Tinta Media – Prinsip hidup sekularisme menjadikan generasi muda (gen Z) takut menikah. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Siyasah Institute Iwan Januar dalam program Kabar Petang: Takut Miskin Jadi Faktor Banyak Gen Z Takut Menikah, di kanal YouTube Khilafah News, Senin (22/12/2025).
“Prinsip masyarakat hari ini kan banyak mengambil dari prinsip sekularisme. Menjauhkan agama dari kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketika agama tidak dijadikan prinsip hidup, termasuk dalam persoalan rezeki, maka cara pandang terhadap pernikahan ikut berubah.
“Banyak kalangan muda atau masyarakat secara umum mereka tidak mau menjadikan agama sebagai prinsip hidup termasuk dalam persoalan rezeki bahwasanya dalam agama kita kan Islam diajarkan rezeki dari Allah,” katanya.
Menurut Iwan, dari prinsip sekularisme tersebut kemudian lahir paham hedonisme yang menjadikan kesenangan materi sebagai tujuan hidup.
“Jadi mereka enggak mau pakai agama lalu mereka kemudian mencari kebahagiaan bukan berdasarkan agama,” tambahnya.
Ia menilai, kondisi ini membuat pernikahan dipandang sebagai beban, sementara gaya hidup konsumtif justru dianggap sebagai kesenangan.
“Mereka pilih kesenangan. Ini namanya hedonisme yang berkembang di masyarakat,” jelasnya.
Iwan juga mengkritik pola pikir jangka pendek yang berkembang di kalangan generasi muda yang lebih memilih hubungan pacaran tanpa beban daripada menikah.
“Dan mereka berpikir, ‘Kak, aku kan enggak merugikan orang lain.’ Ya, mereka itulah pikiran pendek. Orang-orang hedonis secara umum pikirannya pendek,” ungkapnya.
*Ancaman Krisis Kependudukan*
Iwan memperingatkan bahwa menurunnya angka pernikahan di kalangan generasi muda dapat menjadi ancaman serius krisis kependudukan.
“Tapi ketika misalnya banyak anak muda tidak menikah, negeri ini terancam punah. Harusnya berpikir ke sana,” tegasnya
Ia mencontohkan sejumlah negara yang telah lebih dulu mengalami krisis kependudukan akibat rendahnya minat menikah.
“Kita sudah lihat negara seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, kemudian juga beberapa negara Eropa seperti Jerman,” katanya.
Iwan menambahkan, fenomena serupa juga mulai melanda negara lain.
“Tadi pagi saya baca Latvia itu juga kekurangan penduduk karena ya berkurangnya minat untuk menikah. Ini kan sudah jadi ancaman besar untuk sebuah banyak negara,” ujarnya.
“Nah, kalau ini dibiarkan anak muda tidak berpikir jangka panjang, tidak menggunakan agama sebagai prinsip hidup dan negara tidak aware, tidak membuat kebijakan, enggak membuat regulasi, enggak membantu ekonomi masyarakat maka tunggu saja Indonesia akan mengalami krisis kependudukan seperti yang sudah dialami negara-negara lain,” pungkasnya.[] Muhar
![]()
Views: 45
















