Jangan hanya Seremonial, Wujudkan Kemerdekaan Hakiki dengan Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Momen 17 Agustus selalu disambut dengan gegap gempita. Demikian pula yang terjadi di Polres Belawan pada Minggu, 10 Agustus 2025. Mereka mengadakan kegiatan pembagian bendera Merah Putih kepada pengendara dan abang becak yang baru melintas di Simpang Pajak Baru, Belawan. (Tribun Medan, 11/08/2025)

Namun sebelumnya, di tempat berbeda publik dihebohkan dengan fenomena pengibaran bendera One Piece oleh sebagian masyarakat. Aksi ini menyita perhatian publik sebab pengibaran bendera itu dilakukan saat menjelang HUT Kemerdekaan ke-80 RI. Pengibaran bendera Jolly Roger ini menurut pandangan masyarakat sebagai bentuk ekspresi, baik sebagai penggemar anime, maupun sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial dan pemerintahan saat ini.

Lantas, mereka memancangkan bendera tersebut mulai di pagar rumah, perahu kayu, hingga mobil truk. Di dalam cerita anime tersebut, bendera Jolly Roger digunakan untuk menandai wilayah kekuasaan sebagai bentuk pengamanan atau kritik terhadap dominasi pemerintahan dunia.

Pengibaran bendera Jolly Roger ini mencerminkan pola umum bagaimana negara saat ini yang menjadikan simbol-simbol seperti bendera dan seremoni tahunan sebagai bentuk cinta tanah air dan tolak ukur semu pada figuritas yang mencerminkan sikap nasionalisme. Hal ini justru menjauhkan masyarakat dari ikatan persatuan yang lebih urgen berbasis akidah

Pada kenyataannya, kemerdekaan yang hakiki belum tercapai karena negeri ini masih bergantung pada Barat, baik secara politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, dll. Begitu juga lifestyle berkiblat kepada sistem sekularisme kapialisme yang jauh dari Islam. Ditambah rasa nasionalisme membuat sekat-sekat antar negara bangsa (nation state) makin menganga. Sejatinya ini merupakan ulah para penjajah untuk memecah belah umat Islam.

Peringatan kemerdekaan semestinya menjadi momentum untuk mengkaji ulang sejauh mana sistem ini menciptakan keadilan, terutama di daerah-daerah rawan kriminalitas. Kita mesti jujur bertanya pada diri sendiri, apakah dengan mengibarkan bendera nasionalisme itu akan membangkitkan umat untuk bersatu? Lalu, apakah dengan mengibarkan bendera nasionalisme hari ini memerdekakan rakyat dari dominasi asing? Apakah kita benar-benar sudab merdeka?

Indonesia disebut sebagai negeri agraris, di mana lumbung padi tersebar di seluruh Indonesia. Alih-alih sejahtera, rakyat harus mengais-ngais mencari bulir padi hanya untuk sekadar bisa makan. Seperti inikah yang disebut merdeka?

Begitu juga saat negara melakukan penggusuran terhadap rakyat atas rumah yang mereka tempati, kemudian pajak naik sangat tinggi, sumber daya alam diserahkan kepada asing, dan kesehatan mental generasi muda yang kian mengkhawatirkan. Kemerdekaan macam apa yang kita rayakan?

Solusi Paripurna dalam Islam

Sudah saatnya kita kembali kepada solusi hakiki. Islam yang Allah hadirkan untuk semua manusia melalui insan yang menjadi teladan sepanjang masa yaitu Rasulullah Muhammad saw. Islam memandang cinta pada negeri sebagai bagian dari amanah mengelola wilayah berdasarkan aturan Allah untuk menjaga kedaulatan yang berada pada hukum syarak.

Umat Islam hari ini harus memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang punya tujuan hidup. Hanya menghamba pada-Nya, tidak terdistraksi dengan budaya dan hukum di luar Islam, hukum buatan manusia yang sifatnya lemah, terbatas dan serba kurang.

Islam juga membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya pada Allah semata. Satu aturan, satu pemikiran, satu perasaan. Tidak dibatasi sekat-sekat wilayah yang merupakan tipu daya penjajah bernama nasionalisme.

Umat Islam di seluruh dunia bersaudara karena sesungguhnya kita umat yang satu. Maka, sebagai Muslim kita wajib memahami bahwa Islam mempunyai simbol pemersatu, yaitu bendera al-Liwa dan ar-Rayah.

Di bawah naungan khilafah, umat Islam pernah menjadi satu entitas global yang menaungi beragam bangsa. Sistem ini telah terbukti menciptakan peradaban agung selama hampir 13 abad. Khilafah menjadi negara adidaya dan mercusuar dunia. Keadilan terwujud secara merata kepada seluruh warga negaranya, baik Muslim maupun nonmuslim. Bahkan diceritakan, serigala pun tidak menerkam domba saking makmurnya masyarakat saat itu. Hingga pada satu masa, tidak ada lagi yang berhak menerima zakat karena tak ada satu pun yang membutuhkan.

Inilah kemerdekaan yang hakiki, saat manusia bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan dominasi sistem yang tidak berpihak pada rakyat. Semoga masa itu segera hadir kembali. Mari kita bersama-sama berjuang untuk mewujudkannya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Lisa Herlina

Aktivis Dakwah

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA