Tinta Media – Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky mengungkapkan dua prasyarat untuk membebaskan Palestina. “Dalam catatan sejarah bumi Al-Aqsa Palestina itu pernah dibebaskan dua kali di masa Khalifah Umar bin Khattab dan juga di masa Sultan Salahuddin Al-ayyubi. Jadi dalam catatan sejarah itu yang bisa membebaskan Palestina itu ada dua prasyarat,” tuturnya dalam video 1.994 Polisi Kawal Aksi Bela Al-Aqsha dan Fal1st1n, di Kanal Youtube Bincang Bersama Sahabat Wahyu, Senin (27/1/2025).
Menurutnya, yang pertama, pemimpinnya muslim yang berkarakter seperti Khalifah Umar dengan sebutannya sebagai khalifah, atau sebagai Sultan Salahuddin Al-ayyubi sebagai penguasa pemerintahan Islam. Lalu yang kedua, lanjutnya, sistemnya menggunakan sistem Islam dan hukum yang diterapkan hukum Islam. “Jadi dua prasyarat itu yang bisa membebaskan Al-Aqsa dua kali,” ujarnya.
Catatan Sejarah
Ia menuturkan bahwa belum ada sejarahnya pemimpin dengan karakter seperti presiden, seperti raja, seperti perdana menteri, dalam catatan sejarah belum ada sejarahnya bisa membebaskan Palestina. “Oleh karenanya, untuk bisa membebaskan Palestina, kita belajar sejarah bagaimana sejarahnya bisa membebaskan itu, Mencontohlah, contoh Khalifah Umar yang pernah membebaskan,” ungkapnya.
“Kalau mencontoh dan mengikuti solusi yang ditawarkan oleh Amerika Presiden Trump sekarang, ini kan masuk jebakan Batman, bahasanya itu. Dan belum ada sejarahnya mengikuti arahan dari negara-negara barat itu baik untuk kaum muslimin,” bebernya.
Jadi, ia melanjutkan bahwa umat Islam kalau ingin membebaskan Palestina dan menjalani kewajibannya menggugurkan kewajiban di pundaknya, harus mencontoh pemimpin-pemimpin yang masa lalu yang pernah berhasil membebaskan Al-Aqsa. Sehingga tidak seperti keledai yang berkali-kali terantuk pada batu yang sama. Kita berkali-kali terantuk dalam perundingan, dalam gencatan senjata berkali-kali. “Nah ini kan, kita bukan keledai ya kan,” ucapnya.
Oleh karenanya, ia menyeru agar umat Islam ini harus bersatu, kemudian membebaskan Al-Aqsha. “Tidak dengan sekedar aksi tetapi aksi untuk mendorong orang-orang yang punya kekuasaan orang yang punya militer yang punya kemampuan kekuatan untuk menggerakkan kekuatan itu,” terangnya.
“Itulah yang dilakukan oleh Khalifah Umar Khalifah Umar datang mengirim pasukan ke sana,” ungkapnya.
Ia menyatakan bahwa kalau ada pemimpin yang mengatakan karakternya yang mirip Khalifah Umar tetapi tidak ngirim pasukan untuk membebaskan Al-Aqsa itu palsu berarti jadi KW. “Kalau kita lihat bahwa di mana Sultan Salahuddin Al-Ayyubi juga sama, tidak sekedar diplomasi tapi mengirim pasukan untuk membebaskan Al-Aqsha,” terangnya.
Ia juga mengingatkan bahwa karakternya Zionis Yahudi laknatullah itu memang para pengingkar janji dan pengkhianat. Kalau mengikutinya dengan berbaik sangka bahwa gencatan senjata ini akan mengakhiri penjajahan, mengakhiri genosida. “Itu tentu apa, kita masuk dalam jebakan yang berkali-kali. Nah oleh karenanya, kalau ingin membebaskan Palestina, syaratnya tadi, kita mengambil sosok dan pemimpin seperti khalifah Umar, membebaskan Palestina dengan mengirim pasukan dengan jihad,” ulasnya.
“Jadi jihad itu, memang kalimat yang paling ditakuti oleh kaum zionis dan para pendukungnya, kalau mendengar istilah jihad itu langsung mereka teringat khalifah Umar membebaskan, Salahuddin membebaskan, mereka teringat itu sehingga mereka takut dengan istilah itu,” paparnya.
“Dan kalau ada umat Islam yang menyampaikan itu, langsung mereka tuding radikal, mereka tuding intoleran dan seterusnya. itulah karakter yang betul memusuhi Islam, kaum muslimin, dan memang pro kepada genosida, pro kepada kezaliman. orang-orang yang suka menyatakan itu faktanya memang pro,” tukasnya.
Ia menyayangkan bahwa kaum muslimin itu sebagian justru terlena dan ikut-ikutan menyatakan seperti itu. Ini butuh untuk mendudukkan persoalan itu, sehingga untuk membebaskan Palestina yang diperlukan adalah mempersatukan kaum muslimin dalam satu kepemimpinan yang bisa menggerakkan pasukan dengan kepemimpinan itu karakter seperti Khalifah Umar atau Sultan Salahuddin Al-ayyubi. “Itulah yang dikategorikan kepemimpinan Islam yang kemudian disebutkan sebagai dengan sistem khilafahnya dan cara melakukannya adalah dengan jihad,” tegasnya.
“Oleh karenanya, kita sering menyebutkan bahwa salah satu solusi untuk membebaskan Palestina adalah dengan cara jihad,” pungkasnya.[] Ajira
![]()
Views: 21
















