Pengasuhan Optimal di Era Digital

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Saat ini, kita sedang berada di zaman ketika teknologi informasi dan komunikasi memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal berubah dengan hadirnya era digital, seperti interaksi manusia, cara bekerja, cara mengelola bisnis, tidak terkecuali cara mengasuh anak. Orang tua di era digital ini menghadapi tantangan pengasuhan yang jauh berbeda dibandingkan dengan tantangan yang ditemui para orang tua terdahulu.

Survei yang dilakukan oleh lembaga riset Ipsos pada tahun 2024 menunjukkan bahwa perkembangan teknologi merupakan satu dari tiga tantangan pengasuhan anak. Orang tua di era digital dituntut untuk melindungi anak-anak dari konten negatif yang tayang di internet; memantau jenis konten yang diakses anak beserta durasinya; serta menanamkan tanggung jawab digital kepada anak-anak. Temuan lainnya dari survei tersebut menyebutkan bahwa orang tua di era digital juga mengalami banyak kekhawatiran, di antaranya berkaitan dengan kesehatan mental, perundungan (bullying), kerusakan moral, dan dampak teknologi.

Strategi Pengasuhan Anak di Era Digital

Sebagai seorang ibu, pengurus rumah tangga, dan pendidik generasi, tentu kita tidak boleh tinggal diam. Jangan sampai hanya termangu melihat besarnya tantangan, lalu terhanyut dalam kekhawatiran pengasuhan anak di era digital. Agar dapat mengasuh anak secara optimal di era digital ini, ada beberapa strategi yang dapat dijalankan.

Pertama, kembali kepada Islam dengan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan pengasuhan. Di era digital dengan derasnya arus informasi, sangat mudah ditemukan berbagai metode pengasuhan. Ibu sering kali dibuat bingung menentukan metode pengasuhan yang cocok untuk anak-anak mereka. Tidak jarang muncul pertentangan dan ketidaksesuaian antara satu metode dengan metode lainnya. Ibu dapat meminimalkan kebingungan tersebut dengan menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan utama. Banyak kisah pengasuhan anak di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi dalam membersamai anak-anak, sehingga mereka menjadi bagian dari generasi umat terbaik.

Kedua, memahami realitas dunia digital. Dunia digital adalah dunia tanpa batas dan tanpa sekat. Arus informasi begitu deras; berbagai informasi bercampur menjadi satu, baik fakta maupun hoaks. Beragam konten bermunculan, baik yang bermanfaat maupun yang merusak, dan tayang di media yang sama. Dunia digital juga dimanfaatkan oleh pembenci Islam, para kapitalis, dan sekularis. Mereka memanfaatkan dunia digital untuk meracuni pikiran anak-anak dengan menciptakan konten dan tayangan yang dapat merusak akidah, melemahkan pemikiran, serta meruntuhkan idealisme sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, ibu perlu memahami realitas dunia digital agar dapat mengarahkan anak-anak tetap berada di jalur yang tepat meskipun berada di rimba dunia digital.

Ketiga, tidak antipati terhadap perkembangan teknologi. Di era digital ini, ibu justru harus menjadi orang pertama yang mengikuti perkembangan teknologi. Seorang ibu tidak boleh kurang _update_ (kudet) dan gagap teknologi (gaptek) agar dapat mendampingi anak secara optimal saat beradaptasi dan berinteraksi dengan berbagai teknologi baru. Ibu yang melek teknologi akan lebih mudah membantu anak memanfaatkan teknologi sebagai pendukung pengasuhan yang sesuai dengan usia, pertumbuhan, dan perkembangan mereka.

Keempat, menjadi orang tua yang memberi kenyamanan. Dunia digital dan berbagai teknologinya memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Ibaratnya, hanya dari genggaman tangan, kita dapat menjelajah ke seluruh penjuru dunia. Aktivitas di dunia maya melalui berbagai aplikasi media sosial dapat membuat seseorang terlena hingga melupakan interaksi sosial di dunia nyata.

Alih-alih bercerita kepada orang tua, saat ini banyak anak lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada orang lain di media sosial. Bukannya mendengarkan nasihat orang tua, banyak anak lebih percaya pada perkataan para influencer. Meskipun tidak mudah dan membutuhkan perjuangan, orang tua harus mampu mengamati, meniru, dan memodifikasi kenyamanan serta keseruan yang ada di dunia maya. Hadirkan kenyamanan, keasyikan, dan keseruan itu di dunia nyata, di tengah keluarga. Dengan demikian, dampak negatif dunia digital dapat dicegah dan dipulihkan apabila telah terlanjur dialami.

Kelima, mencari teman seperjuangan. Ibu perlu mencari teman seperjuangan dalam mengasuh dan mendidik anak agar semangat tetap terjaga. Bergabunglah dan bangun kolaborasi dengan kelompok atau komunitas ideologis yang memiliki visi mendidik generasi menjadi generasi _khairu ummah_. Dengan demikian, dapat tercipta lingkungan yang kondusif untuk mempersiapkan anak-anak menjadi generasi yang bangga dengan Islam, bersemangat menerapkan Islam, dan berada di garis terdepan dalam memperjuangkan Islam.

Menjaga Kewarasaan

Menjadi ibu, pengatur rumah tangga, dan pendidik generasi merupakan tugas yang mulia. Saat lelah melanda, ingatlah bahwa yang sedang dilakukan semata-mata untuk meraih rida Allah. Insyaallah, rasa lelah itu akan berbalas pahala dan surga. “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila dia tertimpa kesulitan, dia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR Muslim)

Ibu perlu mengomunikasikan tantangan pengasuhan yang dirasakan kepada pasangan dan meminta bantuannya, karena tanggung jawab mendidik anak bukan hanya dibebankan kepada ibu. Ayah juga memiliki peran besar di dalamnya.

Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat ibu merasa senang. Tidak perlu sesuatu yang besar. Terkadang, mandi dengan tenang tanpa gangguan pun dapat menjadi sebab hati yang gembira. Ibu adalah jantung keluarga. Ibu yang bahagia akan memancarkan kebahagiaan itu ke seluruh penjuru rumah.

Teruslah berusaha dan terus belajar, serta mintalah pertolongan Allah. Fokus pada nikmat yang dimiliki. Ibu tidak perlu gelisah melihat nikmat orang lain. Ketika orang lain berhasil, bukan berarti kita gagal.

Khatimah

Selain ikhtiar di atas, kita juga membutuhkan sistem kehidupan yang dapat mendukung ibu dalam menjalankan perannya secara optimal. Saat ini, kapitalisme dan sekularisme yang menjadi dasar di berbagai lini kehidupan terbukti tidak mampu mendukung ketahanan keluarga. Ayah dan ibu tertekan oleh beban kehidupan, anak-anak terabaikan, dan keluarga jauh dari agama yang mencerahkan.

Hanya sistem Islam yang sejatinya mampu memberikan jaminan ketahanan keluarga. Petunjuk hidup berkeluarga dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi bekal keselamatan keluarga di dunia dan akhirat. Wallahualam bissawab.

Oleh: Qaulan Karima
Pemerhati Sosial

Loading

Views: 20

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA