Mengakhiri Kelaparan Gaza: Bukan Sekadar Pengiriman Bantuan, Tetapi Penghentian Penjajahan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Lebih dari 570 hari telah berlalu sejak 7 Oktober 2023. Pembantaian dan segala bentuk kekejaman dengan tingkat kebrutalan yang melampaui batas nalar manusia terus dilancarkan oleh entitas Zionis terhadap rakyat Gaza—tak terkecuali wanita, anak-anak, bahkan bayi yang baru lahir. Walau telah begitu gamblang disiarkan melalui berbagai media hingga disebut sebagai “genosida yang paling massif didokumentasikan dalam sejarah”, para pemimpin dunia seolah merestui kebiadaban ini tanpa tergerak melakukan tindakan nyata untuk menghentikannya, seakan jumlah korban jiwa yang terus bertambah hingga lebih dari 52.000 hanyalah sekadar angka statistik.

Yang terbaru, kondisi rakyat Gaza makin parah. Ini diketahui dari pernyataan Program Pangan Dunia (WFP) melalui situs resminya bahwa mereka telah kehabisan stok makanan di wilayah tersebut akibat blokade total yang telah diberlakukan oleh entitas Zionis. Sejak awal Maret, Kantor berita Boleh, Nadolu Ajansı mengungkap bahwa WFP mengirimkan stok makanan terakhir yang tersisa ke dapur umum di Gaza pada Jumat (25/4). Dengan ini, WFP menegaskan bahwa rakyat Gaza kini kehabisan cara untuk bertahan hidup. Blokade total ini telah memutus jalur hidup lebih dari dua juta penduduk Gaza, yang kini terancam kelaparan massal.

Menurut laporan DW, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebut situasi di Gaza saat ini ialah yang terburuk sejak 7 Oktober. Komisaris Tinggi HAM PBB pun telah menyatakan, blokade tersebut sebagai “taktik kelaparan” yang merupakan sebuah kejahatan perang. Seolah belum cukup, entitas Zionis masih saja melancarkan serangan udara di tengah krisis pangan yang memburuk ini, melanggar gencatan senjata yang telah disepakati di Januari hingga menewaskan lebih dari 2.000 jiwa sejak 18 Maret—semuanya dengan dukungan penuh AS.

Jebakan Solusi Pragmatis

Perlu kita renungkan bersama bahwa sampai saat ini dunia hanya mengandalkan pengiriman bantuan pangan, pun bantuan medis atau logistik lain sebagai solusi. Bagaimana bantuan tersebut dapat menolong rakyat Gaza jika jalur masuknya saja terus diblokade oleh rezim Zionis? Kalaupun sesekali berhasil menembus blokade, serangan yang terus dilancarkan kerap menghancurkan titik distribusi, bahkan sebelum bantuan itu sampai ke tangan mereka. Ini adalah lingkaran setan yang terus berulang, tanpa ada penyelesaian tuntas. Gencatan senjata pun terbukti tak ampuh dengan terus menerus dilanggar oleh para penjahat perang ini tanpa adanya satu pun sanksi yang mereka terima.

Solusi mendasar atas penderitaan rakyat Gaza dan seluruh Palestina bukanlah sekadar pengiriman bantuan kemanusiaan ataupun seruan gencatan senjata. Solusi hakikinya adalah penghentian total penjajahan Zionis. Satu-satunya langkah yang logis untuk mewujudkan tujuan ini adalah pengerahan kekuatan militer dari negeri-negeri muslim di seluruh dunia. Jika kekuatan ini bersatu, niscaya mampu memukul mundur penjajah Zionis yang selama ini bertumpu pada kekuatan senjata dan dukungan politik global.

Potensi Besar Dunia Islam

Meskipun entitas Zionis disokong oleh sekutu-sekutu kuat seperti AS dengan kekuatan militer nomor satu di dunia, serta para anggota NATO dan raksasa militer lainnya, kekuatan kolektif dari persatuan angkatan bersenjata negeri-negeri muslim akan jauh lebih efektif untuk memukul mundur para penjajah dibanding rakyat Palestina sendirian.

Tidakkah lebih masuk akal jika yang menghadapi gabungan kekuatan bersenjata terbesar dan terkejam di dunia itu adalah sesama pasukan militer, bukan penduduk sipil yang bahkan tidak memiliki angkatan bersenjata resmi?

Apakah adil, gabungan pasukan militer dengan senjata mutakhir melawan rakyat sipil tak terlatih dan tak bersenjata? Jika entitas Zionis saja boleh mendapatkan bantuan militer yang begitu massif dari para sekutunya, lantas mengapa rakyat Palestina tidak?

Sayangnya, para pemimpin negeri-negeri muslim lebih memilih untuk sekadar mengecam tanpa tindakan nyata. Mereka pun sibuk mengirimkan bantuan kemanusiaan yang sejatinya sudah mereka ketahui tak akan mampu menembus blokade secara berkelanjutan, apalagi mengakhiri penjajahan yang terus menelan korban jiwa setiap hari. Padahal, kekuatan militer beberapa negara mayoritas muslim seperti Turki, Pakistan, bahkan Indonesia masuk di posisi 13 besar di dunia, melampaui “Israel” dalam Indeks Kekuatan Militer Global 2025—disusul Iran dan Mesir yang berada di dalam 20 besar.

Bayangkan, jika negara-negara ini menyatukan kekuatan militer, pasti mereka akan mampu mengimbangi kekuatan musuh.
Lebih dari itu, dalam pandangan syariat Islam, penjajahan atas tanah kaum muslimin adalah seruan jihad yang wajib dijawab dengan pengerahan kekuatan militer, bukan sekadar kecaman verbal atau bantuan simbolik.

Allah Swt. berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 190, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Jika kita masih merasa gentar menyaksikan kekuatan musuh yang tampak begitu adidaya, tidakkah kita berkaca pada kisah Perang Badar? Saat itu, jumlah pasukan muslim jauh lebih sedikit dari musuh, tetapi mereka bersatu dalam barisan yang kokoh di bawah satu komando, menyusun strategi dengan cermat, berjuang sepenuh tenaga, dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah dengan tawakal yang tulus, hingga meraih kemenangan gemilang. Kisah Perang Badar menjadi bukti nyata bahwa pasukan kecil yang bersatu dalam iman mampu mengalahkan kekuatan besar yang awalnya tampak tak terkalahkan.

Kini, umat Islam sebenarnya sudah memiliki kekuatan militer yang besar. Hanya saja, kekuatan itu masih terpecah dan belum bersatu. Andai kekuatan besar ini dipadukan dengan persatuan iman, seperti yang dicontohkan para sahabat di Perang Badar, niscaya umat Islam bukan sekadar mampu mengimbangi musuh, tetapi juga menumbangkan mereka sepenuhnya. Insyaallah.

Solusi Tuntas

Oleh karena itu, penyelesaian tuntas atas kelaparan Gaza dan genosida Palestina secara keseluruhan hanya dapat dicapai jika umat Islam bersatu; tidak sekadar dalam semangat, tetapi dalam barisan yang terorganisasi di bawah satu kepemimpinan yang mampu menggerakkan potensi besar umat ini secara serempak. Sebab, kekuatan militer yang besar pun tak akan berarti tanpa persatuan komando yang kokoh, strategi yang terpadu, dan visi yang jelas.

Inilah kepemimpinan yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai Khilafah Islamiyah, yang akan menghimpun dan memobilisasi kekuatan politik dan militer umat untuk menghapus penjajahan entitas Zionis hingga ke akarnya, sekaligus mengembalikan kedamaian serta keberkahan di tanah para nabi.

Hanya dengan kekuatan yang terorganisasi melalui metode yang telah diperintahkan Allah dan sesuai dengan syariat-Nya, umat ini dapat mengakhiri penderitaan rakyat Palestina, sekaligus membebaskan negeri-negeri muslim lainnya yang masih berada dalam cengkeraman penjajah.

Sudah saatnya umat Islam bangkit dari tidur panjangnya. Dunia telah menyaksikan cukup banyak kecaman tanpa hasil. Cukup banyak bantuan yang sia-sia. PBB dan berbagai organisasi internasional pun telah terbukti tak berkutik di hadapan entitas Zionis, sehingga tak layak bagi kita masih menggantungkan harapan pada mereka.

Yang dibutuhkan Gaza dan Palestina adalah pembebasan dari penjajahan, bukan sekadar “pereda nyeri” atau pertolongan sesaat melalui pengiriman bantuan kemanusiaan. Pembebasan ini hanya akan terwujud melalui kekuatan, keberanian, dan persatuan umat Islam di bawah panji yang diridai Allah Swt. Wallahu a’lam bish shawab.

 

 

Oleh: Mikaila Nuaym

Sahabat Tinta Media

Views: 9

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA