Tinta Media – Haji adalah miniatur paling nyata dari persatuan umat Islam. Ia menunjukkan bahwa Islam mampu menyatukan hampir dua miliar umat manusia dalam satu identitas akidah, tanpa terikat oleh warna kulit, bahasa, paspor, atau latar belakang sosial.
Ketika jutaan muslim bergerak serempak menuju Arafah, kita menyaksikan bagaimana Islam menghapus batas-batas duniawi, menyatukan hati dan langkah dalam satu semangat, yaitu taat kepada Allah dan mengharap ampunan-Nya.
Selepas musim haji dan perayaan Idul Adha, kita kembali ke realitas yang memilukan—umat Islam kembali tercerai berai. Negara-negara muslim tetap terkotak-kotak dalam batas nasionalisme buatan penjajah. Alih-alih saling menguatkan, umat Islam justru sering saling curiga, bahkan saling menjatuhkan. Penderitaan saudara seiman di Palestina, Yaman, Suriah, Rohingya, Uighur, dan belahan dunia lainnya hanya menjadi isu sesaat di media sosial, bukan pemicu perubahan nyata.
Dalam sejarahnya, Khilafah menjadi pemersatu umat lintas benua. Ia tak hanya menyatukan hukum, arah politik, dan strategi pertahanan, tetapi juga menjadikan umat Islam sebagai pelindung bagi yang tertindas, simbol kemuliaan, dan motor penggerak peradaban.
Hari ini, umat Islam hidup tanpa pelindung yang satu. Mereka hidup dalam sistem yang menuhankan batas negara dan ideologi nasionalisme. Ketika satu negeri muslim diserang, yang lain hanya bisa berdoa atau memberi bantuan kemanusiaan.
Tidak ada koordinasi kekuatan militer, ekonomi, dan politik yang disatukan dalam satu visi dan misi untuk menjaga kehormatan umat.
Idul Adha sejatinya bukan sekadar hari raya kurban.
Ia adalah momentum spiritual untuk menegaskan kembali makna ketaatan total kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak sekadar taat dalam ritual, tetapi juga dalam urusan besar kehidupan. Ia rela mengorbankan putra tercintanya demi perintah Allah. Inilah teladan ketaatan sejati yang harus dihidupkan umat Islam hari ini.
Sayangnya, banyak dari kita yang membatasi ketaatan hanya pada aspek ritual. Kita taat saat salat, puasa, dan haji, tetapi enggan menerapkan Islam dalam ekonomi, pendidikan, hukum, politik, dan pemerintahan. Padahal, Islam adalah sistem hidup yang kaffah—komprehensif—yang menuntut umatnya untuk tunduk secara menyeluruh, bukan parsial.
Sudah terlalu lama kita menyaksikan penderitaan umat tanpa bisa berbuat banyak. Sudah terlalu lama kita berharap kepada lembaga-lembaga internasional yang tak punya nyali melawan zionis atau menegur rezim zalim. Sudah saatnya kita kembali kepada kekuatan yang pernah membebaskan Yerusalem, membangun peradaban Andalusia, dan menyatukan negeri-negeri muslim dari Maroko hingga Indonesia.
Pandangan Islam
Umat Islam harus menjadikan momen Idul Adha ini bukan hanya untuk menyembelih hewan kurban, tapi juga untuk menyembelih ego sektarian, nasionalisme sempit, dan loyalitas palsu pada sistem sekuler. Saatnya umat Islam bangkit, bersatu dalam ketaatan total, dan menapaki jalan menuju tegaknya kepemimpinan Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. Hanya dengan persatuan di bawah panji tauhid, umat Islam akan kembali menjadi satu tubuh yang kuat dan tak tergoyahkan. Itu bukan sekadar utopia. Itu adalah keniscayaan yang pernah terjadi dalam sejarah dan akan kembali terulang, insyaallah.
Oleh: Lia Khusnul Khotimah
(Apoteker)
Views: 18
















