Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hidup di era digital memberi Generasi Z (Gen Z) akses informasi tanpa batas sekaligus kebebasan untuk memilih jalur karir baru. Namun, kemudahan ini ibarat pisau bermata dua, sebab diiringi oleh tekanan ekonomi dan sosial yang kian berat.

Buktinya, Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat bahwa 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Angka ini melonjak tajam dibanding tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 30% (Kompas.com, 19/02/2026).

Di tengah impitan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Fenomena ini didorong oleh sistem sekuler-liberal yang membebaskan individu tanpa menyertakan nilai agama dalam keseharian, sehingga pelarian hedonis menjadi pilihan.

Media sosial pun memperparah kondisi ini melalui tren populer yang memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan perilaku belanja impulsif. Alhasil, aktivitas konsumtif tersebut kini beralih fungsi menjadi pemenuhan kebutuhan emosional demi kesehatan mental, bukan lagi sekadar gaya hidup mewah.

Seperti yang dialami oleh Bayu, seorang pekerja muda dari generasi Z. Setiap menerima gaji, ia selalu menyisihkan uang untuk berlangganan Spotify, menonton bioskop, atau mencoba tempat makan baru yang ditemuinya di media sosial. Bagi Bayu, pengeluaran tersebut adalah cara menikmati hasil kerja sekaligus menjaga kesehatan mental dari tekanan hidup yang sulit ia kendalikan (Kompas.com, 12/08/2026).

Jika dibedah lebih dalam, paradoks konsumsi ini merupakan dampak langsung dari kegagalan sistemik yang membebani Gen Z. Mereka hidup dalam sistem kapitalisme yang seluruh mekanismenya diatur oleh pasar. Komersialisasi kebutuhan pokok seperti pendidikan, hunian, transportasi, dan kesehatan makin diperparah oleh lonjakan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan.

Sayangnya, negara tidak sepenuhnya mengambil peran sebagai penanggung kebutuhan dasar rakyat, bahkan cenderung lepas tangan dari kewajiban tersebut. Akibatnya, generasi muda dituntut untuk berjuang sendiri menghadapi berbagai permasalahan hidup dengan kekuatan ekonomi mereka sendiri.

Pada akhirnya, situasi ini menciptakan kondisi yang berlawanan. Di satu sisi, Gen Z dituntut untuk mandiri secara finansial dengan bekerja keras, menabung, dan berinvestasi demi masa depan. Namun, di sisi lain, mereka dihadapkan pada realita gaji stagnan yang habis terkikis oleh biaya hidup.

Ketidakpastian masa depan hari ini telah mengubah perilaku konsumsi Gen Z. Alih-alih menabung untuk investasi jangka panjang, mereka memilih mengalihkan daya belinya pada kesenangan jangka pendek. Fenomena ini menjadi pelarian logis ketika impian-impian besar seperti memiliki rumah sendiri terasa kian tidak rasional untuk dicapai akibat impitan ekonomi.

Namun, jika kita telaah lebih dalam, ada krisis kebingungan hidup yang mengkhawatirkan di balik tren tersebut. Gejala ini menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z mulai kehilangan arah dan tujuan hidup yang sejati. Akibatnya, indikator kebahagiaan pun bergeser; tidak lagi bersandar pada rida Allah dan upaya meninggikan kemuliaan nilai-nilai Islam, melainkan sekadar pemenuhan materi dan kepuasan semu yang sifatnya sementara.

Ketika manusia tidak memiliki pemahaman yang benar tentang tujuan hidup, kebahagiaan mudah diukur dengan materi, popularitas, pengalaman menyenangkan, dan pengakuan sosial.

Berbeda dengan sistem sekuler, Islam memberikan jawaban yang mendasar mengenai hakikat penciptaan manusia di dunia. Islam tidak hanya mengatur bagaimana seseorang membelanjakan uang. Islam menjelaskan dari mana manusia diciptakan, untuk apa manusia diciptakan, bagaimana harta diperoleh, bagaimana harta dibelanjakan, dan apa tanggung jawab negara terhadap rakyat.

Seperti firman Allah Swt. yang tertuang di dalam Al-Qur’an surah Adz-Dzariyat ayat 56,  “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini memberikan perspektif bahwa kehidupan bukan sekadar mengejar kenyamanan dunia, melainkan menjalankan penghambaan kepada Allah Swt.

Karena itu, solusi terhadap persoalan Gen Z tidak cukup berupa nasihat agar lebih hemat atau mengurangi healing. Namun, diperlukan perubahan paradigma dan sistem yang mampu menjamin kesejahteraan sekaligus membangun kepribadian generasi.

Dalam Islam, negara punya tanggung jawab besar sebagai ra’in (pengurus) dan pelindung rakyat. Tugas ini diwujudkan dengan menjamin kebutuhan pokok masyarakat melalui pengelolaan kekayaan alam yang benar.

Negara juga wajib menyediakan lapangan kerja yang layak bagi para laki-laki sebagai kepala keluarga. Dengan begitu, urusan kesejahteraan menjadi tanggung jawab penuh negara, sehingga masyarakat termasuk Gen Z pun tidak perlu lagi berjuang sendirian untuk bertahan hidup.

Selain menjamin ekonomi, negara juga menjaga moral dan pemikiran warganya. Sistem Islam akan membentengi generasi muda dari gaya hidup hedonis dan paham yang merusak seperti sekularisme kapitalisme.

Media massa pun tidak akan dipakai untuk hal-hal yang tidak mendidik, melainkan diarahkan sebagai sarana edukasi untuk meningkatkan ketakwaan masyarakat kepada Allah Swt.

Dengan adanya jaminan ekonomi dan penjagaan moral ini, generasi muda bisa keluar dari tekanan ekonomi, budaya hedonis, dan krisis jati diri. Hasilnya, mereka tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi tumbuh menjadi generasi yang punya tujuan, bervisi besar, dan berani membangun peradaban Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh: Nelly
Aktivis Dakwah

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA