Tinta Media – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menyatakan bahwa akar masalah normalisasi perilaku menyimpang LGBTQ+ (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer or questioning, intersex, asexual, and more) adalah sosiologi sekuler.
“Akarnya itu sebenarnya filsafat barat yang namanya sosiologi sekuler gitu,” ujarnya dalam Live Focus Group Discussion (FGD) PKAD (Pusat Kajian dan Analisis Data) #13: Normalisasi LGBTQ+ di Indonesia. Bagaimana Nasib Anak Bangsa? di kanal YouTube PKAD Official, Sabtu (11/7/2026).
Ahmad Sastra mengungkapkan, hal ini terus berkembang sampai kepada institusi-institusi yang kemudian membuat definisi hak asasi manusia, satu indikator-indikator bahwa manusia itu tidak boleh didiskriminasi dan seterusnya.
Langkah berikutnya, lanjutnya, adalah ada disebut dengan sosialisasi yang sudah menjadi semacam satu kesepakatan sosial.
“Sosialisasi dilakukan melalui film, televisi, media sosial, iklan, dunia hiburan. Bahkan kurikulum pendidikan, kebijakan perusahaan, bahkan nanti kebijakan politik yang kita sebut sebagai upaya untuk bisa diterima begitu sampai ke politik,” paparnya.
Bahaya Perubahan Paradigma
Ahmad Sastra menilai adanya perubahan paradigma ini sebenarnya berbahaya.
“Alasannya teori perilaku itu sebenarnya berhubungan dengan apa yang ada di pikiran yang kita sebut dengan motif. Jadi perilaku itu karena ada motif gitu, motif itu karena adanya di pikiran di otak pola pikir. Nah, kalau pola pikirnya itu berubah berubah dengan mengatakan bahwa LGBTQ+ itu normal ada kata-kata gitu di otak gitu, nah.. itu berarti sudah menjadi semacam paradigma,” jelasnya.
Ketika ada orang melakukan perilaku LGBTQ+, sebutnya, maka kemudian akan dbiarkan dianggap lumrah atau biasa karena dianggap yang penting tidak mengganggu.
“Biarin aja.. itu kan urusan dia Nah gitu. , akhirnya ininya tuh efeknya itu yang paling berbahaya gitu,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
![]()
Views: 6
















