Jangan Buru-Buru Bunuh Diri!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Tampaknya, fenomena
bunuh diri bak jamur di musim penghujan. Tidak hanya menyerang usia remaja,
dewasa, ataupun orang tua. Tapi juga mampu menyasar usia anak-anak. Seorang
bocah SD di Kabupaten Pekalongan yang nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung
diri setelah dilarang bermain gadget oleh ibunya. WHO memperkirakan setiap 40
detik terjadi kasus bunuh diri di seluruh dunia, Adapun angka bunuh diri di
Indonesia menyentuh 826 kasus pada tahun 2022, naik 6,37% dibandingkan tahun
2018 yakni 772 kasus. (health.detik.com, 13/10/2023).

Anehnya, fenomena tersebut semakin masif seiring dengan
perkembangan zaman yang semakin modern, yang turut didukung dengan gaya hidup
individualistis, egosentris, dan cenderung praktis. Anak-anak saat ini adalah
generasi yang dididik oleh gadget, tidak bisa dimungkiri mereka akan menemukan role
model
virtual di dalam gadget yang dipegang setiap harinya.

Entah itu youtuber kaya raya, game online yang menjanjikan
kemenangan, seleb tiktok yang berwajah rupawan, atau reels nyeleneh tapi lucu
seperti skibidi toilet yang pernah viral. Terlihat aneh tapi nyata, anak bisa
tersenyum sendiri menatap gadget yang ia pegang, tak lama kemudian ia pun bisa
marah-marah dan membanting gadgetnya.

Persepsi kebahagiaan di benak anak-anak tidak terlepas dari
standar materi duniawi berupa harta atau pujian. Inilah yang membentuk mindset
“kepraktisan” dalam benaknya. Mau cepat terkenal di medsos harus
memperbanyak konten. Mau mengejar posisi top harus push rank. Atau bisa
juga hanya menjadi penonton biasa-biasa saja yang menghabiskan waktu dan kuota
demi killing time dan having fun.

Coba bayangkan, anak-anak yang masih alpha dari pemikiran
Islam, lagi asyik-asyiknya push rank eh disuruh berhenti. Lagi
enak-enaknya nontonin idola malah disita gadgetnya. Jiwanya kosong, dan merasa
menjadi anak paling menderita sejagat raya, tidak berguna. Berbagai emosi yang
hadir tanpa dibimbing oleh syariat hanya menuju kepada pelampiasan yang
sia-sia.

Cikal bakal persepsi keliru inilah yang kemudian berujung
kepada depresi. Ditambah bumbu-bumbu perilaku impulsif atas emosi yang tengah
bergejolak. Lingkungan sekitar pun tidak ada yang mengarahkan kepada qiyadah
fikriyyah
Islam. Bukan tidak mungkin berujung kepada pengambilan sikap
untuk bunuh diri. Naudzubillah min dzalik.

Sebagai orang tua, ini adalah alarm bagi kita bagaimana
mendidik anak di tengah gempuran teknologi yang tidak bisa dielakkan. Segala
informasi membanjiri otak anak-anak yang masih polos dan tak berdosa. Jika
tanpa kendali orang tua, maka anak akan dikendalikan oleh disrupsi digital.

Ditambah dengan arus feminisme terkait, “Perempuan
Berdaya, Perempuan Bekerja” akan makin menggempur ketahanan rumah tangga
kaum muslim. Bukan tidak mungkin peran ibu akan tergantikan oleh “ibu
virtual”. Anak-anak akan meniru apa yang dilihat dan didengar dari
gadgetnya. Mereka diasuh oleh tontonan-tontonan yang tidak mendidik.

Tentu hal ini tidak mampu diredam oleh institusi keluarga
dan masyarakat saja, dibutuhkan kekuatan yang lebih besar. Bukan kekuatan
Superman ataupun Wonder Woman. Melainkan, kekuatan negara yang mampu menyaring
informasi dan tayangan ramah anak, dan kurikulum pendidikan yang mampu
melahirkan generasi-generasi bermental pejuang.

Sebagaimana lahir generasi Islam seperti Usamah bin Zaid
yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun. Kemudian, Muhammad Al Fatih yang
berhasil menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Tentu saja, mereka
dibesarkan dengan kematangan berpikir, dan kedewasaan sikap yang bersumber dari
Alquran dan Hadits.

Tren naiknya kasus bunuh diri di Indonesia adalah alarm bagi
kita bahwa ada yang salah dengan sistem kehidupan hari ini. Sistem
pendidikannya terbukti gagal mencerdaskan generasi, sistem ekonominya terbukti
gagal menyejahterakan para ibu, sistem sosialnya pun terbukti gagal dalam
menjaga akal dan jiwa. Jangan buru-buru bunuh diri, wahai kaum muslim. Inilah
waktu yang tepat untuk berjuang dan menyambut penerapan Islam secara paripurna.
Allahu Akbar!

Oleh: Putri Halimah, M.Si.
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 12

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA