Pelajar dalam Jerat Narkoba: Bukti Kegagalan Sistem Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Pelajar dalam Jerat Narkoba: Bukti Kegagalan Sistem Sekuler

Tinta Media – Kasus Peredaran narkoba di Indonesia seakan tidak pernah surut. Mirisnya, pelaku tersebut bukan lagi orang dewasa atau jaringan kriminal profesional, tetapi juga telah merambah ke kalangan pelajar, generasi yang seharusnya menjadi tumpuan harapan masa depan bangsa.

Fakta miris ini terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB), tepatnya di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Dua orang pelaku berinisial SH (26) dan KF (yang masih berstatus sebagai pelajar) berhasil tertangkap polisi saat mereka hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah (detik.com, 2/4/2026).

Peristiwa serupa juga terjadi di Sulawesi Tenggara. Seorang pelaku berinisial HS (19) yang juga masih pelajar, tertangkap Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari, karena kedapatan menyimpan puluhan paket sabu di beberapa tempat (suarasultra.com, 30/4/2026).

Terjerumusnya generasi harapan bangsa dalam lingkaran narkoba merupakan alarm keras bahwa sistem yang ada telah bermasalah dalam menjaga generasi muda. Jika generasi yang diharapkan terjebak dalam lingkaran kejahatan, bahkan menjadi bagian dari jaringan narkoba, apa jadinya nasib masa depan peradaban nanti?

*Sekularisme: Menjauhkan Generasi dari Nilai Agama*

Keterlibatan pelajar dalam narkoba tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Di baliknya ada akar persoalan mendasar, yaitu penerapan sistem sekuler yang memisahkan peran agama dari kehidupan. Agama hanya sebatas urusan ibadah ritual, bukan sebagai pedoman hidup.

Dalam sistem ini, pelajar tumbuh tanpa fondasi keimanan yang kokoh. Mereka tidak dibimbing untuk memahami bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Akibatnya, kontrol diri menjadi lemah.

Ketika agama tidak menjadi standar dalam bertindak, maka yang mengambil alih adalah kepentingan materi. Inilah yang menjadi pintu masuk bagi kapitalisme. Di sini, keuntungan menjadi tujuan utama, tanpa mempedulikan halal dan haram.

Pelajar yang terjebak dalam pola pikir ini akan mudah tergoda oleh iming-iming uang cepat dari bisnis narkoba. Mereka tidak lagi mempertimbangkan dampak buruknya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

*Kegagalan Sistem Pendidikan dan Hukum*

Pelajar yang terlibat peredaran narkoba merupakan bukti adanya kegagalan sistem dalam menjaga generasi. Hal ini tidak cukup hanya dipahami sebagai kenakalan remaja atau kesalahan individu.

Sistem pendidikan saat ini lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan kerja semata. Pelajar didorong untuk unggul secara intelektual, tetapi tidak dibekali dengan kepribadian yang kuat. Akibatnya, muncul generasi yang cerdas dalam berpikir, tetapi lemah dalam menghadapi godaan moral dan spiritual. Mereka mampu memahami pelajaran di dalam kelas, tetapi tidak memiliki ketahanan diri dengan realitas kehidupan di luar.

Begitu pula kurikulum yang minim muatan akidah dan akhlak. Pelajar tumbuh tanpa arah hidup yang jelas. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit dari mereka tergoda mencari kesenangan atau keuntungan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Sementara itu, nilai kebebasan dalam sistem pendidikan sekuler kerap dimaknai tanpa batas, sehingga melemahkan kontrol diri. Dampaknya, narkoba tidak hanya dijadikan sebagai pelarian, tetapi juga peluang yang menguntungkan.

Sementara itu, sanksi hukum yang tidak tegas dan konsisten membuat pelaku tidak merasa takut dan bisa mengulangi kesalahannya meski telah menjalani hukuman. Bahkan, tidak jarang jaringan narkoba tetap beroperasi meski beberapa anggotanya ditangkap.

*Islam Membangun Generasi Berkepribadian Tangguh*

Islam menawarkan solusi komprehensif untuk menjaga generasi, mencakup aspek individu, keluarga, masyarakat, hingga negara. Pendidikan dalam Islam tidak hanya fokus pada ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian sesuai syariat. Pelajar diarahkan untuk memiliki pola pikir dan bersikap yang benar, serta kesadaran bahwa setiap aspek kehidupan adalah ibadah yang akan dipertanggungjawabkan. Hasilnya, lahir kontrol diri yang kuat, menjadikan halal dan haram sebagai pedoman, serta tidak mudah tergoda oleh keuntungan yang tidak diridai.

Di sisi lain, keluarga adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter. Orang tua berperan sebagai pendidik yang menentukan arah kehidupan anak melalui penanaman nilai-nilai Islam dan keteladanan nyata. Adanya hubungan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, memperkuat pembinaan tersebut. Selain itu, masyarakat perlu menghadirkan lingkungan yang menjaga, dengan menumbuhkan budaya amar makruf nahi munkar dan tidak memberikan ruang kemungkaran. Lingkungan yang baik akan menjadi benteng yang mampu melindungi generasi dari berbagai pengaruh negatif.

Negara memegang peranan penting dalam menjaga generasi dengan menerapkan hukum yang tegas bagi seluruh pelaku narkoba, tanpa terkecuali. Hukuman yang kuat akan memberikan efek jera sekaligus mencegah kejahatan yang berulang. Selain itu, negara juga perlu menutup berbagai celah peredaran narkoba, serta memastikan bahwa seluruh sistem kehidupan harus berjalan sesuai nilai-nilai Islam, sehingga tercipta perlindungan yang kuat bagi generasi.

Dengan demikian, selama pendidikan belum mampu membentuk kepribadian dan hukum yang tidak menjerakan, maka kerusakan akan terus berulang. Sudah saatnya kita bergerak mendorong perubahan yang menyeluruh sebagaimana sistem Islam, agar generasi tidak terus terjerumus, tetapi tumbuh kuat, terarah, dan berakhlak.

Oleh: Elvana Oktavia, S. Pd.
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA