Kelaparan di Gaza Memuncak: Jihad dan Khilafah Bukan Lagi Pilihan, Tetapi Keharusan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Derita rakyat Gaza kembali memasuki babak paling kelam dalam sejarah penjajahan modern. Kelaparan kini mengintai jutaan jiwa tak berdosa, terutama anak-anak dan perempuan, akibat blokade brutal yang diberlakukan oleh Israel sejak 2 Maret 2025. Blokade ini disebut oleh sejumlah organisasi hak asasi manusia sebagai “taktik kelaparan” yang berpotensi menjadi kejahatan perang. Sementara itu, dunia hanya mampu mengirimkan bantuan yang sangat terbatas, dan kini bahkan bantuan terakhir pun telah habis.

Sebagaimana dilansir Kompas.com (25/4/2025), World Food Programme (WFP) menyampaikan pernyataan memilukan: “Hari ini, WFP mengirimkan stok makanan terakhir yang tersisa ke dapur umum di Jalur Gaza,” ujar WFP seperti dikutip dari Anadolu, Jumat (25/4/2025). Menurut data PBB, WFP mendukung 37 dapur umum yang sebelumnya mampu memproduksi sekitar 500.000 porsi makanan setiap hari. Namun hingga kini belum diketahui berapa dapur yang masih dapat terus beroperasi setelah stok dari WFP habis. “Situasi di Jalur Gaza sekali lagi mencapai titik kritis: orang-orang kehabisan cara untuk bertahan hidup,” lanjut WFP.

Gaza semakin mengerikan. Makanan hampir tidak tersedia, yang tersisa hanyalah sedikit pasta dan nasi yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan setengah penduduk. Satu-satunya pabrik roti yang masih beroperasi pun telah dihancurkan oleh serangan udara Israel. Harga bahan pangan di pasaran melambung tinggi dan itu pun hampir habis. Ketersediaan air bersih semakin langka. Dapur-dapur umum sudah tidak bisa beroperasi karena tidak ada lagi bahan yang bisa dimasak. Ini bukan sekadar krisis kemanusiaan, melainkan pembantaian yang dilakukan secara perlahan di depan mata dunia.

Hingga saat ini, solusi yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an belum dijalankan oleh kaum Muslimin. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 190: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Jihad fi sabilillah adalah perintah langsung dari Allah sebagai jalan untuk membebaskan negeri-negeri Muslim yang dijajah. Tetapi sangat disayangkan, para penguasa negeri-negeri Muslim justru berkhianat kepada umat. Mereka memilih diam atau malah menjalin hubungan dengan penjajah, membiarkan saudara-saudaranya di Gaza menghadapi kematian perlahan tanpa perlindungan yang semestinya.

Karena itu, solusi tuntas bagi penderitaan Palestina adalah mengakhiri pengkhianatan ini melalui persatuan umat dalam satu kepemimpinan Islam yang sah, yaitu Khilafah. Sejarah membuktikan bahwa umat Islam pernah memiliki kekuatan besar yang menyatukan mereka, di bawah naungan Khilafah. Rasulullah SAW menghadapi pengkhianatan Yahudi dengan ketegasan negara Islam. Kemenangan dalam Perang Hittin di bawah kepemimpinan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi juga menunjukkan bagaimana Khilafah mampu membebaskan Palestina dengan jihad yang terorganisir.

Palestina hanya bisa diselamatkan dengan jihad dan Khilafah. Sudah saatnya umat Islam bangkit dari kelalaian dan kebisuan. Cukuplah penderitaan Gaza menjadi peringatan keras bahwa tanpa Khilafah dan jihad, umat Islam akan terus menjadi korban. Saatnya perjuangkan Khilafah sebagai satu-satunya solusi hakiki bagi pembebasan Palestina dan kehormatan umat ini.

Oleh: Luthfia Rifaah, S.T., M.Pd.
Pemerhati Remaja

Loading

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA