Saya Menentang Keras Pernyataan PM Inggris

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ya, saya menentang keras penyataan Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer bahwa “Akan Mengakui Negara Palestina” sepaket dengan persyaratan “Israel menyetujui gencatan senjata” serta tunduk pada perjanjian jangka panjang yang berkelanjutan.

Saya menentang pernyataan “Akan mengakui negara Palestina” karena memang sedari awal perebutan wilayah, genosida, bahkan penjajahan harusnya tidak ada. Israellah yang mengawali penderitaan Palestina, dengan busuknya seolah-olah tertuduh menjadi korban demi pengakuan dan kemenangan opini publik.

Perdamaian bersyarat justru mengkhianati darah pejuang rakyat Palestina. Apakah lupa bahwa karakter Israel adalah pengkhianat? Belum usang dari ingatan bahwa bulan Januari lalu Israel telah menodai perjanjian padahal gencatan senjata baru berlangsung dua hari. Rekam jejak digital berceceran menunjukkan jika Israel tidak pernah menepati janji, bahkan sudah dari tahun 1993 telah mengkhianati Perjanjian Oslo.

Mengakui pun tidak berdampak apapun, jika tidak memaksa Israel turunkan senjata dan mundur. Sementara itu, buntut dari pengakuan Palestina adalah solusi dua negara.

Dasar bedebah! Nampaknya para pengusung ide “two state solution” atau solusi dua negara tidak paham akar masalah antara Israel dan Palestina. Ilustrasi sederhana, jika rumah saudara kita dirampas maling dan pemilik rumah sah (alias saudara kita) dipaksa angkat kaki, jika tidak patuh maka si maling menarik pelatuknya hingga nyawa pemilik rumah melayang. Lantas, kita dapati solusi pasti yang tepat adalah membagi dua area pekarangan rumah dan mengakui wilayah masing-masing? Yakin, memberi rumah dan pengakuan terhadap maling? Dasar gila! Justru jika ini terjadi, realitas tidak terbantahkan bahwa sanksi yang lahir dari ideologi kapitalisme global tidak sesuai fitrah manusia.

Kapitalisme adalah sebuah aturan kehidupan yang bersumber dari akal manusia, bersumber sekularisme, dan barometer kebahagiaan adalah kepuasan jasadiah. Tentu, ada kebijakan yang berpotensi sangat melenceng dari fitrah manusia sebab akal manusia yang sifatnya terbatas memiliki wewenang menciptakan kebijakan. Seperti saat ini, amburadul!

Solusi-solusi yang dikeluarkan berasas kemaslahatan. Sekilas nampak benar, padahal ibarat racun berbalut madu. Kebijakan dalam balutan kiasan manis, sejatinya hanyalah retorika. Realitasnya, kemaslahatan yang diagung-agungkan cenderung menyengsarakan rakyat karena esensi kemaslahatan versi kapitalisme bersifat relatif dan kondisional. Kenapa Inggris baru sekarang ingin mengakui eksistensi Palestina? Jelas untuk kepentingan sendiri karena desakan publik yang membludak menuntut Israel menghentikan penjajahan ini. Alias, menyelamatkan citra baik di hadapan rakyat dan simpatisan publik. Selama ini memang langkah kapitalisme mengedepankan kepentingan dan penuh intrik. Ingat, kapitalisme berasas sekularisme yang menyuburkan ketimpangan.

Esensi dari sekularisme ialah pemisahan agama dalam peran mengatur seluruh aturan kehidupan termasuk bernegara. Para pemuja ide ini, mengakui eksistensi Tuhan hanya untuk mengurus ibadah semata. Alhasil, akal manusia dianggap layak untuk menentukan kiblat kehidupan dengan ikatan perbuatan serba bebas dalam seluruh aspek kehidupan. Standar baik, buruk, benar, dan salah menjadi hal tabu. Semua orang bebas berkehendak sesuai keinginan dan kepentingan. Urusan dosa tentu dianggap “hanya saya dan Tuhan yang tahu”, tidak melibatkan peran Tuhan dalam setiap keputusan dan tindakan. Sesat bin menyesatkan, bukan?

Apakah, fenomena malnutrisi akut di Gaza tidak mampu membuka mata dunia? Ketika manusia bebas berkehendak tanpa melibatkan Tuhan, maka melahirkan jiwa-jiwa binatang. Hilang hati naruni demi mencapai tujuan. Membiarkan warga Palestina mati kelaparan tanpa air bersih, makanan, obat-obatan, dan seluruhnya. Ironis, video bertaburan di media sosial memperlihatkan antrean panjang demi pakan ternak. Ya, rakyat Gaza berdesak-desakan antri pakan ternak untuk dimasak dan dihidangkan bersama keluarga tercinta. Sudah matikah hati nurani manusia kalian? Realitas, dunia dibiarkan menyaksikan penjajahan ini dan dipaksa sibuk dengan persoalan masing-masing.

Di ujung lelah dan ketidakpastian, memahami Palestina merupakan persoalan sistemis dan butuh solusi sistemis, bukan parsial, menunjukkan selangkah di depan untuk menyongsong kemenangan hakiki.

Tentu, solusi paripurna untuk Palestina bukan sekadar mengencam, suplai bantuan makanan, _open_ donasi, aksi demonstrasi, gencatan senjata, ataupun solusi dua negara. Sebab, solusi dua negara hanya menjadi legitimasi hukum untuk leluasa berjabat tangan dengan penjahat perang guna kepentingan diplomasi. Lantas, solusi apa yang tepat? Benarkah khilafah dan jihad solusi yang relevan?

Menelisik sejarah kesejahteraan wilayah Palestina ketika mereka hidup di bawah naungan khilafah. Tiga entitas agama hidup rukun dan sejahtera di bawah aturan Islam. Nahas, khilafah terjebak pada perang dunia pertama hingga harus menerima pil pahit kekalahannya. Alhasil, negara Islam runtuh dan terpecah belah sampai detik ini, termasuk Palestina. Jika bertanya solusi hakiki, tentu mengirimkan persenjataan dan pasukan militer ke Palestina. Pertanyaannya, negeri mana yang mampu melakukan itu? Layaknya, Amerika Serikat yang gencar suplai dana dan senjata untuk Israel. Negeri-negeri Islam runtuh akan wibawanya karena merasa harus melindungi kepentingan konstelasi politik. Tentu akan sangat mudah mengirimkan senjata dan militer atau bahasa populernya jihad fii sabilillah, apabila ada perintah dari kepala negara. Ya, khalifah yang akan mengutus militer untuk jihad. Karakteristik khalifah seperti itu, hanya akan dijumpai dalam negara yang menerapkan ideologi Islam alias sistem pemerintahannya Islam (khilafah).

Mari bersatu padu suarakan kebenaran, demi kesadaran umat akan aturan yang problematik. Sampai akhirnya menuntut menerapkan sistem yang sempurna dan paripurna yaitu khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

“Karena itu, putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS al-Maidah [5]: 48)

Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sungguh Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS al-Baqarah [2]: 30)

Karawang, 11 Safar 1447 H | 5 Agustus 2025 M

Oleh: Novita Ratnasari
Kontributor Tinta Media

Views: 40

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA