Aktivis Pawai Global ke Gaza Dideportasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pada 15 Juni 2025 lalu, terjadi aksi pawai global atau lebih dikenal dengan istilah Global March to Gaza (GMTG). Aksi ini dilakukan oleh masyarakat sipil dari berbagai negara. Kabarnya, aksi ini diikuti ribuan relawan dari 80 negara yang akan mendarat di Kairo, Mesir. Para relawan ini akan berjalan kaki bersama-sama melalui sisi Rafah, Mesir, untuk sampai ke perbatasan Gaza dan membuka blokade agar bantuan sosial untuk Gaza yang dibawa mereka bisa masuk (Youtube/metrotv, 17/6/2025).

Seperti sudah diketahui, pintu gerbang Rafah merupakan satu-satunya jalur masuk ke Gaza tanpa melalui Israel. Bahkan, Rafah yang pernah menjadi tempat pengungsian bagi rakyat Gaza pun tak luput dari serangan biadab militer Zionis Israel pada tahun 2024 lalu (kompas.id 29/5/2024).

Aksi GMTG ini tidak hanya sebagai bentuk solidaritas sesama manusia, tetapi juga sebagai bentuk kekecewaan masyarakat sipil terhadap diamnya para pemimpin negeri muslim melihat penderitaan rakyat Gaza yang tak kunjung usai. Aksi damai ini pertama kali digelar di tahun 2012 sebagai bentuk pertentangan terhadap blokade ilegal yang dilakukan Israel. GMTG juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang-orang untuk tetap menyuarakan kemerdekaan bagi Palestina dan mengakhiri krisis kemanusiaan yang terjadi di sana.

Namun sayangnya, aksi ini tidak berjalan mulus. Puluhan relawan dari berbagai negara mengaku pernah diintimidasi, ditahan, diinterogasi di bandara, mengalami blokade jalan menuju semenanjung Sinai, hingga deportasi. Namun, pihak keamanan membantah adanya penyiksaan terhadap relawan GMTG. Pihaknya mengungkapkan bahwa ada sekitar 400 relawan yang sudah dideportasi dan 30 masih ditahan untuk proses deportasi, dan semuanya diperlakukan manusiawi (katakini.com, 18/6/2025).

Deportasi para relawan kemanusiaan ini, menurut Kementerian Luar Negeri Mesir, terjadi karena mereka tidak memiliki izin. Sementara, untuk menjamin keselamatan saat memasuki Rafah, mereka harus memiliki izin khusus. Selain itu, ada kekhawatiran Israel terhadap keamanan tantara-tentara Israel jika para relawan ini berhasil sampai ke perbatasan.

Aksi GMTG ini memang salah satu bentuk aksi damai dan wujud solidaritas yang diharap dapat meningkatkan kesadaran pemimpin setiap negara. Namun, apakah aksi ini mampu menghentikan kebengisan Zionis Israel? Apakah aksi ini aman untuk dilanjutkan? Bagaimana cara Islam menuntaskan persoalan ini?

Tidak dimungkiri bahwa untuk mengembalikan kembali kedaulatan Palestina, dibutuhkan kekuatan yang besar. Pawai global ini menunjukkan bahwa sisi kemanusiaan lebih menonjol daripada kekuatan iman setiap muslim. Peserta GMTG bukan hanya masyarakat Islam, bahkan nonmuslim juga turut serta demi memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Hal ini seharusnya menyentil hati, tidak hanya para pemimpin dunia yang tengah menutup mata dan telinga terhadap krisis ini, tetapi juga seluruh umat Islam di dunia. Bukankah sesama muslim adalah saudara yang juga turut merasakan pedih dengan penderitaan rakyat Palestina?

Aksi yang dilakukan relawan GMTG memang jauh lebih nyata dari sekadar berdiam diri di rumah menjadi penonton. Namun sayangnya, Israel terlalu angkuh untuk mendengar dan melihat aksi ini meski sudah ada di pintu Rafah. Justru yang dikhawatirkan adalah keselamatan para relawan. Relawan-relawan ini tidaklah datang dengan persiapan terbaik. Mereka hanya membawa diri dengan harapan bantuan tersampaikan ke rakyat Gaza dan bisa sekadar memeluk secara langsung. Mereka lupa bahwa di pintu perbatasan ada tentara-tentara militer Israel dengan segala persenjataan lengkapnya. Mereka lupa bahwa keselamatan mereka dipertaruhkan.

Tanpa menyudutkan aksi ini, tanpa mengesampingkan rasa kagum terhadap relawan-relawan yang mau terjun secara langsung, perlu diingat bahwa Mesir sendiri meski sering turut menyuarakan kemerdekaan Palestina, tetapi mereka juga takut dengan ancaman Israel. Langkah deportasi ini adalah bentuk _manut_-nya mereka terhadap Zionis Israel.

Aksi ini menunjukkan bahwa seandainya sekat atau batas negara ditiadakan di seluruh dunia dalam satu komando di bawah naungan Islam, niscaya ada jalan kemudahan untuk melawan Israel dan sekutunya. Kembalinya kepemimpinan Islam dan bersatunya seluruh manusia dalam satu daulah, akan memunculkan satu kekuatan besar. Perlawanan tersebut akan jauh lebih kuat dan besar dari serangan Iran ke Israel baru-baru ini. Serangan itu akan mengakumulasi seluruh kekuatan militer dunia di bawah satu kepemimpinan. Bukan tidak mungkin sejarah terulang seperti saat Shalahuddin Al Ayyubi berhasil membebaskan Baitul Maqdis dari kungkungan tentara Salib. _Wallahu a’lam_.

Oleh: Bunda Annisa
Sahabat Tinta Media

Views: 19

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA