Hancurnya Mental Generasi, Buah Sistem Sekularisme

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Generasi muda adalah generasi penerus bangsa dan sebagai agen perubahan, namun nyatanya generasi saat ini tidak sesuai harapan bahkan semakin memprihatinkan. Sungguh miris, jutaan remaja Indonesia sedang menghadapi masalah kesehatan mental. Badan kependudukan dan keluarga berencana nasional (BKKBN) menyatakan bahwa remaja yang menderita kesehatan mental sangat tinggi, yaitu mencapai 15,5 juta orang atau setara 34,9 persen dari total remaja Indonesia. Data tersebut berdasarkan hasil survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey pada 2024.

Wakil menteri kementerian kependudukan Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan bahwa generasi muda saat ini memang sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks, tidak hanya isu kesehatan mental tapi juga fenomena childfree atau tidak ingin memliki anak di kalangan generasi muda.

Hasil survei tersebut sejalan dengan hasil riset penelitian pada Desember 2024 yang di lakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) dan Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) bersama yayasan BUMN, yang menyatakan bahwa 34 persen pelajar SMA di Jakarta memiliki indikasi masalah kesehatan mental. Tiga dari sepuluh pelajar sering menunjukkan perilaku marah dan cenderung berkelahi akibat gangguan mental emosional (Tempo.com, 14/2/2025).

Menurut beberapa tim medis menyatakan banyak faktor yang memicu gangguan mental generasi muda atau remaja. Di antaranya pola asuh orang tua, tekanan media sosial, tekanan lingkungan, tekanan akademik, perundungan, kondisi keluarga yang tidak harmonis, masalah ekonomi dan sebagainya.

Gagalnya Negara Membina Generasi

Banyaknya remaja yang terkena penyakit mental bukti bahwa negara telah gagal menbina generasi. Harapan mencetak generasi emas 2045 mustahil akan terwujud jika kondisi ini dibiarkan.

Hancurnya mental remaja memiliki korelasi dengan sistem yang diterapkan saat ini, yaitu sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Inilah yang merusak segala aspek dalam kehidupan.

Sistem pendidikan sekuler yang gagal membentuk remaja memahami jati dirinya, berprilaku liberal, lemahnya keimanan, tidak paham penyelesaian masalah hidupnya secara benar, dan rapuhnya mental remaja.

Persoalan ekonomi yang buruk dan pola asuh orang tua yang kurang optimal juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan generasi, peran orang tua sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya diabaikan, karena seorang ibu ikut terlibat dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya menjadikan kurang maksimal mendidik generasi.

Islam Solusi Masalah Generasi

Islam sebagai agama yang sempurna, tidak hanya mengatur urusan spiritual/ibadah saja akan tetapi mengatur seluruh aspek dalam kehidupan, termasuk masalah pendidikan.
Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan dengan aturan/undang-undang yang bersumber dari Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan Hadist bukan bersumber dari buatan manusia seperti sistem saat ini.

Kepemimpinan dalam Islam memiliki tanggung jawab membentuk generasi cemerlang yang berkualiatas. Maka, sistem pendidikan dalam Islam asasnya adalah akidah Islam, yang dibangun adalah pemahaman akidahnya. Kurikulum yang terapkan harus berdasarkan akidah Islam, tujuan tersebut untuk membentuk pola pikir dan pola jiwa yang islami, membentuk kepribadian Islam dan membekali ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan.

Sistem pendidikan dalam Islam akan mampu melahirkan generasi muda yang berkpribadian Islam, generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami, memahami jati dirinya sebagai hamba Allah SWT yang harus taat pada aturan0Nya, paham tujuan hidupnya yang hanya berharap rida Allah sehingga selalu terdorong untuk melakukan amal shalih.

Generasi yang terdidik dengan akidah Islam akan kuat iman dan mental nya sehinga tidak rapuh ketika menemui persoalan dalam hidupnya. Islam tidak memberikan kebebasan dalam pergaulan dan semua harus diatur oleh syariat Islam. Kesadaran individu akan ketakwaan nya kepada Allah SWT menjadikan masyarakatnya terjaga saling amar makruf nahi munkar, tidak individualis.

Untuk menghasilkan generasi cemerlang yang berkualitas negara wajib menyiapkan orang tua dan masyarakat yang mendukung proses pembentukan generasi. Butuh sistem yang bisa memperbaiki generasi saat ini, karena generasi merupakan aset estafet pembangunan. Semoga segera terwujud sistem Islam dalam sebuah institusi negara.

Wallahu’alam bishawwab.

 

 

 

Oleh: Nasiroh
Aktivis Muslimah

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA