Kekayaan Alam Dirampok, Warga Lokal Hanya Dapat Debu dan Derita

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Temuan Aliansi Muda Penggerak (AMP) Jember, PT Imasco akan melakukan aktivitas penambangan hingga 103 tahun ke depan. Padahal, potensi tambang batu kapur di Gunung Sadeng Puger, hanya tersisa 50 tahun. Baru 5 tahun mengeksploitasi sudah menimbulkan banyak masalah sehingga perlu untuk menelisik lebih jauh agar permasalahan yang ada tidak semakin berlarut (jempolindo.id, 9-02-2025).

Sumber daya alam adalah anugerah dari Allah yang seharusnya dikelola dengan bijak untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Namun, realitas hari ini sungguh bertolak belakang. Tambang-tambang yang dikelola oleh asing mengeruk kekayaan alam negeri ini, sementara rakyat setempat hanya mendapatkan debu, pencemaran, dan penderitaan. Sistem kapitalisme yang berorientasi pada keuntungan segelintir orang telah menciptakan kesenjangan luar biasa, saat sumber daya yang melimpah tidak memberikan manfaat bagi pemilik sahnya, yaitu rakyat.

Bukan hanya Puger, hampir di seluruh daerah yang kaya potensi alam, makin termarginal. Hutan, laut, aneka tambang, minyak, gas, dan sebagainya dirampok. Rakyat di daerah terposisi jadi penonton. Atas nama aturan dan kuasa, para pejabat dan oligarki bebas menggarong. Kerusakan alam semakin parah, hutang luar negeri pun menumpuk dan rakyat mengalami pemiskinan.

Islam dan Pengelolaan Sumber Daya Alam

Dalam Islam, sumber daya alam merupakan kepemilikan umum yang tidak boleh diserahkan kepada individu atau korporasi swasta, apalagi asing. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Hadis ini menegaskan bahwa sumber daya alam yang strategis, seperti tambang, minyak, dan gas, harus dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir elite atau perusahaan asing. Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam mengelola sumber daya alam dan hasilnya didistribusikan untuk kesejahteraan umat, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan gratis.

Dampak Pengelolaan Tambang oleh Asing

Di bawah sistem kapitalisme, pertambangan yang dikuasai asing lebih banyak membawa kerugian daripada manfaat bagi masyarakat sekitar. Pengelolaan tambang yang tidak memperhatikan keberlanjutan lingkungan menyebabkan pencemaran air, udara, dan tanah, yang pada akhirnya merusak ekosistem serta menghilangkan kesuburan lahan. Selain itu, polusi dari aktivitas tambang berdampak buruk pada kesehatan warga, menyebabkan berbagai penyakit tanpa kompensasi yang layak.
 
Selain merusak lingkungan dan kesehatan, pertambangan juga menghancurkan mata pencaharian masyarakat, terutama petani dan nelayan, karena lahan dan sumber air yang tercemar. Akibatnya, banyak warga kehilangan sumber penghidupan mereka. Sementara itu, hasil kekayaan alam lebih banyak dinikmati oleh investor dan pemilik modal, memperdalam ketimpangan sosial dan ekonomi, di mana rakyat tetap miskin sementara keuntungan besar mengalir ke pihak asing.

Di bawah sistem kapitalisme, pertambangan yang dikuasai oleh asing membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat. Kekayaan alam negeri ini diekspor keluar negeri, sementara rakyat tetap miskin dan harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sebaliknya, para investor dan pemilik modal menikmati hasil tambang dalam bentuk keuntungan besar.

Solusi dalam Islam

Islam menawarkan solusi sistematis untuk pengelolaan sumber daya alam:

1. Negara sebagai pengelola sumber daya

Dalam Islam, negara bertindak sebagai pengelola sumber daya yang strategis dan mendistribusikan hasilnya kepada rakyat. Tidak ada privatisasi sumber daya alam yang membuat rakyat kehilangan hak mereka.

2. Larangan penguasaan oleh asing

Islam melarang penguasaan sumber daya oleh pihak asing yang dapat merugikan kepentingan umat. Negara harus mandiri dalam mengelola kekayaannya dan tidak boleh menyerahkan sumber daya kepada penjajah ekonomi.

3. Distribusi hasil untuk kesejahteraan rakyat

Keuntungan dari pengelolaan sumber daya alam digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang memadai.

4. Penegakan Syariat dalam Ekonomi

Sistem ekonomi Islam mencegah eksploitasi dan ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya. Semua kebijakan ekonomi harus berlandaskan syariat agar tidak merugikan umat.

Sudah saatnya kita meninggalkan sistem kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir pihak dan kembali kepada sistem Islam yang mengatur pengelolaan sumber daya dengan adil dan berkah. Kekayaan alam bukan untuk segelintir elite atau perusahaan asing, melainkan untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Jika Islam diterapkan dalam tata kelola sumber daya alam, maka tidak ada lagi rakyat yang hanya mendapat debu dan derita, sementara pihak asing menikmati hasil kekayaan negeri ini. Inilah saatnya umat menuntut perubahan menuju sistem yang lebih adil, yaitu Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Oleh: Imroatul Husna
Aktivis Dakwah

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA