Jurnalis: Kapitalisme Digital Mudahkan Pembentukan Opini Publik

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) menilai, sistem kapitalisme digital mendorong ketergantungan masyarakat terhadap platform teknologi, sehingga semakin memudahkan korporasi digital membentuk opini publik melalui algoritma dan mesin rekomendasi.

“Semakin manusia malas berpikir mandiri, semakin mudah opini publik diarahkan melalui algoritma, media sosial, dan mesin rekomendasi digital,” tuturnya kepada Tinta Media, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat teknologi tidak lagi berfungsi sekadar sebagai alat bantu, melainkan perlahan membentuk cara masyarakat memahami informasi dan realitas di ruang digital.

“Dalam sistem kapitalisme digital, manusia yang pasif justru menguntungkan. Semakin manusia bergantung pada platform digital, semakin besar keuntungan korporasi teknologi,” ujarnya.

Om Joy menjelaskan, perkembangan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan berbagai platform digital telah memperkuat budaya serba instan di tengah masyarakat. Akibatnya, banyak orang lebih memilih memperoleh jawaban secara cepat dibanding melalui proses membaca, mengkaji, dan memahami suatu persoalan secara mendalam.

“Akibatnya, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi perlahan membentuk cara manusia berpikir, membaca, bahkan memahami realitas,” katanya.

Ia lantas mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan teknologi digital perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi maupun opini yang berkembang di ruang siber.

“Ketika manusia kehilangan tradisi berpikir kritis, maka ia menjadi semakin mudah dipengaruhi arus informasi global,” tegasnya.

Lebih lanjut, Om Joy menegaskan bahwa Islam memuliakan akal sebagai sarana untuk memahami kebenaran dan menjalankan perintah Allah SWT.

Karena itu, perkembangan teknologi semestinya tidak membuat manusia meninggalkan tradisi tafakkur, tadabbur, dan pengkajian yang menjadi ciri peradaban Islam.

“Islam tidak anti AI dan tidak anti teknologi. Namun teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan fungsi akalnya. AI semestinya menjadi alat bantu untuk mempercepat pekerjaan manusia, bukan menggantikan proses berpikir dan tadabbur,” tegasnya

Menurutnya, kemajuan teknologi harus diarahkan untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan memperkuat kualitas intelektual umat. Sebab, kebangkitan peradaban tidak lahir dari budaya instan, melainkan dari tradisi membaca, mengkaji, berdiskusi, dan berpikir mendalam.

“Padahal dalam Islam, ilmu bukan sekadar banyaknya teks atau cepatnya jawaban, tetapi kedalaman pemahaman dan proses berpikir yang benar. Karena itu, AI semestinya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan membuat manusia berhenti berpikir,” pungkasnya.[] Ikbal

Loading

Views: 29

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA