Korupsi Masih Tumbuh Subur di Indonesia, Islam Solusinya

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, oleh Kejaksaan Agung menjadi bukti bahwa korupsi masih tumbuh subur di Indonesia. Ia resmi ditahan pada Rabu, 3 Juni 2026, bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, yakni Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, terkait dugaan kasus korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para tersangka diduga menerima insentif atau setoran sebesar Rp1 miliar per hari dari kemitraan Yayasan Satuan Pelayanan Gizi (SPPG).

Apakah penangkapan pelaku korupsi menandakan bahwa pemberantasan korupsi dan penegakan hukum benar-benar terjadi di negeri ini? Banyak orang meragukan itikad baik pemerintah dalam memberantas korupsi yang sudah mendarah daging dan merugikan negara, karena sebelumnya banyak pihak telah menunjukkan adanya mega korupsi dalam proyek MBG. Namun, pemerintah seolah-olah menutup mata atas fakta yang terjadi bahwa MBG adalah sarang koruptor. Penangkapan Dadan Hindayana hanyalah bentuk pencitraan yang ingin menunjukkan seolah-olah pemerintah tegas dan keras terhadap para koruptor, sebagaimana yang pernah dijanjikan.

Namun, rakyat pesimis bahwa korupsi benar-benar bisa ditumpas habis selama para pejabat belum bertakwa. Selama mereka berpikir kapitalistik, jabatan digunakan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri sendiri. Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya seharusnya mampu menyejahterakan rakyat jika yang mengelolanya amanah dan takut kepada Tuhannya. Mereka yang tertangkap KPK hanya kurang canggih dalam melakukan korupsi sehingga tampak jelas kecurangannya, bahkan oleh rakyat biasa. Jadi, presiden tidak perlu mengejar koruptor sampai Antartika, karena praktik korupsi banyak terjadi di depan mata selama ada itikad baik dari pemimpin tertinggi negeri ini, bukan hanya pencitraan seolah-olah ada tindakan pemberantasan korupsi.

Selama kita mempertahankan sistem kapitalisme demokrasi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, mustahil pemberantasan korupsi bisa benar-benar terjadi. Kapitalisme hanya melahirkan pejabat yang berhitung untung rugi untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Mereka tidak peduli rakyat menderita. Setiap kebijakan yang diambil hanya menguntungkan diri dan kelompoknya. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan meskipun harus berbohong. Mereka hanya pandai berkata-kata dan menebar janji, bukan untuk ditepati, melainkan hanya untuk mencari simpati dan dukungan.

Hanya sistem Islam yang akan melahirkan pemimpin dan pejabat yang bertakwa serta amanah dalam menjalankan tugasnya untuk melayani rakyat. Mereka yakin bahwa mengkhianati amanat rakyat akan berakhir dengan kehinaan seperti yang terjadi pada Dadan Hindayana. Jadi, jangan merasa aman karena hukum di dunia bisa dimainkan selama mampu menjilat penguasa. Namun, ingatlah hukum di akhirat yang sangat berat karena telah merugikan rakyat. Oleh karena itu, pemimpin yang bertakwa tidak mungkin berani mencuri uang rakyat meskipun tidak ada manusia yang melihatnya. Mereka yakin bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang kita tampakkan maupun yang kita sembunyikan. Jadi, untuk memberantas korupsi, kuncinya ada pada penyelenggara negara yang bertakwa. Dan hanya sistem Islam dengan penerapan syariat Islam secara kafah yang mampu melahirkan pemimpin dan pejabat yang bertakwa.[]

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media Sidoarjo

Loading

Views: 27

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA