Jebakan Lowongan Kerja, Islam Solusi Sempurna

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Indonesia tercatat sebagai salah satu negara di Asia Pasifik yang paling sering terkena penipuan lowongan kerja. Menurut laporan SEEK—induk perusahaan Jobstreet—Indonesia menyumbang sekitar 38 persen dari total kasus di wilayah tersebut (kumparan.com, 23/11/2025). Sementara di tingkat Asia, kasus penipuan lowongan kerja di Indonesia mencapai 62 persen.

Keadaan ini jelas mengkhawatirkan. Selain kerugian finansial, penipuan tersebut dapat membuka jalan bagi tindakan kriminal sistematis seperti TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang). Penelitian SEEK pada periode Juli 2024 hingga Juni 2025 mencatat bahwa para pelaku penipuan semakin terlatih dan mampu menyesuaikan strategi sesuai kondisi tiap negara. Di Indonesia, kategori pekerjaan admin dan office support menjadi sasaran empuk penipuan—sekitar 29 persen iklan yang beredar terbukti palsu.

Motif yang paling sering digunakan adalah penawaran kerja paruh waktu dengan tugas ringan, seperti like atau subscribe konten. Setelah itu, korban dihubungi untuk melakukan deposit atau top-up yang pada akhirnya diraup oleh pelaku penipuan.

Dampak Sistem Timpang

Tingginya angka penipuan lowongan kerja menunjukkan buruknya penataan lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini. Badai PHK yang terus terjadi, ditambah kondisi ekonomi yang melemah, memaksa individu bertahan hidup dengan segala cara. Sayangnya, upaya bertahan tersebut sering kali tidak dibarengi dengan pola pikir yang benar.

Setiap individu berlomba memenuhi kebutuhan pribadi sesuai kemampuan dan kemauan masing-masing. Konsep halal dan benar kerap diabaikan demi bertahan hidup. Tengok saja maraknya penipuan—orang tak lagi peduli pada nilai halal haram, hanya mengejar keuntungan materi dan kepuasan jasadiyah.

Banjir informasi di media sosial turut memperbesar peluang penipuan lowongan kerja. Negara seolah membiarkan, tanpa ketegasan dalam mengatur dan mengamankan ruang digital.

Di sisi lain, pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya membuka lapangan kerja luas, justru dipenuhi tenaga kerja asing dan swasta yang dianggap lebih kompeten dibanding tenaga lokal.

Inilah ketimpangan yang lahir dari sistem rusak yang jauh dari nilai keadilan. Sistem yang hanya mengejar keuntungan materiel dan kepuasan duniawi, sementara nilai ruhiyah dicampakkan. Konsep individualisme semakin mengakar, membuat masyarakat tak peduli terhadap keadaan di sekitarnya. Betapa rusaknya sistem kapitalisme sekuler. Dampaknya makin kronis ketika individu tak menyadari bahwa sistem hari ini adalah sistem destruktif yang terus menggerogoti fitrah kemanusiaan.

Lebih parah lagi, sistem ini melahirkan negara yang lalai dari tugas utamanya. Alih-alih menjaga dan melayani rakyat, negara kini lebih mirip regulator yang menjembatani kepentingan bisnis para oportunis kapitalis.

Islam Menjamin Kehidupan

Islam bukan hanya aturan ibadah, melainkan ideologi yang memancarkan aturan kehidupan. Islam menegaskan bahwa setiap urusan rakyat adalah tanggung jawab negara.

Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin (raa‘in) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya…” (HR. Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829)

Negara adalah perisai bagi rakyat—menjaga keamanan, kepentingan, dan kemuliaan mereka.

Terkait pemenuhan lapangan kerja, negara yang menerapkan sistem Islam memiliki strategi dan mekanisme khas:

Pertama, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan kekayaan dalam negeri. Seluruh potensi dikelola untuk kepentingan rakyat. Negara memfasilitasi dan mengembalikan hasilnya kepada seluruh individu, tanpa campur tangan asing atau swasta dalam pengelolaannya. Dengan konsep ini, ekonomi menguat dan lapangan kerja meluas.

Kedua, negara memberikan edukasi terarah, terutama bagi kepala keluarga sebagai pencari nafkah, agar tidak mudah terjerat penipuan. Negara juga mewajibkan setiap individu mempelajari Islam secara menyeluruh sehingga terwujud kepribadian Islam yang mampu membedakan hak dan batil. Kontrol sosial berjalan efektif, masyarakat saling menasihati dan menjaga.

Ketiga, negara menerapkan sistem hukum dan sanksi tegas untuk menindak para pelaku penipuan sehingga mata rantai kejahatan dapat diputus tuntas.

Islam memberikan jaminan sempurna bagi kehidupan rakyat. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, negara mampu berperan optimal dalam melayani dan mengayomi rakyatnya. Negara amanah, pelayanan pun penuh berkah. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Yuke Octavianty,

Forum Literasi Muslimah Bogor

Loading

Views: 29

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA