Sekolah Ditutup, Kebijakan Tetap Dipaksakan: Potret Pendidikan di Negeri Kapitalis

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Krisis murid di SDN sudah bukan berita baru. Banyak SD negeri yang muridnya tinggal hitungan jari. Bahkan, ada yang zero murid. Yang lebih miris, banyak sekolah negeri terpaksa tutup karena tidak ada yang mau masuk.

Namun, persoalannya tidak berhenti di situ. Ada sekolah yang muridnya masih ada, tetapi bangunannya tidak layak—atap bocor, tembok retak, kursi patah. Bagaimana anak bisa fokus belajar? Bagaimana orang tua tidak takut anaknya tertimpa?

Belum lagi aksesnya.  Ada anak yang harus menyeberang sungai setiap hari agar bisa sampai di sekolah lebih cepat. Kalau tidak, mereka harus memutar lewat jalan yang jauh— butuh waktu lama, tenaga habis. Belum sampai kelas, mereka sudah lelah duluan.

Mirisnya, di saat sekolah banyak yang tutup dan rusak, negara malah membuat Sekolah Rakyat yang dananya tidak sedikit. Padahal, lebih bijak kalau dana itu dipakai untuk merenovasi sekolah yang sudah tidak layak, memperbaiki akses jalan dan jembatan ke sekolah, menambah guru dan fasilitas di sekolah yang masih ada.

Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan. Di negeri yang menganut sistem kapitalis ini, semua diukur untung-rugi—
yang penting ada proyek baru, ada seremonial, ada pencitraan. Wajar jika orang tua sekarang lebih mempercayakan anak mereka ke sekolah swasta. Bukan karena swasta lebih sempurna, tetapi ada beberapa hal yang dianggap sesuai dengan keinginan mereka, di antaranya:

Pertama, mudah masuk karena tidak ada drama zonasi dan pungli. Kedua, ada agama, adab, dan moral. Anak diajarkan salat, ngaji, dan akhlak. Meski biayanya mahal, orang tua rela, demi ketenangan. Inilah buah pendidikan kapitalis, pendidikan dijadikan komoditas. Yang punya uang dapat kualitas, yang miskin akan tersingkir.

Bagaimana Islam Memandang?

Dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab daulah dan merupakan hak setiap warga. Karena itu, pendidikan diberikan secara gratis untuk seluruh rakyat tanpa kecuali, baik muslim maupun non-muslim.

Daulah memaham bahwa generasi hari adalah pemimpin masa depan. Kalau generasinya bodoh, maka hancurlah negeri.
Karena itu, pendidikan menjadi prioritas dalam anggaran belanja negara. Bukan hanya gratis, tapi fasilitas pendidikan harus luar biasa—perpustakaan megah, laboratorium lengkap, guru-guru digaji mulia. Tujuannya agar anak semangat belajar. Begitu juga dengan para pengajarnya.

Yang paling penting, Islam mengutamakan sdab sebelum Ilmu. Anak belajar adab lebih lama daripada belajar rumus. Dengan adab, ilmu akan mudah masuk, dipahami, dan diamalkan. Dengan adab, kelak ketika menjadi pejabat, dia tidak zalim; kalau menjadi guru, dia tidak korupsi; kalau menjadi rakyat, dia takut kepada Allah dalam setiap perbuatan.

Penutup

Dengan kekayaan alam yang melimpah, harusnya negeri ini tidak kekurangan dana. Yang kurang dari kita sebenarnya adalah qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir)— kepemimpinan yang menjadikan Islam sebagai standar.

Selama sistem pendidikan masih memakai standar kapitalis—untung-rugi, kerja proyek, pencitraan—maka sekolah akan terus tutup, gedung akan terus roboh, dan anak akan terus nenjadi korban.

Sudah saatnya kita kembali pada sistem yang menjadikan pendidikan sebagai ibadah dan investasi akhirat, bukan proyek dan bisnis.

“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Taubah: 105)

Wallahu a’lam.

Oleh: Suparti
Pejuang Dakwah

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA