Tinta Media – Peristiwa kebakaran menimpa asrama Dayah (Pesantren) Babul Maghfiroh di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, pada Jumat (31/10/2025). Polisi mengungkap bahwa pelaku adalah salah satu santri yang masih di bawah umur. Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, menjelaskan bahwa pelaku nekat membakar gedung asrama karena kerap dibully oleh teman-temannya. Tekanan mental yang dialami membuatnya ingin membalas dengan membakar barang-barang para pelaku bullying. Kebakaran terjadi sekitar pukul 03.00 WIB di lantai dua asrama yang saat itu kosong.
Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang telah lama menjadi pilihan banyak orang tua untuk membina putra putri mereka agar menjadi anak yang saleh dan salihah, sekaligus mendalami ilmu agama. Namun belakangan ini, berbagai persoalan memilukan justru terjadi di lingkungan pesantren. Tempat yang seharusnya aman dan nyaman, justru ternodai oleh maraknya kasus perundungan.
Kasus kebakaran yang dilakukan santri ini cukup mengejutkan. Bagaimana mungkin seorang santri bisa bertindak nekat membakar gedung pesantren? Setelah diselidiki, motifnya adalah balas dendam kepada teman-temannya yang sering membully. Sungguh miris. Perundungan kini juga masuk ke lembaga pendidikan keagamaan. Santri pelaku pembakaran ternyata korban bullying yang tidak mampu lagi menahan tekanan.
Tekanan mental tersebut membuatnya kehilangan kejernihan berpikir. Yang tersisa hanyalah rasa sakit hati dan emosi, hingga muncul keinginan membalas dendam. Padahal, ini jelas bukan karakter santri seperti yang diharapkan para orang tua. Kasus ini bukan persoalan sepele, melainkan masalah serius yang harus dihentikan.
Maraknya bullying tidak hanya disebabkan faktor individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem secara struktural. Tidak bisa dimungkiri, negara menerapkan sistem kapitalisme sekuler—termasuk dalam pendidikan. Sistem ini berfokus pada pencapaian materi, bukan pembentukan kepribadian Islam. Kehidupan dipisahkan dari agama, sehingga standar halal haram tidak dijadikan tolok ukur.
Akibatnya terlihat jelas hari ini: generasi yang rapuh, mudah emosi, dan cepat putus asa. Pendidikan yang diterima tidak kuat membentuk karakter Islam. Media sosial pun memperburuk keadaan dengan tontonan tak mendidik yang mudah diakses.
Kurikulum pesantren pun tidak luput dari intervensi, seperti program moderasi beragama yang mengaburkan kemurnian Islam, melahirkan pemahaman yang ramah pada ide-ide Barat dan mencampuradukkan yang hak dan batil. Orientasi pendidikan justru bergeser menjadi sekadar mengejar gelar dan skill, bukan mencetak ulama faqih fiddin yang teguh dalam amar makruf nahi mungkar.
Negara juga kehilangan perannya sebagai pengurus rakyat—hanya berfungsi sebagai regulator. Kebijakan yang dibuat banyak berpihak pada kepentingan kapitalis, bukan rakyat. Sanksi hukum pun tidak menimbulkan efek jera sehingga kejahatan makin marak. Inilah kelemahan sistem kapitalisme sekuler yang batil.
Karena itu, dibutuhkan sistem terbaik sebagai pengganti. Islam menawarkan solusi hakiki atas seluruh problem kehidupan, termasuk perundungan. Islam memiliki sistem pendidikan yang berbasis akidah dengan tujuan membentuk kepribadian Islam. Akidah menjadi dasar berpikir dan beramal bagi santri, orang tua, negara, dan masyarakat. Ilmu yang dipelajari tidak hanya teori, tetapi diwujudkan dalam kehidupan. Gelar bukan tujuan utama, melainkan terbentuknya generasi unggul penerus umat.
Sanksi dalam Islam juga tegas dan memberi efek jera sehingga masyarakat berpikir berkali-kali sebelum melanggar syariat. Kekerasan dan perundungan sangat dilarang dalam Islam. Islam mengajarkan untuk saling menyayangi, melindungi dan melakukan amar makruf nahi mungkar.
Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan panas dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Negara dalam Islam menjamin sarana prasarana pendidikan yang memadai, murah, bahkan gratis. Rakyat tidak terbebani biaya seperti hari ini. Dengan konsep pendidikan Islam, kasus perundungan dapat dicegah. Pesantren kembali pada tujuan mulianya: mencetak ulama dan santri berakhlak mulia yang tidak suka menyakiti orang lain.
Semua ini hanya terwujud jika ada negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Karena itu, perjuangan harus terus dilakukan sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Ayo tetap semangat berdakwah dalam barisan dakwah Islam ideologis! Semoga Khilafah segera tegak atas izin Allah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dartem,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 46
















