Tinta Media – Remaja saat ini adalah pemimpin di masa depan. Remaja harus disiapkan menjadi pemimpin yang tangguh, berilmu, beradab, dan berkepribadian Islam. Namun, masalah kesehatan mental dapat mengghambat potensi remaja. Bagaimana cara agar kesehatan mental remaja dapat terjaga?
Kesehatan mental remaja adalah isu yang sangat penting dan memerlukan perhatian dari semua pihak. Remaja adalah generasi penerus yang akan memperjuangkan kebangkitan dan penjaga Islam. Sayangnya, saat ini banyak remaja yang mengalami masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa remaja yang menderita kesehatan mental mencapai 15,5 juta orang atau setara 34,9 persen dari total remaja Indonesia. Wakil Menteri Kementerian Kependudukan Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyebutkan generasi muda saat ini memang menghadapi tantangan yang semakin kompleks, salah satunya adalah isu kesehatan mental di kalangan remaja (Tempo.co, 15 Februari 2025)
Banyaknya remaja yang terkena penyakit mental membuat masyarakat khawatir dan prihatin. Hancurnya mentalitas remaja menunjukkan gagalnya negara membina generasi. Bonus demografi yang diharapkan dapat membawa kebangkitan akan menjadi sia-sia jika kesehatan mental remaja diabaikan.
Kesehatan mental remaja dapat dipengaruhi oleh media sosial. Hastuti Wulanningrum, Ketua Tim Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menyebutkan bahwa kesehatan mental remaja dapat dipengaruhi oleh eksposur berlebihan terhadap standar sosial yang tidak realistis.
“Remaja bisa ketergantungan dengan media sosial dan terpengaruh dengan konten-konten yang dilihat,” pungkasnya dalam konferensi pers TikTok Teen Safety Campaign 2025 di Aroem Resto & Cafe, Jakarta Pusat, Kamis (13/2/2025) (kompas.com, 13 Februari 2025).
Masalah kesehatan mental remaja yang marak terjadi membuktikan bahwa sistem Kapitalisme sekularisme gagal menjaga remaja. Dalam sistem kapitalisme sekularisme, agama dipisahkan dari kehidupan sehingga remaja gagal menemukan jati dirinya sebagai hamba Allah dan berperilaku liberal tanpa tahu yang benar dan salah. Akibatnya, remaja tidak mampu menyelesaikan problematika hidupnya sehingga mengalami masalah kesehatan mental.
Berbeda dengan Islam, kepemimpinan Islam akan mencetak generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan syariat Islam secara kaffah. Sistem pendidikan Islam akan menanamkan akidah Islam dan membentuk remaja yang berkepribadian Islam. Remaja yang taat akan dapat menyelesaikan problematika kehidupan dengan syariat Islam, sehingga remaja tidak kebingungan dan terhindar dari masalah kesehatan mental.
Dalam Islam, negara akan mengawasi media sehingga remaja hanya akan mengonsumsi konten positif yang akan berpengaruh positif terhadap remaja. Negara akan menjauhkan remaja dari segala pemikiran yang bertentangan dengan Islam dan memberi sanksi tegas bagi penyebar konten negatif yang melanggar syariat Islam. Dengan demikian, remaja akan terkondisikan dengan suasana keimanan yang tinggi dan terjaga dari masalah kesehatan mental.
Sistem Islam dari Allah SWT yang diterapkan secara kaffah dalam bingkai khilafah yang mengikuti metode Rasulullah SAW akan menjadikan remaja dan masyarakat bermental kuat, berpikiran cemerlang, dan taat pada Allah SWT. Dengan demikian, satu-satunya cara agar kesehatan mental remaja terjaga adalah dengan mengganti sistem kapitalisme sekularisme dengan sistem Islam kaffah.
Oleh: Meri Mulyani,S.Si
Pendidik
![]()
Views: 7
















