Kapitalisme di Titik Nadir: antara Syahidnya Lebanon dan Bangkrutnya AS

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Kapitalisme di Titik Nadir: antara Syahidnya Lebanon dan Bangkrutnya AS

Tinta Media – Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja, atau lebih tepatnya, sedang dipaksa hancur oleh keserakahan sistemik. Belum genap satu putaran jarum jam setelah retorika gencatan senjata antara AS dan Irak didengungkan, Zionis Israel kembali menunjukkan wajah aslinya sebagai entitas pencabut nyawa. Pada 9 April 2026, bom-bom canggih buatan Amerika kembali menghujam tanah Lebanon, menyisakan puing-puing dan puluhan nyawa yang gugur syahid (Sumber: detik.com, 9/4/2026). Pengkhianatan ini bukan sekadar insiden militer, melainkan bukti sah bahwa hukum internasional hanyalah secarik kertas tak bernilai di hadapan ambisi hegemoni.

​Namun, di balik mesiu yang meledak di Timur Tengah, ada pemandangan kontras di jantung “Imperium” Amerika. Jutaan warga AS turun ke jalan dalam aksi “No Kings” pada 28 Maret lalu. Mereka tidak sedang meneriakkan yel-yel kebebasan, melainkan jeritan lapar dan kemarahan. Bagaimana tidak, utang nasional AS telah menembus angka tertinggi: US$39 triliun! Sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia (28/3/2026), kebijakan militeristik Donald Trump telah memaksa setiap bayi yang baru lahir di Amerika memikul beban utang hampir Rp2 miliar.

​Inilah ironi terbesar abad ini: Sebuah negara yang hampir bangkrut secara finansial tetap memaksakan diri mendanai genosida di belahan bumi lain. Rakyat Amerika berteriak karena uang pajak mereka tidak berubah menjadi jaminan kesehatan atau pendidikan, melainkan menjadi rudal yang membantai warga sipil di Lebanon dan Palestina. Ini adalah bukti nyata kebusukan kapitalisme; sebuah sistem yang hanya bisa bertahan hidup dengan cara mengisap darah bangsa lain melalui perang dan utang.

Islam: Jawaban atas Kegagalan Global

​Saat kapitalisme sedang menuju sakaratul maut, umat Islam seharusnya tidak lagi menoleh pada mereka sebagai solusi. Lihatlah, bagaimana sejarah mencatat kemuliaan Islam saat menghadapi pengkhianatan, ketika kaum Yahudi Bani Nadhir mengkhianati perjanjian damai di Madinah, Rasulullah saw. tidak mengajak mereka “berunding tanpa akhir” di meja diplomasi yang penuh tipu daya. Beliau mengambil tindakan tegas demi menjaga marwah dan keamanan negara. Itulah kepemimpinan yang berwibawa.

​Kejayaan Islam selama berabad-abad bukan karena mereka memiliki cadangan emas yang tak terbatas, melainkan karena penerapan Islam kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah. Di bawah Khilafah, ekonomi tidak dibangun di atas gelembung utang ribawi yang mencekik rakyat. Harta publik, seperti minyak dan gas tidak diserahkan kepada korporasi asing, melainkan dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat.

Bayangkan jika Selat Hormuz yang kini ditutup kembali dikuasai oleh kepemimpinan Islam yang satu; jalur itu akan menjadi alat tawar politik yang luar biasa untuk menghentikan kezaliman terhadap Lebanon dan Palestina, bukan sekadar komoditas ekonomi yang dipermainkan spekulan.

​Allah Swt. telah memperingatkan,

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka ….” (QS. Hud: 113)

Bergantung pada AS dan sistem demokrasi adalah bentuk kecenderungan pada kezaliman yang terbukti hanya menghasilkan penderitaan.

Solusi Konkret: Kembali ke Sistem Langit

​Netizen dan masyarakat dunia harus sadar bahwa kita tidak butuh sekadar ganti pemimpin. Namun, kita butuh ganti sistem. Kebangkrutan AS adalah lonceng kematian bagi ideologi buatan manusia. Karena itu, saatnya kita menyongsong kembalinya kehidupan Islam. Penegakan Khilafah adalah solusi syar’i sekaligus kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran total.

​Hanya dengan Khilafah, umat Islam memiliki perisai yang nyata. Hanya dengan Khilafah, kekayaan alam kita tidak akan dirampok untuk mendanai senjata yang justru membunuh saudara kita sendiri. Sudah saatnya kita bergerak, mengedukasi umat, dan memperjuangkan tegaknya Syariah secara utuh. Fajar Islam harus segera terbit untuk menggantikan senjakala kapitalisme yang kelam ini. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Neno Salsabillah
Aktivis Muslimah & Muslimpreneur

Loading

Views: 7

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA