Tinta Media – Perhimpunan Intelektual Muslim (HILMI) mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menghadapi tantangan ekonomi struktural yang sangat berat.
“Indonesia menghadapi tantangan ekonomi struktural. Utang publik yang disebutkan mencapai kisaran 1000 triliun rupiah (angka yang menggambarkan beban fiskal yang sangat berat, dari APBN 3000 triliun),” ungkapnya dalam siaran pers bertajuk “Intellectual Opinion: Bencana Multi Dimensi dan Solusi Perspektif Islam”, Senin (29/12/2025).
Selain persoalan utang yang terus membesar, HILMI juga menilai program-program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu kritik publik terkait efektivitas dan biaya besar yang dikeluarkan tanpa manajemen risiko yang kuat.
“Utang yang membengkak dan program belanja yang kurang tepat sasaran mencerminkan lemahnya perencanaan ekonomi dan kurangnya akuntabilitas pengeluaran publik,” catat HILMI.
Dalam siaran pers tersebut, HILMI kemudian menegaskan bahwa Islam menawarkan prinsip-prinsip ekonomi yang jelas, antara lain larangan riba, penerapan keadilan fiskal, serta penetapan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas utama (maslahah).
Sebagai rekomendasi, HILMI mengajukan tiga langkah solusi Islamiah. Pertama, restrukturisasi fiskal dengan memprioritaskan penghapusan utang yang tidak produktif serta penerapan pembiayaan yang adil.
Kedua, penerapan sistem pembiayaan berbasis wakaf produktif dan zakat untuk mengurangi beban fiskal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dan ketiga, mendorong transparansi anggaran yang memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, bukan proyek simbolis atau sekadar memenuhi janji kampanye.[] Muhar
![]()
Views: 29
















