Tinta Media – Kemnaker menargetkan 80.000 fresh graduate bergabung dalam program Magang Nasional 2025 periode kedua. Program ini bertujuan memberikan pengalaman kerja yang bermanfaat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan target ini sesuai arahan Presiden Prabowo untuk melibatkan 100.000 fresh graduate dalam program magang.
Magang Nasional periode kedua akan dimulai pada 17 November 2025. Hingga saat ini, sebanyak 1.147 perusahaan telah membuka lowongan magang melalui aplikasi Maganghub, dan lebih dari 105.000 fresh graduate telah mendaftar untuk berbagai posisi. Kemnaker berkomitmen untuk meningkatkan akses pelatihan dan magang guna meningkatkan penempatan kerja dan menurunkan tingkat pengangguran terbuka secara signifikan. (Jakartaterkini.id, 13/10/2025)
Sulit untuk mengabaikan bahwa tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda merupakan indikasi kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja yang memadai. Hal ini jelas bertentangan dengan klaim pemerintah bahwa ekonomi Indonesia telah pulih.
Meskipun angka pengangguran sedikit menurun, tetap saja tidak dapat mengubah fakta bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih belum stabil. Khususnya bagi generasi muda, terutama lulusan SMK, pendidikan mereka sering kali hanya disesuaikan dengan kebutuhan pasar tanpa mempertimbangkan pengembangan potensi mereka secara holistik. Akibatnya, banyak dari mereka yang bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan, namun hanya sedikit yang berhasil.
Keadaan ini dapat memicu tindakan kriminal dan menciptakan ketidakamanan di masyarakat. Padahal, seharusnya negara yang bertanggung jawab untuk menciptakan lapangan kerja dan menyejahterakan rakyatnya, bukan hanya mengandalkan individu untuk mencari peluang kerja sendiri. Begitulah potret nasib pemuda dalam sistem kapitalisme. Padahal, menciptakan lapangan kerja adalah tugas negara, bukan tugas individu rakyatnya. Dalam sistem kapitalisme rakyat dituntut bekerja tanpa harus menggantungkan nasibnya pada negara. Kalaulah negara membantu, itu hanya sebatas bantuan minimalis.
Berbeda dengan cara Islam mengatasi pengangguran. Islam memiliki cara tersendiri dalam menuntaskan akar persoalan pengangguran dan turunannya.
Pertama, pendidikan terjangkau, bahkan gratis untuk semua. Dengan begitu, rakyat dapat mengenyam pendidikan sesuai keinginan mereka tanpa terbebani dengan biaya pendidikan. Selain itu, mereka diberi pemahaman tentang wajibnya bekerja bagi laki-laki.
Kedua, jika individu malas bekerja, cacat, atau tidak memiliki keahlian, maka negara berkewajiban memaksa mereka bekerja dengan menyediakan sarana dan prasarananya. Negara akan mengembangkan industri alat-alat (industri penghasil mesin) sehingga akan mendorong tumbuhnya industri-industri lain. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ra. Ketika mendengar jawaban orang-orang yang berdiam di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja bahwa mereka sedang bertawakal. Saat itu beliau berkata, “Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” Kemudian Khalifah Umar mengusir mereka dari masjid dan memberi mereka setakar biji-bijian.
Ketiga, kewajiban bekerja hanya dibebankan pada laki-laki. Kaum perempuan tidak wajib bekerja. Fungsi utama perempuan adalah sebagai ibu dan pengurus rumah suaminya (ummun wa rabbatul bait). Kondisi ini akan menghilangkan persaingan antara tenaga kerja perempuan dan laki-laki. Dengan kebijakan ini, lapangan pekerjaan sebagian besar akan diisi oleh laki-laki, kecuali sektor pekerjaan yang memang harus diisi oleh perempuan. Dalam pandangan Islam, peran negara sangat menonjol karena kepemimpinan itu akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Wallahualam bissawab.
Oleh: Rukmini
Sahabat Tinta Media
Views: 16
















