Tinta Media – Masjid Al-Aqsa merupakan tempat sangat bersejarah bagi kaum Muslimin, di antaranya yaitu: tempat peristiwa Isra Mikraj Rasulullah ﷺ, kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya Allah Swt. memerintah pemindahan kiblat ke ka’bah di Makkah, dan salah satu dari tiga masjid suci dalam Islam—bersama dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Bagaimanapun Al-Aqsa adalah milik kaum Muslimin. Berdasarkan hal tersebut, sudah menjadi kewajiban seorang Muslim untuk menjaga serta memperjuangkannya. Namun, baru-baru ini terdapat fakta yang mengejutkan bahwa Israel dengan sengaja ingin meruntuhkan Al-Aqsa dengan melakukan penggalian di bawah bangunan tersebut untuk dijadikan sebagai terowongan.
Penasihat Kegubernuran Yerusalem, Al-Rifai, mengatakan bahwa proyek terowongan ini didanai oleh pemerintah Israel yang bertujuan untuk menegaskan Yerussalem adalah Kota Yahudi. Proyek ini membentang sepanjang 600 meter dari Mughrabi Gate Plaza hingga Tembok Barat, yaitu terowongan di lingkungan Silwan bagian selatan Masjid Al-Aqsa yang disebut Jalan Peziarah. Selain itu, masih banyak penggalian terowongan di sekitar Masjid Al-Aqsa yang nantinya akan dibangun kuil sesuai tujuan politik. (detik.com, 22/10/2025)
Penggalian terowongan tersebut jika diteruskan akan menghancurkan beberapa landmark Palestina, seperti rumah-rumah bersejarah dan sekolah kuno. Aktivitas tersebut juga memengaruhi tanah di bawah Masjid Al-Aqsa sehingga dapat meruntuhkan stabilitas fondasinya. Langkah ini jelas menimbulkan kekhawatiran bagi Kota Suci dan identitas Palestina di masa mendatang. (cnnindonesia.com, 25/10/2025)
Hal ini bermakna bahwa Israel sengaja melakukan penggalian dan membangun lorong di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa dengan alasan penelitian arkeologi. Namun, tindakan tersebut diduga bertujuan untuk melemahkan fondasi masjid sehingga dapat merusak landmark bersejarah Islam secara perlahan. Dengan runtuhnya bangunan masjid Al-Aqsa, maka akan memuluskan kendali sepenuhnya Israel terhadap Al-Aqsa. Perencanaan ini membuktikan kejahatan Israel sangat keji dalam memusuhi Islam (menentang agama Allah) dan umat Islam (melakukan genosida). Maka, solusi dua negara tak akan bisa menghentikan kejahatan mereka hingga akhir zaman.
Israel tidak akan pernah berhenti melakukan kezalimannya terhadap warga Palestina hingga mereka berhasil menguasai seluruh wilayahnya. Akibat sekat nasionalisme yang melekat pada negeri-negeri kaum Muslimin di dunia, membuat mereka membisu dan tidak peduli terhadap penjajahan atas saudaranya di Palestina. Ini membuktikan ideologi kapitalisme sekuler telah berhasil melemahkan iman para penguasa negeri Muslim sehingga tidak mampu menghentikan kekejian Zionis selama ini. Solusi yang ditawarkan hanya sekadar ilusi dan makin menguatkan permusuhan mendalam terhadap kaum Muslimin. Dalam artian, jalan yang ditempuh dalam tatanan sekuler kapitalistik tidak berpihak pada umat Islam dan selalu berakhir pada ketidakadilan.
Oleh karena itu, pembebasan Masjid Al-Aqsa harus segera diwujudkan dalam sistem Islam yang membela dan melindungi sehingga mampu mengusir dan menghancurkan segala bentuk penjajahan. Satu-satunya jalan untuk menyatukan keluatan tentara Muslim di dunia, yaitu dengan menegakkan jihad fi sabillah dan Khilafah.
Sebagaimana Allah Taala menegaskan dalam firman-Nya, “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216)
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Jihad wajib atas kalian bersama setiap amir.” (HR. Abu Dawud, Ath-Thabrani, Ad-Daruqutni, dan Al-Baihaqi)
Selain itu, sejarah mencatat perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi dalam membebaskan Masjid Al-Aqsa dari cengkeraman pasukan Salib. Setelah Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun 1099 M, kaum Muslim dibantai secara kejam, dan Masjid Al-Aqsa diubah menjadi gereja besar. Namun, pada tahun 1187 M, melalui kekuatan iman dan pasukan Islam yang dipimpinnya, Salahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem, menghapus simbol-simbol salib, dan mengembalikan kesucian Masjid Al-Aqsa kepada kaum Muslim.
Dengan demikian, penghentian total agresi Zionis hanya dapat dikalahkan melalui kekuatan nyata dari negeri-negeri Muslim. Hanya dukungan politik dan militer yang bersatu dalam bingkai jihad fi sabilillah dibawah komando Khilafah akan mampu menghentikan penjajahan di tanah Palestina. Khilafah bukan sekadar simbol politik, melainkan sebuah kepemimpinan yang memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan.
Dengan begitu, sistem yang diterapkan dalam Daulah Khilafah menjadi satu-satunya solusi yang mampu mengusir penjajah dan menegakkan keadilan, serta melindungi kehormatan dan membuka jalan kemenangan bagi Palestina dan seluruh umat Muslim. Karena, sesungguhnya kemenangan tidak mudah diraih hanya dengan berdoa, melainkan butuh adanya pergerakan dengan dakwah dan perjuangan politik. Sebagaimana firman Allah Swt., “(Yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya, tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami adalah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.“ (QS al-Hajj: 40). Wallahualam bissawab.
Oleh: Mukhlisatun Husniyah,
Muslimah Peduli Generasi
Views: 41
















