Tinta Media – Menanggapi pernyataan Menteri Komdigi (Komunikasi dan Digital) Meutya Hafid bahwa negara harus hadir melindungi anak-anak dari berbagai risiko di platform digital, Jurnalis Senior Joko Prasetyo (Om Joy) menilai bahwa darurat ruang digital itu bukan sekedar persoalan teknologi, tapi ideologi.
“Darurat ruang digital bukan sekadar persoalan teknologi. Ia merupakan persoalan ideologi,” ujarnya kepada Tinta Media, Rabu (17/6/2026).
Karena jelasnya, persoalan ideologi ini mencakup dan menentukan bagaimana teknologi itu digunakan, pun siapa yang mengendalikan, dan untuk tujuan apa teknologi ini diarahkan.
Selain itu, Om Joy mengungkapkan, dalam pandangan kapitalisme digital perhatian manusia dianggap sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan.
“Semakin lama seseorang menatap layar, semakin besar keuntungan yang diperoleh. Semakin sering pengguna mengklik, semakin banyak data yang dapat dikumpulkan dan dimonetisasi,” bebernya.
Karenanya, Om Joy mengatakan bahwa algoritma dalam kapitalisme digital ini tidak dirancang untuk membentuk generasi yang bertakwa.
“Algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin, agar keuntungan terus mengalir,” sambungnya.
Sehingga, tuturnya, disinilah masalahnya, keuntungan dijadikan tujuan utama, sedangkan keselamatan generasi tidak lagi menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, ia menandaskan, anak-anak yang seharusnya menjadi amanah yang harus dijaga, kini menjadi objek pasar dan target bisnis.
“Mereka bukan lagi dipandang sebagai generasi penerus yang harus dijaga, melainkan sebagai target bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan. Inilah wajah kapitalisme digital yang sesungguhnya,” tandasnya.[] Nandang Fathurrohman
![]()
Views: 7
















