Tinta Media – Setiap hari bertebaran berita tentang perang Gaza Palestina. Hampir dua tahun sudah penyerangan membabi buta dilakukan oleh Israel terhitung sejak Oktober 2023. Namun dunia hanya diam, seakan tidak ada daya. Diam tanpa aksi nyata untuk menghentikan kekejaman penjajah Zionis. Suara ledakan bom terdengar jelas, mayat hancur bertebaran di langit, tubuh anak tanpa kepala, terpotong – potong seolah menjadi pemandangan yang biasa. Nestapa luar biasa, menyayat hati bagi orang yang melihatnya.
Rumah sakit dibom, jurnalis ditembak, obat-obatan dan bantuan pangan dihadang. Tiada tempat untuk meminta pertolongan kecuali bersandar kepada Zat yang tidak pernah tidur, Allah SWT. Gaza, kondisinya kini rusak parah. Gedung yang tinggi kini rata dengan tanah. Penduduk tiada tempat tinggal melainkan reruntuhan bangunan yang tersisa. Gaza mengalami krisis pangan. Mereka terpaksa memakan rerumputan dan kaktus untuk bisa menghilangkan rasa lapar. Asupan protein tidak didapatkan dari daging ikan ataupun ayam. Penduduk Gaza bernama Majida Qanan memenuhinya protein keluarganya dengan dengan memakan daging kura-kura. Sungguh kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya (www.cnnindonesia.com, 19/04/2025)
Nasionalisme Sumber Perpecahan
Kuantitas umat Islam di dunia sangat besar, jumlahnya lebih dari dua miliar. Namun jumlah itu tidak memberikan kekuatan sama sekali. Bagaikan singa tua, tidak bertaring dan sangat lemah. Meskipun seruan jihad telah disampaikan di mana-mana, bahkan ulama dunia dalam Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), telah mengeluarkan fatwa jihad kepada seluruh muslim didunia pada 4 April 2025 yang lalu, namun nyatanya tidak ada satu pun dari negeri Muslim yang mengirimkan tentaranya. Mengapa ini terjadi?
Tidak lain perpecahan umat Islam hari ini disebabkan karena adanya ikatan nasionalisme yang tertanam dalam hati mereka. Ikatan inilah yang telah menjadi benteng pemisah antara negeri-negeri Muslim di dunia. Hanya karena berbeda bangsa, umat Islam dan penguasa negeri ini membiarkan saudara dalam kepungan penderitaan. Inilah ikatan yang diwariskan oleh penjajah kafir barat yang harus dicampakkan dan digantikan dengan ikatan akidah. Ikatan yang menghilangkan sekat sekat fisik, ras, suku warna kulit dan juga tanah kelahiran. Ikatan yang akidah akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia, karena tujuan mereka sama meraih ridha Allah SWT. Tujuan inilah yang akan mengikat dan menyatukan mereka laksana sapu lidi yang akan membersihkan sempurna semua kotoran tatkala setiap lidi disatukan. Sungguh potensi yang luar biasa.
Butuh Khilafah
Umat Islam seharusnya menyikapi segala sesuatu dengan berpegang teguh pada sumber-sumber ajaran Islam seperti Al-Qur’an, Hadist, Ij’ma, dan Qiyas . Namun sayangnya hari ini, ikatan nasionalisme dijadikan dasar dalam merespon perang antara Israel dan Palestina. Dalam Al-Quran surat Al Hujurat ayat 10 Allah SWT tegas menyebutkan bahwa umat Islam itu bersaudara, namun itu tidak memberikan dampak apa-apa bagi Palestina. Perang terus berlanjut. Rasulullah bersabda dalam hadist yang berbunyi “Sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan. Yang sebagian menguatkan sebagian yang lain. Dan Nabi menggabungkan jari-jari tangannya”. (HR. Bukhari).
Seharusnya, umat Islam bersatu bahu-membahu menyelamatkan Palestina dan mengusir kependudukan Israel dari bumi Palestina. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Umat Islam tetap pada kondisinya, menjadi umat yang terpecah belah.
Jumlah umat Islam yang sangat besar, tidak akan ada artinya tanpa persatuan. Tidak akan ada persatuan tanpa ada yang menyatukannya. Umat Islam hari ini butuh Khilafah. Mereka butuh satu kepemimpinan yang akan mereka taati bersama perintahnya. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir, Rasulullah dibaiat untuk dijadikan seorang pemimpin, kepala negara sekaligus menjadi panglima perang. Demikian seterusnya berlanjut pada masa Khulafaur Rosyidin dan kekhilafan setelahnya hingga kurang lebih 13 abad lamanya.
Umat Islam mundur, ketika khilafah mulai dihancurkan, digantikan dengan sistim republik melalui antek penjajah Inggris bernama Mustafa Kemal Attaturk. Sejarah menjadi bukti umat Islam tidak pernah terjajah selama ada khilafah. Umat Islam hidup sejahtera, dan maju menguasai peradapan dunia. Rasulullah bersabda dalam haditsnya: “Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai. …” (HR Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan kalimat ”Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai”, yakni seperti pelindung yang mencegah musuh dari menyakiti kaum muslim, juga mencegah sebagian orang dari (kejahatan) sebagian yang lain, memelihara kemuliaan Islam, orang-orang berlindung kepada dirinya (Khalifah), dan gentar terhadap kekuasaannya. (An-Nawawi, Al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjâj, 6/315, Maktabah Syamilah).
Khatimah
Umat Islam hari ini harus konsisten disadarkan akan bahaya nasionalisme dan pentingnya khilafah. Butuh aktivitas yang terus-menerus, dan harus dilakukan sebagai gerakan yang terorganisir dari sebuah jamaah dakwah. Musuh-musuh Islam tidak akan rela umat Islam meraih kemenangan. Mereka rela tidak tidak dan menghabiskan banyak uang untuk membayar buzzer demi kembalikan opini media. Karena itu, umat Islam harus terus bergerak dengan dorongan keimanan, tanpa lelah sampai umat Islam di seluruh dunia benar-benar sadar bahwa harus ada khilafah di tengah mereka. Pada akhirnya membuat mereka bangun dan menuntut penguasa untuk mengadakannya dan segera mengganti sistem yang kufur menjadi sistim Islam yang penuh dengan keberkahan.
Wallahu alam.
Oleh: Zahra Tenia
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 22
















