teknis seperti edukasi, deteksi dini, konseling, dan rehabilitasi. Padahal, krisis mental yang menimpa generasi muda tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari cara pandang hidup yang berkembang dalam masyarakat.
Sekuler-Kapitalistik
Saat ini kehidupan manusia didominasi oleh sistem sekuler-kapitalistik yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini membentuk manusia dengan orientasi material. Pendidikan menekankan prestasi akademik, persaingan, dan kesuksesan duniawi. Namun pada saat yang sama, pertanyaan paling mendasar tentang kehidupan jarang mendapat perhatian serius: dari mana manusia berasal, untuk apa hidup di dunia ini, dan ke mana manusia akan kembali setelah mati.
Dalam Islam, tiga pertanyaan tersebut merupakan inti dari uqdatul kubra, yaitu simpul besar pemikiran yang menjadi fondasi cara pandang manusia terhadap kehidupan. Ketika manusia tidak memiliki jawaban yang jelas dan meyakinkan atas persoalan ini, ia mudah mengalami kegelisahan dan kekosongan makna.
Pada anak dan remaja, kekosongan makna ini dapat berkembang menjadi gangguan mental, depresi, bahkan tindakan putus asa seperti bunuh diri. Fenomena ini juga terlihat di berbagai negara maju.
Kemajuan ekonomi dan teknologi ternyata tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa. Sebaliknya, ketika kehidupan dipisahkan dari petunjuk wahyu, manusia kehilangan arah dan tujuan hidup.
Islam memandang kesehatan mental tidak terpisah dari kekuatan akidah. Ketika akidah kokoh, cara berpikir dan sikap mental manusia menjadi stabil. Dari sinilah lahir syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian yang terbentuk dari pola pikir dan pola sikap yang bersumber dari akidah Islam.
Peran Negara
Dalam sistem Islam, negara tidak hanya berperan sebagai pengatur administratif. Negara juga menjaga akidah masyarakat serta membangun lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang beriman dan berakhlak. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki visi hidup yang jelas. Media dijaga dari konten yang merusak mental dan moral. Lingkungan sosial dibangun untuk menumbuhkan ketenangan jiwa, bukan sekadar mendorong kompetisi material.
Karena itu, jika ditanya siapa biang kerok darurat mental anak, jawabannya tidak cukup berhenti pada media sosial, konflik keluarga, atau tekanan akademik. Semua itu hanya faktor pemicu di permukaan. Akar persoalannya terletak pada sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan dan mengosongkan makna hidup manusia.
Solusi Mendasar
Selama kehidupan terus dipisahkan dari agama, krisis mental generasi muda bangsa ini (Indonesia) akan terus berulang dalam berbagai bentuk.
Karena itu, solusi mendasar bagi darurat mental anak adalah mengembalikan kehidupan bangsa ini kepada pandangan hidup Islam yang mampu memberikan makna, arah, dan tujuan hidup yang jelas. Dengan fondasi keimanan yang kokoh, generasi muda akan memiliki ketahanan mental dan ketenangan jiwa karena hidupnya terikat pada petunjuk Sang Pencipta. Dan ini juga membutuhkan peran negara.
Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 33
















